Pemasok Obat Jasa Aborsi Balikpapan Mantan Pegawai Farmasi, Polisi Lidik Keterlibatan Apotek

Pemasok obat penggugur kandungan, S yang diamankan Reskrim Polres Balikpapan merupakan mantan pegawai farmasi di Kota Balikpapan.

Pemasok Obat Jasa Aborsi Balikpapan Mantan Pegawai Farmasi, Polisi Lidik Keterlibatan Apotek
Tribunkaltim.co/ Fachmi Rachman
Polisi menggelar jumpa pers pengungkapan praktik aborsi ilegal di Balikpapan, Jumat (1/2/2019) di halaman Mapolres Balikpapan. Tersangka mengenakan baju tahanan dan barang bukti digelar di hadapan awak media. 

Pemasok Obat Jasa Aborsi Balikpapan Mantan Pegawai Farmasi, Polisi Lidik Keterlibatan Apotek

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Pemasok obat penggugur kandungan, S yang diamankan Reskrim Polres Balikpapan merupakan mantan pegawai farmasi di Kota Balikpapan.

"Saya dulu sales Farmasi," katanya, Jumat (1/2/2019) usai jumpa pers di halaman Mapolres Balikpapan.

Kepada Tribunkaltim.co, S mengaku membeli obat tersebut dari seorang yang tinggal di kawasan Bejebeje alias MT Haryono Dalam. Saat dikejar media ini, S bertahan dan menolak membeberkan identitas detail pemasok obat kepada dirinya.

"Dari Pak Bari. Orang biasa. Saya ambil saja sama dia," ujarnya.

Daftar Top Transfer Termahal Liga Inggris, Ada Nama Emiliano Sala yang Jadi Korban Hilangnya Pesawat

Cukup Dihabiskan Lebih dari 1 Orang, Ini Kebab Jumbo ala Kebab Kairo

Kenakan Tarif Rp 1,6 Juta, Penyedia Jasa Aborsi di Balikpapan Mengaku Belajar Hanya dari Internet

Dia mengelak obat itu diambil dari apotik. Sudah setahun belakangan ini ia memasok obat penggugur kandungan ke penyedia jasa aborsi, EP dan WY. Satu pil obat penggugur kandungan dihargai Rp 200 ribu.

"Sudah setahunam jual. Harga Rp 200ribu per 1 biji obat. Saya ambil untung Rp 50 ribu saja, pak," tuturnya.

S mengaku biasa beli kepada seseorang yang tengah dilakukan pendalaman pihak kepolisian, sebanyak 1 kotak obat pil penggugur janin. Obat yang digunakan pada praktik aborsi tersebut seharga Rp 3,2 juta. Satu kotak obat berisi 10 keping. Tiap kepingnya terdapat 8 butir pil obat.

"Saya ecernya per butir Rp 200 ribu," akunya.

Polisi menggelar jumpa pers pengungkapan praktik aborsi ilegal di Balikpapan, Jumat (1/2/2019) di halaman Mapolres Balikpapan. Tersangka mengenakan baju tahanan dan barang bukti digelar di hadapan awak media.
Polisi menggelar jumpa pers pengungkapan praktik aborsi ilegal di Balikpapan, Jumat (1/2/2019) di halaman Mapolres Balikpapan. Tersangka mengenakan baju tahanan dan barang bukti digelar di hadapan awak media. (Tribunkaltim.co/ Fachmi Rachman)

Sementara, Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Fitra melalui Kasat Reskrim AKP Makhfud Hidayat membenarkan bahwa S merupakan mantan pegawai farmasi. Sehingga ia tahu jenis obat yang bisa digunakan untuk aborsi. Berikut dengan chanel atau link obat tersebut dijual di Balikpapan.

"Dia ini mantan karyawan farmasi. Obatnya bukan obat racikan. Tapi tak boleh diperjualbelikan bebas. Obat dimasukkan ke kelamin (pasien)," kata Makhfud.

Polisi menggelar jumpa pers pengungkapan praktik aborsi ilegal di Balikpapan, Jumat (1/2/2019) di halaman Mapolres Balikpapan. Tersangka mengenakan baju tahanan dan barang bukti digelar di hadapan awak media.
Polisi menggelar jumpa pers pengungkapan praktik aborsi ilegal di Balikpapan, Jumat (1/2/2019) di halaman Mapolres Balikpapan. Tersangka mengenakan baju tahanan dan barang bukti digelar di hadapan awak media. (TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN)

Pihaknya masih melakukan investigasi terkait asal obat yang diterima S. Apakah ada keterlibatan oknum atau perusahaan farmasi, yang dengan sengaja memberikan obat tanpa resep dokter.

"Obatnya masih didalami, darimana. Kita cari keterlibatan orang farmasi dan apotik yang beri obat tanpa resep. Saat ini ada 7 orang ditetapkan tersangka kasus ini," ungkapnya. (*) 

Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani
Editor: Anjas Pratama
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved