Hari Guru Nasional - Simak 4 Kisah Perjuangan Inspiratif Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

"Kami juga terjatuh kadang karena kondisi jalan berlubang yang cukup dalam," ungkapnya.

Tribunnews
Ilustrasi - Doa Agar Dapat Berkah Ilmu dari Guru, Beserta Ucapan Selamat Hari Guru yang Diperingati 25 November 2018 

TRIBUNKALTIM.CO - Pernah mendengar ucapan kalimat tanpa tanda jasa?

Kalimat itu tentunya sudah tidak asing bagi kita, yakni mengartikan betapa besar jasa seorang guru.

Selain memegang tanggung jawab mencerdaskan generasi bangsa, terkadang dalam perjalanannya pun mereka harus menghadapi berbagai tantangan hidup yang bisa dengan mudah memperekecil niatnya untuk melanjutkan profesi.

1. Sebrangi sungai menggunakan bambu

Dilansir TribunWow.com dari Kompas.com, Lusia, seorang guru di SD Negeri Nomor 27 Sungai Manyan, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, harus melewati derasnya air sungai ketika akan berangkat mengajar.

Hal itu diceritakan oleh akun Facebook Askiman Sintang, yang tak lain adalah Wakil Bupati Kabupaten Sintang kala itu, pada 18 Maret 2017.

"Perjuangan seorang guru di pedalaman terpencil perhuluan kayan demi mencerdaskan kehidupan bangsa," demikian tulisan yang menyertai foto yang diunggah Askiman.

Terlihat sosok Lusia yang mengenakan seragam batik berwarna putih sedang meniti jembatan yang terbuat dari sebatang bambu dengan beberapa tiang sebagai pegangan.

Kepada Kompas.com, Askiman menuturkan, sosok Lusia dalam foto yang diunggahnya tersebut mulai mengajar dari tahun 2002 sebagai guru kontrak di daerah hingga tahun 2006.

"Kemudian pada tahun 2007 ia menjadi CPNS dan diangkat sebagai PNS pada tahun 2009 dengan golongan IIIb," ujar Askiman mengawali ceritanya.

Sekolah yang menjadi tempat Lusia mengajar memiliki 6 tenaga pengajar, termasuk kepala sekolah.

"Sebetulnya jarak dari rumah Lusia ke sekolah tidak terlalu jauh, kendalanya kalau banjir ya melewati sungai itu, selalu airnya di atas jembatan yang ada, jembatan itu sudah lumayan lama dibangun mungkin sekitar 20 tahun lalu," ungkap Askiman menuturkan apa yang disampaikan oleh Lusia.

Lantaran tidak ada akses jembatan, ketika banjir, masyarakat di sana pun kemudian membuat titian alakadarnya supaya bisa melewati sungai itu.

Fasilitas di sekolah itu, kata Askiman, masih kekurangan buku pelajaran, WC sekolah dan pagar.

"Ada juga teman guru Lusia lainnnya dan anak yang harus jalan kaki ke sekolah dengan jarak sekitar 3 kilometer dengan kondisi jalan dan jembatan yang parah," ujar Askiman yang dilantik sebagai wakil bupati Sintang periode 2006-2021 pada 17 Februari 2016 yang lalu.

Halaman
1234
Sumber: TribunWow.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved