Kisah Manusia Perahu
Manusia Perahu Suka Akting Wajah Memelas
Mereka kerap memasang wajah memelas dan hanya menceritakan kisah sedih untuk mendapat simpati dari masyarakat.
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Tidak hanya kondisi manusia perahu yang memprihatinkan, kapal yang selama ini menjadi tempat tinggal ratusan warga asing itu tak kalah mengenaskan. Pengamatan TRIBUNKALTIM.CO, di Pelabuhan Tanjung Batu, Derawan, Berau, kapal-kapal milik orang asing itu sudah tenggelam.
Diberitakan sebelumnya, aparat gabungan TNI, Polri dan Kementerian Kelautan dan Perikanan mengamankan 153 kapal milik manusia perahu yang diduga asal Malaysia. Kapal yang terbuat dari kayu itu sebagian besar memang sudah mulai lapuk.
Belasan kapal di antaranya sudah mulai tenggelam. Josi, salah seorang manusia perahu mengatakan, bersama ratusan manusia perahu lainnya sangat bergantung dengan kapal.
"Kapal tidak cuma menjadi rumah kami, kapal juga menjadi alat untuk kami mencari nafkah," kata Josi yang diterjemahkan warga Tanjung Batu yang mengerti bahasa Suku Bajau Palau.
Josi mengatakan, kapal-kapal yang ditumpangi bersama keluarga lainnya memang sudah berusia puluhan tahun. "Saya lupa, tapi rasanya sudah puluhan tahun, sejak saya belum punya anak sampai anak saya sebesar ini," kata Josi sambil menunjuk anak berumur sekitar 10 tahun.
Kapal-kapal kayu itu, kata Josi memiliki daya jelajah tinggi. Beberapa kapal pernah digunakan memasuki wilayah Filipina dan Malaysia. Meski kapal-kapal itu terlihat sederhana, namun ada kapal yang menggunakan mesin mobil truk.
Di dalam kapal, TRIBUNKALTIM.CO, menemukan perkakas dapur seperti kompor gas dan tabung gas elpiji ukuran 14 kilogram. Melihat perlengkapan modern itu, membuat aparat keamanan tidak percaya begitu saja kalau mereka tidak bisa berbahasa Melayu yang mirip dengan bahasa Indonesia.
Untuk mendapatkan perkakas dapur itu, tentu diperlukan komunikasi yang baik. "Waktu pertama kali saya ketemu mereka di Balikukup, manusia perahu itu sempat menawarkan ikan pari seberat 50 kilogram ke saya. Mereka bilang mau dijual, mereka bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Tapi begitu sampai sini (Tanjung Batu) mereka pura-pura bodoh. Pura-pura tidak tahu apa-apa dan tak bisa bahasa Indonesia," ungkap Dandi Tanjung Redeb, Ahmad Hadi Al Jufri.
Warga dan aparat keamanan menduga, manusia perahu ini pandai berakting. Mereka kerap memasang wajah memelas dan hanya menceritakan kisah sedih untuk mendapat simpati dari masyarakat.
Ada kisah menarik, saat Wakil Bupati Berau Ahmad Rifai berdialog dengan salah satu manusia perahu. "Sehari makan berapa kali?" tanya Rifai. "Satu kali pak," jawab orang asing itu. Wabup Rifai langsung memanggil salah satu staf Dinas Sosial, belum sempat mengkonfirmasi, orang asing itu buru-buru meralat ucapannya. "Kami dapat makan sehari dua kali," ujarnya singkat. (*)
Ikuti perkembangan berita lainnya dengan Like Facebook TRIBUN KALTIM dan follow @tribunkaltim