Home »

News

» Jakarta

Berita Video

Pernah Tinggal Lama di Samarinda, Babah Alun Kini Bangun Masjid Unik di Kolong Tol Jakarta

Di luar dugaan, bangunan yang didominasi warna merah dan hijau itu merupakan sebuah masjid yang bernama Babah Alun.

Pernah Tinggal Lama di Samarinda, Babah Alun Kini Bangun Masjid Unik di Kolong Tol Jakarta
Kolase/TribunKaltim.co
Muhammad Jusuf Hamka alias Babah Alun mendirikan masjid unik di kolong tol Jakarta 

TRIBUNKALTIM.CO - Sebuah bangunan bergaya oriental berdiri megah di kolong Tol Pelabuhan, tepatnya di Gang 21, Warakas, Jakarta Utara.

Bangunan itu tampak kontras dibandingkan padatnya rumah warga di sekitarnya.

Dilihat dari luar, banyak orang yang mengira bangunan tersebut merupakan klenteng atau vihara.

Di luar dugaan, bangunan yang didominasi warna merah dan hijau itu merupakan sebuah masjid yang bernama Babah Alun.

"Memang banyak yang tidak mengira kalau ini masjid, tetapi klenteng," kata Muntaha, penjaga masjid tersebut yang ditemui Kompas.com, Senin (16/4/2018).

Baca: Laris Manis, Mualaf Asal Samarinda Ini Jualan Nasi Kuning Rp 3.000, Ingin Buka di Seluruh Indonesia

Muntaha menuturkan, masjid tersebut didirikan oleh Muhammad Jusuf Hamka, seorang mualaf keturunan Tionghoa yang tercatat sebagai Komisioner Independen PT Citra Marga Nusaphala Persada, perusahaan yang membangun sejumlah jalan tol di Indonesia.

Nama Babah Alun juga diambil dari sosok Jusuf Hamka.

"Babah itu artinya bapak, sedangkan Alun nama panggilan Pak Jusuf waktu kecil. Jadi mengabadikan namanya lah" kata Muntaha.

Muntaha, penjaga masjid Babah Alun, masjid bergaya oriental yang berada di kolong Tol Pelabuhan, Warakas, Jakarta Utara.
Muntaha, penjaga masjid Babah Alun, masjid bergaya oriental yang berada di kolong Tol Pelabuhan, Warakas, Jakarta Utara. (KOMPAS.COM/Ardito Ramadhan D)

Muhammad Jusuf Hamka alias Babah Alun adalah pria asal Banjarmasin yang pernah tinggal lama di Samarinda, Kalimantan Timur.

Semasa kecil, ia membantu ibunya berjualan nasi kuning di kota tepian.

Halaman
12
Editor: Syaiful Syafar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help