Berita Kutim Terkini
Program Pelayanan Kesehatan Bergerak di Kutim, Sasar 4 Desa di Kecamatan Sandaran
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Kesehatan meluncurkan program Pelayanan Kesehatan Bergerak
Penulis: Nurila Firdaus | Editor: Nur Pratama
TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA – Masalah aksesibilitas masih menjadi tantangan pelik bagi warga di wilayah pesisir Kabupaten Kutai Timur (Kutim) seperti Kecamatan Sandaran.
Diakui oleh Plt Camat Sandaran, Mulyadi bahwa selama ini, mayoritas warga Sandaran justru mencari pengobatan ke wilayah Sangkulirang dibandingkan harus menuju pusat kecamatan sendiri atau ke ibu kota kabupaten di Sangatta.
Hal itu disebabkan akses jalan yang belum memadai dari warga di desa-desa menuju Puskesmas Sandaran.
"Selama ini masyarakat lebih banyak berobat ke Sangkulirang karena jaraknya dinilai lebih dekat dibanding harus menuju pusat kecamatan atau kabupaten," ujar Mulyadi, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: Data 10 Ribu Anak Tidak Sekolah di Kutim Divalidasi Ulang, Pemkab Gandeng PKK hingga Ketua RT
Sebagai solusi atas kendala tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Kesehatan meluncurkan program Pelayanan Kesehatan Bergerak.
Untuk tahun 2026, program jemput bola ini menyasar empat desa strategis di Kecamatan Sandaran, yakni :
- Desa Marukangan,
- Susuk Tengah,
- Susuk Dalam, dan
- Susuk Luar.
Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kutim, Triana Nur, bahwa wilayah Susuk dan Sandaran masih memiliki rapor merah pada beberapa indikator kesehatan dasar yang memerlukan penanganan serius dan segera dari pemerintah daerah.
Triana membeberkan bahwa tantangan nyata yang dihadapi saat ini adalah masih tingginya angka kematian ibu (AKI), angka kematian anak (AKA), serta angka prevalensi stunting yang perlu ditekan secara masif di wilayah pesisir tersebut.
"Kegiatan ini bertujuan menurunkan angka kematian ibu dan anak serta mengurangi stunting di wilayah Sandaran," ucapnya.
Program tersebut menghadirkan layanan medis kelas wahid dengan memboyong sejumlah dokter spesialis langsung ke tengah pemukiman warga.
Para spesialis yang terlibat mencakup dokter spesialis kandungan (obgyn), spesialis anak, spesialis bedah, hingga dokter spesialis penyakit dalam.
Layanan ini sejatinya merupakan pengembangan dari inovasi sebelumnya, yakni program Rumah Sakit Kapal yang telah diresmikan pada tahun lalu.
Meski RS Kapal telah beroperasi, pemerintah mengidentifikasi masih adanya zona buta atau wilayah yang tidak bisa disandari kapal besar, sehingga pelayanan darat tetap harus dioptimalkan.
Kehadiran tim medis ini disambut antusias oleh warga yang selama ini kesulitan bertemu dokter spesialis tanpa harus melakukan perjalanan panjang selama berjam-jam melewati jalur laut atau darat yang rusak.
"Kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu pemerintah hadir memberikan pelayanan yang cepat, mudah, dan gratis," tambahnya. (*)
| Data 10 Ribu Anak Tidak Sekolah di Kutim Divalidasi Ulang, Pemkab Gandeng PKK hingga Ketua RT |
|
|---|
| Pemkab dan DPRD Kutim Sahkan Perda Rencana Pembangunan Industri 2025-2044, Pacu Hilirisasi |
|
|---|
| Kepala Disperindag Kutim Respons soal Kelangkapan BBM Jenis Pertamax, Distribusi ke Daerah Tersendat |
|
|---|
| Ancam Keuangan Daerah, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman Curhat ke Wamendagri soal Pemangkasan TKD |
|
|---|
| Indeks Perkembangan Harga di Kutim Awal Mei Turun Jadi 1,63 Poin, TPID Gencarkan Pasar Murah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260507_Wakil-Bupati-Kutim-Mahyunadi.jpg)