Berita Kaltim Terkini
Respons Wagub Kaltim Seno Aji Soal Temuan MBG Basi di Samarinda
Respons Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji soal temuan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) basi di Samarinda, Kaltim.
Penulis: Raynaldi Paskalis | Editor: Muhammad Fachri Ramadhani
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Respons Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji soal temuan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) basi di Samarinda, Kaltim.
Temuan makanan yang diduga tidak layak konsumsi dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di SMAN 13 Samarinda.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur akan melakukan evaluasi menyeluruh, kata Seno Aji.
Temuan ini berdasarkan laporan siswa penerima manfaat program MBG yang mendapati makanan sudah berbau atau dalam kondisi basi.
Baca juga: Pernyataan Resmi Pemerintah Soal Temuan Kasus MBG Basi di Samarinda
Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menyatakan pihaknya telah menindaklanjuti laporan tersebut dengan serius.
"Kami sudah menindaklanjuti dan menghubungi BGN (Badan Gizi Nasional). InsyaAllah, pada hari Senin atau Selasa mendatang, kami akan mengevaluasi seluruh dapur yang ada di Samarinda," ujarnya pada Rabu (17/9/2025).
Program yang seharusnya menjadi pendorong peningkatan gizi siswa ini justru menimbulkan kekhawatiran.
Lauk ayam yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan protein justru dikeluhkan siswa SMA Negeri 13 Samarinda karena mengeluarkan aroma tidak sedap. Bahkan, seorang siswa menemukan ulat dalam sayur capcai yang akan dikonsumsinya.
Seno Aji akan mendalami apakah masalah ini disebabkan oleh kesalahan dalam cara pembungkusan atau proses penyajian yang terlalu terburu-buru.
"Kami akan mengevaluasi semua aspek bersama BGN," tegasnya.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kalimantan Timur turut merespons temuan ini. Unit pelayanan MBG yang bertugas di SMA Negeri 13 Samarinda ialah SPPG Samarinda Pinang.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menilai temuan ini dapat menjadi peringatan dini untuk melakukan perbaikan agar tidak terjadi kasus yang lebih besar di kemudian hari.
"Biasanya, permasalahan seperti ini bermula dari pihak supplier atau cara penyimpanan bahan makanan yang tidak tepat. Karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh," ujarnya.
Baca juga: Viral Surat Pernyataan MBG MTsN Brebes, BGN Bantah Lepas Tangan Jika Ada Keracunan
Jaya telah menginstruksikan tim kesehatan untuk segera menindaklanjuti laporan ini. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Samarinda.
Jaya berharap temuan ini mendapat perhatian serius dari seluruh SPPG untuk mencegah kejadian serupa yang pernah terjadi di daerah lain dan bahkan menyebabkan keracunan makanan massal.
Dia menegaskan akan menerjunkan tim untuk melakukan pemantauan langsung guna mencegah kemungkinan keracunan makanan pada penerima manfaat.
"Kami akan mengirim tim kesehatan untuk turun langsung ke lokasi. Jika sampai terjadi keracunan, masyarakatlah yang akan menjadi korban," pungkasnya.
Baca juga: DPRD Balikpapan Kawal Pelaksanaan MBG, Dorong Penyediaan dan Kualitas Makanan Lebih Selektif
Respons Pemkot Samarinda
Pernyataan resmi pemerintah soal temuan kasus program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) basi di Samarinda, Kalimantan Timur.
Adalah Plt Asisten I sekaligus Ketua Tim Satgas MBG Samarinda, Suwarso yang menegaskan bahwa pihaknya langsung melakukan evaluasi menyeluruh.
Baru-baru ini, muncul kabar kurang menyenangkan terkait Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Samarinda.
Salah satu sekolah penerima manfaat, SMA Negeri 13 Samarinda, dilaporkan mengalami persoalan pada Agustus 2025 lalu lantaran menu MBG yang diterima siswa diduga dalam kondisi basi.
Kejadian ini pun mendapat perhatian serius dari Satgas MBG Kota Samarinda.
Baca juga: Viral Surat Pernyataan MBG MTsN Brebes, BGN Bantah Lepas Tangan Jika Ada Keracunan
Menurut Suwarso, dua hari sebelum kabar tersebut mencuat, Satgas sebenarnya telah mengumpulkan seluruh vendor serta ahli gizi untuk diberikan arahan teknis.
“Sebetulnya sebelum ada info mengarah ke basi itu, dua hari sebelumnya seluruh vendor dan ahli gizi sudah diberikan materi oleh Satgas MBG untuk melakukan pencegahan-pencegahan, termasuk kualitas makanan, packing, batas waktu pengantaran sampai waktu dikonsumsi. Itu diberikan arahan dari pemateri Dinkes, sudah dikumpulkan semua termasuk vendor kurang lebih 13 SPPG,” jelas Suwarso pada TribunKaltim, (17/9).
Hasil identifikasi awal menunjukkan adanya kemungkinan kesalahan pada metode pengemasan yang memicu makanan menjadi cepat basi.
Suwarso pun mengaku telah berkoordinasi langsung dengan pihak sekolah.
Ia membenarkan bahwa sebagian besar makanan memang dalam kondisi yang kurang layak dikonsumsi, sehingga membuat siswa enggan memakannya.
“Akhirnya dievaluasi dan penggantinya sebagian anak-anak ke kantin,” ujarnya.
Baca juga: Dapur Kedua MBG di Bontang Utara Mulai Beroperasi 22 Agustus, Target Awal Dua Ribu Porsi per Hari
Sebagai bagian dari tindak lanjut, sejumlah fasilitas kesehatan diantaranya Puskesmas Remaja dan Temindung bersama pengawas provinsi juga turun ke lapangan untuk memastikan kasus serupa tidak terulang.
Mengingat evaluasi ketat dalam MBG harus dilakukan, mulai dari waktu penyiapan hingga batas maksimal konsumsi, yaitu lima jam setelah makanan selesai dimasak. Suwarso mencontohkan salah satu potensi risiko yang kerap terjadi.
“Contoh seperti nasi goreng, kalau itu terlalu lembek nasinya itu juga berisiko basi, karena masih panas terus menguap dan jika dalam keadaan tersebut langsung ditutup ya pasti gampang basi. Itu juga sudah diberi arahan semua,” ungkapnya.
Ia menegaskan, standar dari Badan Gizi Nasional (BGN) sangat jelas, termasuk syarat luas dapur minimal 400 meter persegi serta alur kerja dapur yang harus higienis.
Setiap tahapan mulai dari bahan masuk, pengolahan, hingga distribusi telah diatur secara rinci.
“Kalau prosedurnya dijalankan dengan benar, harusnya tidak terjadi seperti itu,” tegasnya.
Baca juga: Dari Pilih-pilih Lauk hingga Dibawa Pulang, Begini Cerita MBG di SD Negeri 020 Berau
Lebih jauh, Suwarso mengingatkan pentingnya keseriusan seluruh pihak dalam menyukseskan program nasional ini. Ia menyinggung kasus di daerah lain yang menimpa ratusan siswa, guru, dan tenaga kependidikan akibat keracunan.
“Kalau di Samarinda sudah kita antisipasi supaya itu tidak terjadi, makanya awal-awal kita tindakannya mengundang ahli gizi dan vendor. Jadi kita sarankan pelaksana dapur umum tidak melakukan motif bisnis. Karena ini anak-anak adalah investasi negara, harus kita siapkan, jangan sampai ada spekulasi. Inilah pesan Satgas MBG, serius untuk memberikan gizi ya harus sesuai dengan standar yang ada,” ucapnya tegas.
Selain itu, Suwarso juga mengungkap adanya penyebaran informasi hoaks terkait MBG. Ia pernah menerima gambar yang diedit sehingga lauk dalam kotak makan tampak berbeda dari aslinya.
“Tapi demikian setiap berita yang masuk kita crosscheck supaya infonya akurat. Kalau memang terjadi ya kita tegur untuk diperbaiki, jangan ada spekulasi untuk anak-anak,” jelasnya.
Saat ini, Satgas MBG Kota Samarinda terus melakukan pembinaan terhadap vendor sekaligus menyiapkan pelatihan bagi tenaga dapur dan ahli gizi.
“Tim satgas itu terus selama program berjalan. Kita lakukan pembinaan dan evaluasi, ya sekaligus nanti siapkan pelatihan untuk tenaga vendor dan ahli gizinya kita pantau terus,” pungkas Suwarso.
Baca juga: MBG di Berau Masih Bertahap, Opsi Satelit SPPG Akan Diterapkan di Wilayah Perkampungan
Program Makanan Bergizi Gratis
Program Makanan Bergizi Gratis (PMBG) adalah salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka periode 2024–2029.
Tujuan utama program ini:
Menurunkan angka stunting di Indonesia.
Meningkatkan kualitas gizi anak dan generasi muda.
Memberikan akses makanan sehat dan bergizi kepada kelompok rentan.
Sasaran penerima PMBG:
Ibu hamil dan menyusui.
Balita dan anak-anak usia dini (PAUD).
Siswa SD dan SMP.
Santri di pondok pesantren.
Skema pelaksanaan:
Dilakukan secara bertahap mulai tahun 2025.
Target nasionalnya adalah menjangkau ±83 juta penerima manfaat setiap hari.
Pemerintah menggandeng sekolah, pesantren, puskesmas, dan lembaga masyarakat sebagai mitra distribusi.
Manfaat yang diharapkan:
Membentuk generasi emas 2045 yang sehat dan produktif.
Meningkatkan kualitas pendidikan karena anak-anak lebih fokus belajar dengan asupan gizi cukup.
Memberdayakan petani, nelayan, dan UMKM lokal karena bahan pangan diprioritaskan dari produksi dalam negeri. (Raynaldi Paskalis)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250917-Wakil-Gubernur-Kalimantan-Timur-Seno-Aji-01.jpg)