Putri Gus Dur: Para Tokoh Agama Dimanfaatkan Orang Jahat
Menurut Koordinator Jaringan Gus Durian Nasional, Alissa Wahid, saat ini posisi tokoh agama dan pengelola yayasan pesantren sangat rentan.
Laporan Wartawan Tribun Kaltim Budhi Hartono
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Koordinator Jaringan Gus Durian Nasional, Alissa Qotrunnada Munawaroh yang akrab disapa Alissa Wahid, menceritakan modus baru korupsi yang memanfaatkan tokoh-tokoh agama di pondok pesantren. Modus ini dilakukan oknum sebagai alumni pondok pesantren.
Alissa merupakan putri pertama Presiden RI ke 4 yang akrab disapa Gus Dur.
Kini ia memiliki kepedulian terhadap tokoh agama dan pesantren-pesantren di Indonesia yang belakangan menjadi sasaran menerima bantuan yang berujung terseret korupsi.
BACA JUGA:
"Sekarang ada modus baru lagi. Modusnya begini, kyai ditelepon alumni pondok. Kemudian si alumni pondok mengatakan, saya mendapatkan bantuan, misalnya Rp 1 miliar. Sebetulnya untuk bantuan pondok-pondok di luar Jawa. Sebetulnya karena saya yang urus semuanya, saya punya hak Rp 200 juta," tutur Alissa.
Wanita yang mengenakan setelan gamis warna krem di sebagai pembicara Halaqah Siasat Pesantren dan Nahdliyyin dalam Menghindari Jebakan Korupsi, di Universitas Nahdlatul Ulama, di Jalan KH Harun Nafsi, Samarinda Seberang, Selasa (5/4/2016).
Ia melanjutkan kisah nyata yang terjadi di luar Pulau Jawa. Modus itu, membagikan dana bantuan ke beberapa pesantren, tetapi pembagian melalui rekening yayasan pondok pesantren pertama.
"Ini karena saya alumni pondok, tetapi saya minta tolong ditransfer semua ke pondok. Kemudiaan dari yayasan ditransfer ke pondok A, B, dan C. Sehingga tidak ada transaksi dari orang tersebut (alumni pondok pesantren) ke pondok-pondok pesantren itu," paparnya.

Halaqah Siasat Pesantren dan Nahdliyyin dalam Menghindari Jebakan Korupsi, di Universitas Nahdlatul Ulama, di Jalan KH Harun Nafsi, Samarinda Seberang, Selasa (5/4/2016). ( tribunkaltim.co/BUDHI HARTONO)
Modus bantuan ke pesantren merupakan cara memengaruhi kebijakan dengan melibatkan tokoh agama atau pondok pesantren.
"Buat saya bukan nilainya, tapi bagaimana orang-orang ini begitu jahatnya memanfaatkan para tokoh agama. Karena orang-orang ini mendapatkan pengaruh dengan cara memberikan bantuan," tegas Alissa.
Menurut dia, saat ini posisi tokoh agama dan pengelola yayasan pesantren sangat rentan.
"Ini bahaya sekali kalau kita tidak tahu. Dia tidak ikut mengelola uangnya dan mereka diminta bertanggung jawab dan dia tanda tangan, dan dia dipenjara. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/alissa-gus-dur_20160405_223138.jpg)