Jumat, 8 Mei 2026

Mogok Kapal Sungai Samarinda

Mogok Kapal karena BBM Subsidi, Buruh Dermaga Samarinda Terancam Tak Bisa Makan

Mogok kapal karena BBM subsidi membuat puluhan buruh dermaga Sungai Kunjang kehilangan nafkah

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUN KALTIM/Gregorius Agung Salmon
TERANCAM KELAPARAN - Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Sungai Kunjang, Muhammad Hatta, mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap nasib 83 anggotanya. Sejak kapal mogok beroperasi pada Sabtu, (24/1/2026) lalu, praktis tidak ada aktivitas ekonomi di pelabuhan. (TRIBUNKALTIM.CO/GREGORIUS AGUNG SALMON) 
Ringkasan Berita:
  • Penghentian kapal Samarinda–Mahulu berdampak ke buruh bongkar muat.
  • Sekitar 83 kepala keluarga kehilangan penghasilan harian.
  • SPSI mendesak pemerintah segera mencairkan BBM subsidi agar aktivitas kembali normal.

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Mogok kapal akibat krisis BBM subsidi Samarinda-Mahulu kini berdampak langsung pada sektor kemanusiaan.

Penghentian operasional kapal angkutan sungai rute Samarinda–Mahakam Ulu (Mahulu) tidak hanya mengancam pasokan pangan di wilayah pedalaman, tetapi juga memutus mata pencaharian puluhan buruh bongkar muat di Dermaga Sungai Kunjang, Samarinda.

Tak hanya mengancam pasokan pangan di pedalaman, mandeknya aktivitas di Dermaga Sungai Kunjang kini mencekik nasib puluhan buruh bongkar muat yang kehilangan mata pencaharian.

20260126_Nahkoda Kapal Mogok di Dermaga Sungai Kunjang Samarinda
MOGOK KAPAL - Sejak kapal mulai mogok pada Sabtu (24/1/2026), aktivitas ekonomi di dermaga praktis berhenti total, meninggalkan para buruh harian tanpa kepastian penghasilan. (TRIBUNKALTIM.CO/GREGORIUS AGUNG SALMON)

Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Sungai Kunjang, Muhammad Hatta, mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap nasib anggotanya. Sejak kapal mogok beroperasi pada Sabtu, (24/1/2026) lalu, praktis tidak ada aktivitas ekonomi di pelabuhan.

Hatta menyebut ada sekitar 83 kepala keluarga yang menggantungkan hidup sepenuhnya dari upah harian bongkar muat barang ke kapal-kapal tersebut.

Baca juga: 15 Kapal Mogok karena BBM Subsidi, Distribusi Samarinda-Mahulu Masuk Fase Kritis

"Dampaknya ya mereka tidak bisa makan. Kami di sini bekerja upah harian. Kalau kapal tersetop sampai besok atau lusa, anggota saya mau makan apa? Tabungan mereka sangat terbatas, paling bertahan satu-dua hari. Ini kondisi yang sangat tidak manusiawi," ujar kepada Tribunkaltim.co pada Senin (26/1/2026) saat ditemui di pelabuhan Sungai Kunjang.

Hingga saat ini, tercatat 15 dari 28 kapal sudah tambat dan berhenti beroperasi. Dermaga yang biasanya sibuk dengan aktivitas bongkar muat sembako kini sepi.

Truk-truk pengangkut beras dan kebutuhan pokok menuju hulu Mahakam hanya terparkir menunggu kepastian.

Ia mendesak pemerintah segera mencairkan subsidi BBM bagi kapal angkutan agar aktivitas dermaga kembali normal.

"Harapan kami hanya satu, teman-teman kapal dikasih BBM subsidi supaya muat lagi, kerja lagi teman-teman ini," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved