Kerap Terlihat Antre Berulang-ulang, APMS Minta Pemkab Awasi Pengetap BBM

Pemilik APMS di Malinau menduga, banyak oknum yang menggunakan kesempatan terbatasnya BBM subsidi jenis premium

Kerap Terlihat Antre Berulang-ulang, APMS Minta Pemkab Awasi Pengetap BBM
niko ruru/tribun kaltim
Ilustrasi; Antrean di APMS

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Pengawasan ketat kepada Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Malinau oleh Pemkab Malinau berjalan cukup baik. Namun, pengawasan ketat terhadap masuknya Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi ini tidak disertai dengan pengawasan ketat pula kepada masyarakat yang mengantre di APMS.

Pemilik APMS di Malinau menduga, banyak oknum yang menggunakan kesempatan terbatasnya BBM subsidi jenis premium di tingkatan pangkalan/pengecer di desa-desa. Para oknum itu antre berulang-ulang kali untuk mendapatkan BBM bersubsidi tersebut.

Setelah mengantre dan mengisi berulang kali, oknum ini akan menyedot premium dari tangki kendaraan. Kemudian, premium akan diecerkan kembali kepada masyarakat lainnya dengan harga tinggi. Sesuai pantauan Tribun di lapangan, kondisi ini telah berjalan selama beberapa pekan terakhir.

Hingga saat ini, ratusan pangkalan di Malinau sangat terbatas mendapatkan premium. Setiap pangkalan, hanya dijatah sebanyak 1 ton atau setara dengan 5 drum dengan muatan 200 liter setiap kali pengiriman. Dalam sebulan, paling sedikit APMS akan mendapatkan dua kali pengiriman BBM. Artinya, dua kali pula pangkalan mendapatkan jatah dalam sebulan.

Dengan terbatasnya pasokan premium kepada pangkalan, semakin marak pedagang premium di pinggir-pinggir jalan. Pantauan Tribun harga yang ditawarkan bervariasi. Harga akan menyesuaikan dengan ada tidaknya premium di APMS. Apabila BBM di APMS kosong, maka premium akan dijual cukup mahal.

Sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) premium yang ditetapkan oleh Pemkan Malinau, perliternya dihargai Rp 8.000. Namun, harga premium di pinggir jalan berbeda-beda, yakni Rp 9.000 hingga mencapai Rp 15.000 perliter. Bahkan, saat kekosongan premium dua pekan lalu ada penjual pinggir jalan menjual Rp 15.000 persetengah liter.

"Pengawasan ketat boleh kepada kami. Tapi, awasi juga kendaraan-kendaraan masyarakat yang berulang kali mengisi premium di APMS. Sebab, tidak jarang kami menemukan beberapa oknum masyarakat mengisi premium berulang kali menggunakan kendaraan roda dua maupun roda 4," ujar Memey, pengelola APMS Semoga Jaya, Desa Malinau Seberang, Kecamatan Malinau Utara.

"Lebih baik, pemerintah menempatkan beberapa personel aparat keamanan untuk menjaga di pintu masuk dan di tempat pengisian APMS. Ini untuk memantau oknum-oknum itu. Sebab, mereka itulah yang mengambil jatah masyarakat lainnya. Kalau kami kan tidak bisa berbuat banyak kalau ada seperti itu," lanjutnya. (ink)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help