Tribun Batam
Roti Manis untuk Sang Penguasa
Tribun Kaltim - Sabtu, 28 Januari 2012 12:51 WITA
Share |
Oleh: Mastur Sabila, Warga Samboja Kukar

*Curhat Warga Wonotirto Samboja

SAYA lahir di Samboja, besar dan tumbuh di Samboja. Melalui tulisan ini saya ingin membandingkan Samboja beberapa tahun lalu dengan kondisi sekarang. Kalau beberapa tahun lalu hutan masih terjaga, masyarakat masih aktif menggarap sawahnya, tanpa ada pencemaran lingkungan, tanpa takut panennya jelek dan hasil padinya pun tidak kalah bagusnya dengan daerah lain. Bahkan pernah jadi salah satu lumbung padi unggulan untuk Kabupaten Kutai Kartanegara.

Dulu, hutan masih terjaga. Datangnya musim hujan juga tidak memunculkan kekhawatiran akan datangnya banjir besar. Keadaan itu bertahun tahun terjaga dengan baik tanpa ada gangguan, walaupun keadaan ekonomi kami biasa-biasa saja. Tapi kami senang hidup aman tanpa ada rasa takut akan bencana.

Tetapi setelah dua atau tiga tahun belakang ini, masuknya aktivitas penambangan oleh perusahaan batu bara di wilayah kami membuat hancur alam. Saya khawatir dengan kondisi Samboja kedepannya. Hutan gundul, sawah pun ditambang dan tidak bisa ditanami lagi. Kebun buah hancur dirambah "sang penguasa pertambangan".

Hujan sedikit saja sudah mengakibatkan banjir dimana mana. Begitu saktinya Surat Izin Usaha Pertambangan (SIUP),bahkan aparat dari kecamatan, kelurahan, dan aparat kepolisian tidak bisa berbuat apa-apa.

Kalau kami sedang jalan di poros Balikpapan-Handil, kami harus mengalah dengan mobil perusahaan batu bara yang besar dan menimbulkan banyak debu ketika mereka lewat. Sungguh kami benar-benar terganggu. Kami tidak bisa menikmati jalan sore dengan anak-anak kami, karena jalan-jalan poros sudah dikuasai mobil mobil hauling batu bara. Jalan jalan di kampung pun sudah jadi hilir mudik mobil perusahaan. Di malam hari, kami sudah terbiasa dengan suara bising alat-alat perusahaan yang mengganggu istirahat kami.

Banyak kasus atau konflik dengan warga atau lingkungan yang terjadi akibat tambang batu bara. Tapi tidak pernah ada penyelesaian dan selalu saja dimenangkan perusahaan. Di mata kami, mereka begitu bebas memorak-porandakan alam dan hancurlah lingkungan kita.

Ada apa dibalik semua itu? Mengapa tidak ada yang bisa menghentikan mereka? Apakah karena ada "Roti Manis" yang dibagi bagi ke semua aparat pemerintah? Apakah karena mereka ikut menikmatinya sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan masyarakat yang jadi korbannya?

Saya tinggal di Kelurahan Wonotirto Kecamatan Samboja yang sudah bertahun-tahun hidup dan tinggal di Samboja. Beberapa waktu lalu, salah satu perusahaan batu bara hendak menambang bukit di belakang rumah kami. Padahal bukit tersebut menyimpan banyak cadangan air yang digunakan untuk warga di daerah kami.


Selama bertahun-tahun kami tidak pernah kekurangan air bersih, bahkan saat kemarau panjang. Kami khawatir, kalau bukit itu ditambang, segala upaya mencari nafkah yang kami gantungkan dengan kebutuhan air bersih, sirna. Bagaimana dengan masa depan anak cucu kami.

Kami masyarakat Kelurahan Wonotirto sudah bertekad apapun yang terjadi akan selalu menjaga bukit itu walaupun "sang pengusaha tambang" tiap hari selalu berusaha mendapatkan izin warga dengan berbagai cara.

Godaan mereka sungguh kuat. Bahkan beberapa di antara kami ada yang berbalik tak sejalan dengan kami, mengizinkan penambangan itu. Tampaknya iming-iming imbalan rupiah yang didapatkan jika penambangan dilakukan telah menutup hati mereka.

Semoga saja, kami bisa bertahan. Semoga pemerintah, para pemegang amanah rakyat bisa terbuka hatinya, tidak selalu dan harus sang pemilik modal yang dibela. Kemana lagi kami harus berlindung kalau tidak mereka, Ibu Bupati Kutai Kartanegara dan Pak Gubernur Kaltim. Semoga mereka membantu kami. Semoga Allah SWT mendengar doa kita dan selalu melindungi kita. Amin. (*)

Editor : Fransina
Sumber : Tribun Kaltim