Warga Pedalaman Ajukan Protes Soal Pembelian Tiket Subsidi Susi Air

Menurut Roni, sistem seperti itu tepat untuk dijalankan pada penerbangan rutin seperti di bandara-bandara besar di Indonesia

Warga Pedalaman Ajukan Protes Soal Pembelian Tiket Subsidi Susi Air
TRIBUN KALTIM / MUHAMMAD ARFAN
Pilot asing maskapai Susi Air di bandara Tanjung Harapan, Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara diabadikan beberapa waktu lalu. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Persoalan terbatasnya penerbangan ke daerah pedalaman dan perbatasan di Malinau menjadi permasalahan serius bagi masyarakat di sana. Apalagi, terbatasanya penerbangan disertai sulitnya mendapatkan tiket penerbangan, membuat masyarakat harus lebih banyak bersabar.

Tapi tidak bagi masyarakat Kecamatan Bahau Hulu. Salah satu kecamatan di pedalaman dan perbatasan Malinau ini menjadi salah satu penerima program Subsidi Ongkos Angkut (SOA) Pemprov Kaltara. Terbatasnya penerbangan dan sulitnya mendapatkan tiket terbang mengundang perwakilan masyarakat mendatangi maskapai yang menjalankan SOA.

Tokoh pemuda Bahau Hulu, Roni Manan mengungkapkan, ia mewakili masyarakat Bahau Hulu protes dengan cara-cara yang diterapkan maskapai Susi Air dalam menjual tiket bagi masyarakatnya yang akan pulang ke Bahau Hulu. Roni menganggap, pembelian tiket pesawat sebulan sebelumnya dirasakan sangat memberatkan warga.

"Bukan hanya sebulan sebelumnya saja kita harus membeli tiket. Kalau kita misalnya ingin mendahulukan penumpang lain, maka tiket kita itu tidak bisa dialihkan kepada warga lainnya. jadi, warga lainnya itu harus membeli tiket baru lagi. Dan tiket yang kita beli sebelumnya akan hangus. Artinya, pembayaran tiket akan doble," paparnya.

Menurut Roni, sistem seperti itu tepat untuk dijalankan pada penerbangan rutin seperti di bandara-bandara besar di Indonesia. Namun, tidak tepat diterapkan pada penerbangan di daerah perbatasan dan pedalaman seperti di Malinau ini. Pasalnya, penerbangan ke daerah-daerah tersebut, sangatlah terbatas.

"Apalagi, ini kan penerbangan subsidi. Seharusnya, penerbangan subsidi itu lebih mempermudah warga kami. Bukan malah membuat sulit warga kami. Kalau dengan sistem seperti inikan, kami jadi kesulitan dan mau tidak mau ikut sistem yang mereka (Susi Air). Kalau ada pilihan penerbangan lain, pastilah kami pakai penerbangan lain," tegasnya.

Seperti sistem pembelian tiket tahun sebelumnya, diungkapkan Roni, pembelian dilakukan seminggu atau paling lambat dua hari sebelum penerbangan. Akan tetapi, pembelian tiket subsidi tahun-tahun sebelumnya harus berdasarkan daftar yang memang sudah disampaikan sebelumnya.

"Kalau tidak ada di daftar ya tidak bisa beli. Dan yang diutamakan itu masyarakat asli tempat penerima subsidi penerbangan. Kalau bukan masyarakat asli ya menunggu sampai semua masyarakat asli telah terlayani. Tapi, sekarang ini pembelian tiket harus sebulan sebelumnya. Itukan lama sekali," tandasnya.

Seperti diwartakan sebelumnya, untuk pembelian satu tiket penerbangan subsidi tujuan Malinau-Bahau Hulu masyarakat harus membayar Rp 375 ribu. Sedangkan untuk penerbangan reguler, masyarakat harus membayar tiket sebesar Rp 1,2 juta. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help