Kisah Manusia Perahu

Manusia Perahu Berdatangan ke Kaltim sejak 2010

Keberadaan nelayan asing yang masuk secara ilegal ke Kabupaten Berau sebenarnya bukan persoalan baru

Manusia Perahu Berdatangan ke Kaltim sejak 2010
TRIBUN KALTIM/GEAFRY NECOLSEN
Warga asing di Tanjung Batu, Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Keberadaan nelayan asing yang masuk secara ilegal ke Kabupaten Berau sebenarnya bukan persoalan baru. Mereka sudah terdeteksi oleh Pemkab Berau sejak tahun 2010 lalu. Saat itu, Pemkab Berau telah mengambil langkah sendiri dengan menamping orang asing di Dinas Sosial.

Namun, saat itu, Pemkab Berau mendapat kritikan tajam dari Kementerian Hukum dan HAM, karena dianggap melangar HAM. Pasalnya, menurut kebijakan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) secara hukum, manusia perahu diakui keberadaannya. (Baca juga: Mereka Barter Tangkapan Ikan dengan Tepung)

Saat itu, ada 103 manusia perahu yang ditemukan dan ditampung di Dinas Sosial. Namun berdasarkan penyelidikan saat itu, diperkirakan ada lebih dari 200 orang asing yang tinggal di wilayah perairan Kabupaten Berau, khususnya yang berada di sekitar laut Batu Putih.

Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan, Sujadi, mengaku telah mendeteksi keberadaa orang yang masuk secara ilegal, namun tidak dapat berbuat banyak. “Karena kalau menyangkut orang asing yang masuk wilayah perbatasan, ya itu menjadi tugas penjaga perbatasan, dalam hal ini TNI Angkatan Laut,” kata Sujadi, Senin (24/11/2014).

Menurut Sujadi, TNI lebih berperan mengamankan perbatasan dengan negara lain. “Karena ini menyangkut perbatasan, itu menjadi tanggung jawab TNI. Kami (Dinas Kelautan dan Perikanan) hanya sebatas mengurusi sumber daya yang ada di laut yang ada di Kabupaten Berau saja,” tegasnya.
Pada tahun 2011, Pemkab Berau juga kembali menemukan orang asing yang tak jelas identitasnya, namun tidak ada data lengkap mengenai keberadaan orang asing saat itu.

Catatan TRIBUNKALTIM.CO, pada 2012 lalu, masyarakat melaporkan keberadaan orang asing yang masuk secara ilegal. Tepatnya pada bulan Desember 2012, warga Pulau Derawan melaporkan keberdaan nelayan asing, namun tidak ada tindakan yang diambil.

Lalu pada 27 maret 2013, pihak imigrasi menemukan 1 orang warga Filipina yang berprofesi sebagai nelayan dan terdampar di Pulau Maratua. Orang asing itu dideportasi karena pihak Filipina mengakui kewarganegaraannya.

Kemudian pada 23 juli 2013, masyarakat dan pihak berwenang kembali menemukan12 orang asing tanpa identitas, namun dikembalikan ke laut. Bulan Januari 2014, ada 7 orang asing yang masuk perairan Berau dan mengaku dari Malaysia, namun pihak Imigrasi menemukan dokumen resmi yang dikeluarkan oleh Negara Malysia yang dengan tegas membantah mereka adalah warga Malysia. Mereka sempat di tampung di detensi imigrasi selama 1 bulan sebelum akhirnya dikembalikan ke laut.

Berselang satu bulan, pada Januari 2014, pihak imigrasi kembali menemukan 7 orang warga Filipina yang terdampar di Pulau Maratua. Mereka terdampar karena kapal yang mereka tumpangi pecah, saat itu ada 1 balita yang meninggal karena kelelahan dan dimakamkan di Berau.
Dari tujuh orang asing itu, salah satunya memiliki tanda pengenal berupa paspor, ketujuh orang tersebut dideportasi ke Filipina setelah duta besar Filipina yang ada di Manado mengakui keberadaan mereka.

Pada 28 Oktober 2014, petugas juga menemukan 86 orang asing tanpa identitas di perairan Kecamatan Batu Putih, saat itu, petugas hanya melakukan pendataan saja sebelum kemudian di lepaskan kembali.

Kapolsek Tanjung Batu, Iptu Ismal Wahid mengatakan, pihaknya menduga, sebagian besar warga asing yang saat ini ditampung di Lapangan Bulalung adalah orang yang sama yang ditemui sejak tahun 2010 hingga 2014 ini.

“Setelah kita data ulang, ternyata ada beberapa orang yang sama yang sempat kita data tahun-tahun sbelumnya,” kata Ismail.
Dia juga mengatakan, saat ini, jumlah orang asing yang ada di Tanjung Batu hingga Senin (24/11) mencapai 544 orang, atau bertambah 18 orang dari data sehari sebelumnya. (*)

Ikuti perkembangan berita lainnya dengan Like Facebook TRIBUN KALTIM serta follow @tribunkaltim

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved