Presiden Jokowi Bicara soal Kritik: Beda Lho dengan Mencemooh. . .

Menurut Presiden, kerap kali kritikan diterimanya tanpa data dan tidak pula ada solusi yang ditawarkan.

Biro Pers Setkab
Presiden Joko Widodo menggendong dua balita di Kampung Kayeh, Kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Kamis (12/4/2018). Balita berkaus kuning juga bernama Jokowi. 

TRIBUNKALTIM.CO, SEMARANG - Kritik terhadap pemerintah menjadi salah satu hal yang dibahas Presiden RI Joko Widodo ketika berbicara di depan para penyuluh agama di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (14/4/2018).

Menurut Presiden, kerap kali kritikan diterimanya tanpa data dan tidak pula ada solusi yang ditawarkan.

"Kita ini kadang sering tidak bisa membedakan mana yang kritik dan mana yang mencela. Beda lho itu. Mana yang kritik dan mana yang mencemooh, mana yang kritik dan mana yang menjelek-jelekkan," ucap Jokowi.

Baca: Fadli Zon Bandingkan Putin dan Jokowi: Ada yang Sibuk Pencitraan naik Motor Hujan-hujan

Presiden Jokowi lalu menjelaskan perbedaan antara kritik dan celaan.

Menurut dia, kritik tanpa data dan solusi, hanyalah sebuah celaan atau cemoohan.

Apalagi disampaikan dengan menjelek-jelekkan.

Baca: Kritik Presiden tanpa Data yang Jelas, Begini Kegeraman Luhut, Sampai Sebut-sebut Aseng Segala!

"Kritik itu harus ada basis datanya dan memberi solusi. Kalau tidak ya itu namanya mencemooh," ungkapnya.

Sebelumnya, Presiden menuturkan bahwa Indonesia adalah negara besar.

Buktinya adalah panjangnya waktu tempuh dari satu wilayah ke wilayah lainnya, misalnya pengalamannya terbang dari Aceh ke Wamena, Papua.

Baca: Mengaku Tak Pintar dan Kaya, Jokowi Malah Dipuji Maruf Amin sebagai Pemimpin

"Saya terbang ke Banda Aceh ke Wamena itu berapa (lama)? 9 jam 15 menit. Itu setara London ke Istanbul melewati 6-7 negara," ujar Jokowi pada acara yang sama.

"Ini negara besar. Itu kalau jalan kaki berapa tahun?" tambahnya lalu disambut tepuk tangan para peserta.

Sebagai negara besar, lanjut dia, Indonesia masih memiliki tantangan dalam masalah kemiskinan, ketimpangan hingga kesenjangan sosial.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved