Mewujudkan Semangat Esemka di Samarinda
Tribun Kaltim - Jumat, 9 Maret 2012 18:27 WITA
Oleh Nursobah
Anggota DPRD Samarinda
TRIBUNKALTIM.co.id - Memperhatikan cara pejabat Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Solo menyambut kami dari Kaltim dan berbagai tami dari daerah lain minggu lalu cukup mengesankan. Umbar sumeh (baca:senyum) yang natural dan tampilan pakaian yang sederhana dengan baju khas Solo lengkap dengan blankon tetap memberikan pesan kuat bahwa kesederhanaan sangat tidak identik kehinaan dan minim prestasi.
Justru "faceview" khas Solo yang kata orang bahwa "jendolan" di belakang blankon banyak memberi makna. Kesantunan yang ditampilkan meski mungkin ada banyak persoalan di belakangnya, tetap pelayanan terbaik yang dikedepankan. Ini yang baru saya pahami dari seorang ungkapan sopir taksi di Pulau Lombok yang terkenal dengan Pantai Senggigi yang indah.
Bahwa orang Jawa itu hampir sulit marah sehingga bisa menjadi perekat. Bagaimana mau marah. Wong tampilane ae sumeh terus karo wong," ujar supir itu yang juga mengumbar senyum sepanjang mengobrol menemani saya berkeliling Pantai Senggigi kala itu.
Kembali ke kunjungan kami ke Solo. Saya menduga yang berbicara di sebelah Wakil Ketua DPRD Samarinda adalah seorang kepala dinas. Ternyata seorang Kabid Pendidikan Menengah Surakarta. Mengawali sambutan yang ramah dan sederhana membuat saya dan beberapa rekan penasaran.
Padahal kita sangat berkeinginan menggali info dan ilmu. Apa sih trik dan kiat Solo begitu Indonesia? Bagaimana mereka merancang kurikulum? Desain apa yang ingin disiapkan bagi siswa di Solo? Saya terperanjat karena bukan hanya pertanyaan keingintahuan saya yang tidak dijawab secara verbal apalagi tuntas.
Tapi beberapa pertanyaan rekan-rekan anggota dewan tidak ditanggapi dengan gamblang. Perwakilan Kepala Dikpora Surakarta itu hanya mengatakan, "nanti saja". Biar kepala sekolah SMK yang bercerita. Sebab suksesnya mobil Esemka ada disana, jawab sang pejabat berkelit. Meski sedikit "gerutu" pertemuan pagi itu ditutup dan dilanjutkan foto-foto sebagai kenangan.
Kesan santun tidak merasa sebagai pionir, membuat saya dan rekan-rekan penasaran. Saya berpendapat. Model PNS seperti ini gak mungkin "gayanya sendiri" pasti ene sing digugu dan ditiru, batin saya. Nyaris info tentang kesuksesan Dikpora tidak kita dapat, dan kesan sederhana penuh kesantunan sangat kuat di seluruh isi ruang kantor.
Mejanya yang tetap khas zaman dulu. Terbuat dari kayu jati coklat tanpa di cat dan warna krem dinding ruang berukuran sekira 3x6 yang penuh lemari berisi piala-piala ajang nasional dan. Kami lalu diantar dua staf Dikpora yang cuma berkendara mobil Suzuki Katana lawas warna merah. Saya membatin. Ya Allah, bisakah Samarinda seperti mereka ya. Tampilan biasa tapi prestasi luar biasa. Semoga Samarinda bisa segera memulai.
Saat kami tiba di SMK 2 Surakarta suasana bersih sekolah sudah mengindikasikan kredibilitas penghuninya. Hampir 2.000 siswa dan 244 guru dan tenaga pendidik yang ada di dalamnya begitu tenang. Tidak ada hiruk pikuk. Sekolah ini juga ramah lingkungan.
Hebatnya lagi, sekolah ini menggunakan teknologi "fingerprint" sebagai bukti absensi. Kepala sekolah mengatakan, dulu ada siswa yang merusak namun bisa diketahui pelakunya lantaran ada kamera CCTV yang tersebar di banyak sudut sekolah.
