Sabtu, 9 Mei 2026

Berita Mahulu Terkini

Terancam Punah, Bayi Tabung Jadi Harapan Terakhir Badak Kalimantan

Populasi yang kian menipis dan ketiadaan pejantan membuat masa depan badak Kalimantan berada di ambang kepunahan.

Tayang:
Penulis: Desy Filana | Editor: Miftah Aulia Anggraini
HO/BKSDA
DIAMBANG KEPUNAHAN - Ilustrasi Badak Sumatera dalam kubangan di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Populasi yang kian menipis dan ketiadaan pejantan membuat masa depan badak Kalimantan berada di ambang kepunahan. Kelangkaan ekstrem badak Kalimantan memaksa upaya penyelamatan ditempuh melalui jalur terakhir: teknologi reproduksi berbantu atau assisted reproductive technologies (ART). (HO/BKSDA) 

Ringkasan Berita:
  • Populasi kritis badak Kalimantan tanpa keberadaan pejantan membuat teknologi bayi tabung menjadi satu-satunya opsi penyelamatan.
  • Metode ART dipilih karena perkawinan alami dan inseminasi buatan dinilai berisiko bagi induk dan kualitas genetik keturunan.
  • Pahu dan Pari menjadi tumpuan harapan, dengan upaya lanjutan pengambilan sel telur untuk menjaga keberlanjutan badak Kalimantan, khususnya di Mahakam Ulu.

TRIBUNKALTIM.CO, UJOH BILANG - Populasi yang kian menipis dan ketiadaan pejantan membuat masa depan badak Kalimantan berada di ambang kepunahan.

Dalam kondisi kritis tersebut, teknologi bayi tabung kini menjadi satu-satunya harapan agar subspesies langka ini tidak benar-benar punah dari alam.

Kelangkaan ekstrem badak Kalimantan memaksa upaya penyelamatan ditempuh melalui jalur terakhir: teknologi reproduksi berbantu atau assisted reproductive technologies (ART).

Tanpa keberadaan individu jantan, dua badak betina yang tersisa—Pahu dan Pari—kini menjadi tumpuan harapan agar subspesies ini tetap memiliki peluang berkembang biak.

Baca juga: BKSDA Kaltim Gunakan Teknologi ART untuk Selamatkan Spesies Badak Kalimantan

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Matheas Ari Wibawanto, menjelaskan bahwa perkawinan antara badak Sumatera dan badak Kalimantan secara etika diperbolehkan karena masih berada dalam satu spesies yang sama.

Opsi ini dipertimbangkan di tengah ketiadaan pejantan badak Kalimantan.

Namun, perkawinan alami dinilai sulit dan berisiko.

Ukuran tubuh badak Kalimantan yang lebih kecil dikhawatirkan membahayakan induk jika dipaksa kawin secara langsung.

Baca juga: BKSDA Kaltim Gelar Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Kalimantan di Mahulu

Alternatif inseminasi buatan pun tidak menjadi pilihan utama karena berpotensi menghasilkan keturunan dengan dominasi gen badak Sumatera yang berukuran lebih besar.

“Karena itu, metode bayi tabung menjadi opsi paling aman,” jelas Matheas.

Dalam skema ini, sel telur badak Kalimantan dibuahi dengan sperma badak Sumatera di luar rahim.

Embrio yang terbentuk kemudian dititipkan ke rahim badak Sumatera betina sebagai surrogate mother atau induk pengganti hingga masa kelahiran.

Baca juga: Badak Pari di Mahakam Ulu Terancam Deforestasi Hutan dan Aktivitas Ilegal

Upaya tersebut tidak berjalan mudah.

Matheas mengungkapkan bahwa tiga kali percobaan pengambilan sel telur dari badak Pahu belum membuahkan hasil, dipengaruhi faktor usia dan kondisi kesehatan.

Meski demikian, percobaan keempat tetap akan dilakukan dalam waktu dekat.

Kehadiran badak Pari dari wilayah Mahakam Ulu diharapkan memperluas sumber genetik dan meningkatkan peluang keberhasilan program ART.

Keberadaan dua badak betina ini menjadi krusial dalam menjaga kesinambungan populasi.

“Kami berharap langkah ini menjaga keanekaragaman hayati badak Kalimantan, khususnya di Mahakam Ulu,” pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved