TribunKaltim/

Disperindagkop Pastikan Pasokan Elpiji Melon Aman

Disperindagkop bahkan mengklaim pasokan gas elpiji 3 kilogram cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Disperindagkop Pastikan Pasokan Elpiji Melon Aman
TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN
Antrean warga untuk membeli isi tabung gas melon. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNGREDEB - Setelah sempat mengalami kelangkaan elpiji 3 kilogram atau elpiji melon, masyarakat Berau dibuat was-was dengan isu kelangkaan elpiji bersubsidi ini. Kelangkaan elpiji melon disebut-sebut akan kembali terulang menjelang pergantian tahun.

Menanggapi informasi ini, Dinas Perindustrian Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Berau, mengimbau masyarakat agar tidak terlalu khawatir.

Disperindagkop bahkan mengklaim pasokan gas elpiji 3 kilogram cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kepala Seksi Perdagangan Dalam Negeri, Disperindagkop Berau, Abdul Kadir mengatakan, saat ini sejumlah agen terus memasok elpiji dari Kota Samarinda untuk mengatasi kelangkaan gas. Abdul Kadir mengatakan, pengawasan distribusi elpiji ini biasanya dilakukan oleh pihak PT Pertamina dan juga Bagian Ekonomi,Sekretariat Pemkab Berau.

Namun elpiji merupakan bahan bakar pengganti minyak tanah, pihaknya juga ikut mengawasi ketersediaan dan distribusinya.

“Kami terus melakukan pengawasan di tingkat agen, stoknya masih banyak,” ujarnya. Karena itu, pihaknya meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir kelangkaan gas elpiji.

Demikian pula dengan Harga Eceran Tertinggi (HET), telah diatur sesuai kesepakatan sejumlah pihak, termasuk PT Pertamina, Pemkab Berau, agen dan ditetapkan melalui SK Gubernur Kaltim. Soal harga yang berbeda-beda di sejumlah kecamatan, Abdul Kadir mengatakan, sudah sesuai dengan HET.

“Jadi harga juga berkaitan dengan lokasi, apalagi kalau lokasinya jauh dari agen. Harga dari distributor Rp 22.250 per tabung 3 kilogram, kalau pengecer jual Rp 28 ribu sampai Rp 30 ribu tergantung jarak distribusinya,” jelas Abdul Kadir.

Selain mengawasi, pihaknya juga tak segan-segan mengingatkan agen dan distributor untuk mencegah kelangkaan elpiji.

“Kita terus pantau sebagai upaya antisipasi agar tidak terjadi kelangkaan lagi,” tandasnya. Seperti diketahui, belum lama ini Kabupaten Berau sempat mengalami kelangkaan elpiji. Sulitnya mendapat elpiji di pasaran ini dimanfaatkan oleh para pengecer untuk menaikkan harga di luar ketentuan.

Akibat kelangkaan elpiji itu, sejumlah masyarakat sempat beralih menggunakan minyak tanah. Bahkan warga di pesisir dan pedalaman dikabarkan menggunakan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. (*)

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help