Saya lalu teringat prestasi yang pernah ditorehkan beberapa sekolah di Samarinda. Seperti SMK Negeri 7 Samarinda yang telah mampu merakit laptop dan LCD proyektor, SMK Negeri Airlangga yang rajin juara nasional dalam bidang software dan pemrograman komputer dan siswa SMK Negeri 6 yang langganan ikut program sertifikasi perkapalan ke Jepang
Dibalik kesuksesan ini, saya melihat Kepala SMK 2 Surakarta Pak Susanta yang selalu memotivasi siswa. Beliau bilang, anak-anak di sini selalu kita datangkan motivator-motivator handal muda agar juga berjiwa enterpreneur. Susanta ternyata adalah pencetus ide koneksitas antar 4 sekolah untuk masing-masing memunculkan akselerasi perwujudan Esemka. Program perakitan mobil ini sendiri ternyata baru hadir tahun 2009, dan awal 2012 dimunculkan.
Adalah murni ide Walikota Jokowi supaya sekolah di Surakarta dapat suntikan dana secara nasional. "Opo yo carane supaya wong pusat ngerti? Yo wis aku pake dewe. Nekat ora popo. Aku sing tanggung jawab. Sing laine belakangan" ujar Susanta menirukan kata-kata Jokowi.
Kebetulan rombongan DPRD datang sebelum mobil bergerak menuju Tangerang untuk uji emisi. Kami pun berharap, program semacam Esemka ini bisa lahir di Samarinda. Atau paling tidak Esemka (baca: semangat kreatif) bisa lahir di Samarinda.
Menurut saya hal itu bisa terwujud, dengan catatan pemimpin Samarinda harus selalu memotivasi seluruh guru, siswa, tenaga pendidik untuk berkarya dengan memberi garansi dukungan finansial. Kedua, guru dan kepala sekolah secara bersama melakukan kerjasama dengan sekolah sebidang termasuk melakukan kerja sama industri sebagaimana United Tractor sudah mendukung sebagai leader dewan industri di Samarinda.
Ketiga, seluruh perusahaan di Samarinda harus memberi perhatian serius terhadap perkembangan kemampuan siswa dan pelajar di Samarinda untuk terwujudnya industri kreatif yang berkembang sebagai persiapan pertumbuhan ekonomi di Samarinda yang menjadi kota jasa, industri dan perdagangan dan pemukiman berwawasan lingkungan. (*)
Anggota DPRD Samarinda
TRIBUNKALTIM.co.id - Memperhatikan cara pejabat Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Solo menyambut kami dari Kaltim dan berbagai tami dari daerah lain minggu lalu cukup mengesankan. Umbar sumeh (baca:senyum) yang natural dan tampilan pakaian yang sederhana dengan baju khas Solo lengkap dengan blankon tetap memberikan pesan kuat bahwa kesederhanaan sangat tidak identik kehinaan dan minim prestasi.
Justru "faceview" khas Solo yang kata orang bahwa "jendolan" di belakang blankon banyak memberi makna. Kesantunan yang ditampilkan meski mungkin ada banyak persoalan di belakangnya, tetap pelayanan terbaik yang dikedepankan. Ini yang baru saya pahami dari seorang ungkapan sopir taksi di Pulau Lombok yang terkenal dengan Pantai Senggigi yang indah.
Bahwa orang Jawa itu hampir sulit marah sehingga bisa menjadi perekat. Bagaimana mau marah. Wong tampilane ae sumeh terus karo wong," ujar supir itu yang juga mengumbar senyum sepanjang mengobrol menemani saya berkeliling Pantai Senggigi kala itu.
Kembali ke kunjungan kami ke Solo. Saya menduga yang berbicara di sebelah Wakil Ketua DPRD Samarinda adalah seorang kepala dinas. Ternyata seorang Kabid Pendidikan Menengah Surakarta. Mengawali sambutan yang ramah dan sederhana membuat saya dan beberapa rekan penasaran.
Padahal kita sangat berkeinginan menggali info dan ilmu. Apa sih trik dan kiat Solo begitu Indonesia? Bagaimana mereka merancang kurikulum? Desain apa yang ingin disiapkan bagi siswa di Solo? Saya terperanjat karena bukan hanya pertanyaan keingintahuan saya yang tidak dijawab secara verbal apalagi tuntas.
Tapi beberapa pertanyaan rekan-rekan anggota dewan tidak ditanggapi dengan gamblang. Perwakilan Kepala Dikpora Surakarta itu hanya mengatakan, "nanti saja". Biar kepala sekolah SMK yang bercerita. Sebab suksesnya mobil Esemka ada disana, jawab sang pejabat berkelit. Meski sedikit "gerutu" pertemuan pagi itu ditutup dan dilanjutkan foto-foto sebagai kenangan.
Kesan santun tidak merasa sebagai pionir, membuat saya dan rekan-rekan penasaran. Saya berpendapat. Model PNS seperti ini gak mungkin "gayanya sendiri" pasti ene sing digugu dan ditiru, batin saya. Nyaris info tentang kesuksesan Dikpora tidak kita dapat, dan kesan sederhana penuh kesantunan sangat kuat di seluruh isi ruang kantor.
Mejanya yang tetap khas zaman dulu. Terbuat dari kayu jati coklat tanpa di cat dan warna krem dinding ruang berukuran sekira 3x6 yang penuh lemari berisi piala-piala ajang nasional dan. Kami lalu diantar dua staf Dikpora yang cuma berkendara mobil Suzuki Katana lawas warna merah. Saya membatin. Ya Allah, bisakah Samarinda seperti mereka ya. Tampilan biasa tapi prestasi luar biasa. Semoga Samarinda bisa segera memulai.
Saat kami tiba di SMK 2 Surakarta suasana bersih sekolah sudah mengindikasikan kredibilitas penghuninya. Hampir 2.000 siswa dan 244 guru dan tenaga pendidik yang ada di dalamnya begitu tenang. Tidak ada hiruk pikuk. Sekolah ini juga ramah lingkungan.
Hebatnya lagi, sekolah ini menggunakan teknologi "fingerprint" sebagai bukti absensi. Kepala sekolah mengatakan, dulu ada siswa yang merusak namun bisa diketahui pelakunya lantaran ada kamera CCTV yang tersebar di banyak sudut sekolah.
Saya lalu teringat prestasi yang pernah ditorehkan beberapa sekolah di Samarinda. Seperti SMK Negeri 7 Samarinda yang telah mampu merakit laptop dan LCD proyektor, SMK Negeri Airlangga yang rajin juara nasional dalam bidang software dan pemrograman komputer dan siswa SMK Negeri 6 yang langganan ikut program sertifikasi perkapalan ke Jepang
Dibalik kesuksesan ini, saya melihat Kepala SMK 2 Surakarta Pak Susanta yang selalu memotivasi siswa. Beliau bilang, anak-anak di sini selalu kita datangkan motivator-motivator handal muda agar juga berjiwa enterpreneur. Susanta ternyata adalah pencetus ide koneksitas antar 4 sekolah untuk masing-masing memunculkan akselerasi perwujudan Esemka. Program perakitan mobil ini sendiri ternyata baru hadir tahun 2009, dan awal 2012 dimunculkan.
Adalah murni ide Walikota Jokowi supaya sekolah di Surakarta dapat suntikan dana secara nasional. "Opo yo carane supaya wong pusat ngerti? Yo wis aku pake dewe. Nekat ora popo. Aku sing tanggung jawab. Sing laine belakangan" ujar Susanta menirukan kata-kata Jokowi.
Kebetulan rombongan DPRD datang sebelum mobil bergerak menuju Tangerang untuk uji emisi. Kami pun berharap, program semacam Esemka ini bisa lahir di Samarinda. Atau paling tidak Esemka (baca: semangat kreatif) bisa lahir di Samarinda.
Menurut saya hal itu bisa terwujud, dengan catatan pemimpin Samarinda harus selalu memotivasi seluruh guru, siswa, tenaga pendidik untuk berkarya dengan memberi garansi dukungan finansial. Kedua, guru dan kepala sekolah secara bersama melakukan kerjasama dengan sekolah sebidang termasuk melakukan kerja sama industri sebagaimana United Tractor sudah mendukung sebagai leader dewan industri di Samarinda.
Ketiga, seluruh perusahaan di Samarinda harus memberi perhatian serius terhadap perkembangan kemampuan siswa dan pelajar di Samarinda untuk terwujudnya industri kreatif yang berkembang sebagai persiapan pertumbuhan ekonomi di Samarinda yang menjadi kota jasa, industri dan perdagangan dan pemukiman berwawasan lingkungan. (*)
Editor : Fransina
Sumber : Tribun Kaltim