TribunKaltim/

Kasus Komura Samarinda Rp 256 Miliar Tangkapan Terbesar Saber Pungli, Ternyata Tak Cuma Pemerasan

"Waktu ditangkap Rp 5 juta, kemudian Rp 6 miliar, dan kami kembangkan ada pencucian uang hingga Rp 256 miliar,"

Kasus Komura Samarinda Rp 256 Miliar Tangkapan Terbesar Saber Pungli, Ternyata Tak Cuma Pemerasan
TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO HP
Inilah salah satu rumah mewah tersangka pungli Sekretaris Komura Samarinda Dwi Hariwinarno di Jln Harun Nafsi, Samarinda Seberang, yang digeledah oleh tim Mabes Polri dibantu personel Brimob Polda Kaltim, Rabu (12/4/2017). Petugas menyita harta (aset) yang diduga hasil pungli. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Kepala Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar Komjen Pol Dwi Priyatno mengatakan, penangkapan dengan nilai terbesar yang dilakukan  satgas yakni dalam kasus pungli oleh Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Samudera Sejahtera ( Komura) di kawasan pelabuhan Peti Kemas Palaran, Samarinda.

Total aset yang disita dari rekening perusahaan mencapai Rp 256 miliar.

"Waktu ditangkap Rp 5 juta, kemudian Rp 6 miliar, dan kami kembangkan ada pencucian uang hingga Rp 256 miliar," ujar Dwi, saat ditemui di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (12/11/2017).

Dalam kasus tersebut, polisi menetapkan dua tersangka, yaitu Sekretaris Komura berinisial DHW dan Ketua Komura, JAG, yang juga anggota DPRD Samarinda. Dalam pengembangannya, ditemukan lebih banyak uang hasil pencucian uang oleh tersangka.

"Sampai saat ini sudah disita barang bukti yang dikirim ke jaksa dan pengadilan sebesar Rp 315, 625 juta," kata Dwi.

"Tidak hanya semata-mata pemerasan, tapi ada unsur pidana korupsi dan pencucian uang," lanjut dia.

Ketua Komura Samarinda Jafar Abdul Gaffar, terdakwa kasus dugaan pungli dan tindak pidana pencucian uang di Terminal Peti Kemas Palaran. Gaffar yang juga anggota DPRD Samarinda sedang menjalani sidang eksepsi di Pengadilan Negeri Samarinda, Kamis (24/8/2017) di Jalan M Yamin. Usai sidang Gaffar bertemu Jawad Sirajuddin (mantan Anggota DPRD Kaltim).
Ketua Komura Samarinda Jafar Abdul Gaffar, terdakwa kasus dugaan pungli dan tindak pidana pencucian uang di Terminal Peti Kemas Palaran. Gaffar yang juga anggota DPRD Samarinda sedang menjalani sidang eksepsi di Pengadilan Negeri Samarinda, Kamis (24/8/2017) di Jalan M Yamin. Usai sidang Gaffar bertemu Jawad Sirajuddin (mantan Anggota DPRD Kaltim). (TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HADI PRASETYO)

Kasus tersebut ditangani Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri. Polisi menyita harta benda milik tersangka DHW berupa dua unit mobil BMW, satu unit mobil Mini Cooper, satu unit mobil Honda Jazz, tiga unit sepeda motor trail merk KTM, dan satu unit sepeda motor Piagio.

Sebelumnya, Direktur Tipideksus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya mengatakan, dokumen Komura menunjukkan bahwa praktik pungutan liar di terminal peti kemas Palaran Samarinda dan Muara Barau berlangsung sejak 2010-2016.

Selain menetapkan tarif melambung dari jumlah semestinya, Komura juga memeras perusahaan pengelola terminal peti kemas meski tidak ada aktivitas bongkar muat di sana.

Dari analisa dokumen yang disita, sejak 2010-2016, terdapat dana Rp 180 miliar yang didapatkan Komura di TPK Palaran.

Bareskrim Polri jemput pengurus ormas PDIB terkait dugaan pungli di Terminal Peti Kemas Palaran, Senin (20/3/2017).
Bareskrim Polri jemput pengurus ormas PDIB terkait dugaan pungli di Terminal Peti Kemas Palaran, Senin (20/3/2017). (TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP)
Halaman
12
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help