Miliki Laboratorium Lingkungan, Pemkab Kukar Kejar PAD Rp 1,5 M

Miliki Laboratorium Lingkungan, Pemkab Kukar Kejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp 1,5 M

Miliki Laboratorium Lingkungan, Pemkab Kukar Kejar PAD Rp 1,5 M
TRIBUN KALTIM / RAHMAD TAUFIK
Sekda Kabupaten Kukar Sunggono meninjau laboratorium lingkungan milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kukar, Senin (11/3). 

Miliki Laboratorium Lingkungan, Pemkab Kukar Kejar PAD Rp 1,5 M

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Saat ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar memiliki laboratorium lingkungan yang diharapkan ke depan bisa menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 1,5 miliar. Keberadaan laboratorium ini menjadi satu-satunya yang dimiliki pemerintah daerah di Kaltim saat ini.

Sedangkan laboratorium lingkungan yang ada di Samarinda saat ini merupakan milik swasta. “Kami sudah membentuk tim percepatan akreditasi, kami berharap 2019 ini (laboratorium lingkungan) sudah terakreditasi,” kata Alfian Noor, Kepala DLHK Kukar usai menghadiri apel pagi di Halaman Kantor DLHK, Senin (11/3). Ia mengatakan, kehadiran laboratorium memudahkan DLHK dalam melakukan pemantauan lingkungan. Pihaknya sudah bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dalam proses percepatan akreditasinya. Laboratorium lingkungan milik DLHK Kukar masuk urutan 15 se-Indonesia yang dibina oleh KLH.

“Kita hitung-hitung kalau sudah terakreditasi, kita akan mendapatkan PAD Rp 1,5 miliar, dan ini akan kita tingkatkan terus karena ada kabupaten lain yang sudah mencapai Rp 4 miliah, bahkan Rp 12 miliar, karena ada 15 kabupaten yang dibina KLH,” ujarnya. Dengan kapasitas tidak terlalu banyak. saat ini DLHK memiliki 5 analis dan baru akan melewati sekitar 20 parameter untuk tambang dan perkebunan. DLHK sudah mengumpulkan alat-alat laboratorium sejak 6-7 tahun lalu. Secara nasional, ia mengakui banyak keuntungan yang didapat dengan laboratorium ini. Kukar memiliki beberapa sungai yang perlu dilakukan uji sampel terhadap kualitas air, terutama untuk kebutuhan sendiri.

“Selama ini kita minta dari laboratorium swasta di Samarinda untuk uji sampael, antrenya bukan main, bisa sampai 1-2 bulan kita antre untuk uji sampel itu, belum lagi menunggu hasilnya karena saking banyaknya,” tutur Alfian. Dengan memiliki laboratorium sendiri yang terakreditasi, menurutnya, proses uji sampel hingga keluar hasilnya tidak memakan waktu sampai sebulan, tapi hanya seminggu. Dari segi biaya, pihaknya bisa menekan ongkos pengeluaran. “Perdanya juga kami susun, kita berupaya bagaimana nanti satu tahun kita bisa menghasilkan PAD, kita sudah hitung berapa izin yang kita keluarkan, kemudian konsumen kita bisa didapatkan dari Kubar, Kutim dan sebagainya,” ucapnya.

Ia mencontohkan, ada satu daerah di Kalsel sekarang sudah menghasilkan Rp 4 miliar dari hasil laboratorium lingkungan. “Padahal kalau dibandingkan kita, kita juga sangat banyak, makanya yang kita akreditasi saat ini parameter untuk uji kualitas air terkait kegiatan tambang batubara dan sawit, untuk sementara ini kita hanya bisa melakukan uji sampel pendampingan, itu persyaratan juga untuk diakreditasi,” kata Alfian. Laboratorium ini dilengkapi peralatan Atomic Absorption Spectrophotometer (Spektrofotometri Serapan Atom/AAS), lemari asam dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) portabel. “Kita sudah memiliki AAS, alat ini digunakan untuk mendeteksi logam berat, kita bisa melakukan uji terhadap kegiatan tambang, meliputi TSS (Total Suspended Soli), analisis pH, logam besi dan mangan dalam sampel air limbahnya,” ujarnya. (*)

Penulis: Rahmad Taufik
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved