Samarinda
PT Indo Prima Lestari Tidak Bertanggungjawab Atas Tewasnya Buruh
Bapak inikan tamu kita, terserah kita dong mau kasih keterangan atau tidak. Bapak ini siapa, mana kartu persnya
Kejadian ini
sudah berlangsung pada Agustus 2011 lalu, namun hingga kini
pihak PT IPL tidak mau bertanggungjawab dan perlindungan atas tewasnya
buruh bernama Junaidin (36), perantau asal Bima Nusa Tenggara Barat itu.
Padahal buruh tersebut diketahui tewas saat tengah bekerja menebang
kayu dan seharusnya mendapatkan perlindungan dari perusahaan tersebut,
minimal memberikan tali asih atau santunan
kepada pihak keluarga almarhum.
Pascatewasnya Junaidin, pihak
keluarga almarhum yang tinggal di Samarinda, sebenarnya sudah menempuh
berbagai cara agar pihak PT IPL bisa memberikan tali asih atau santunan
kepada keluarga, namun dengan berbagai dalih perusahaan tersebut
hingga kini seakan tidak peduli dan tidak mau tahu.
"Selama ini kami
sudah berkali-kali berusaha mengharapkan kepedulian pihak manajemen PT
IPL, bahkan kami sudah berulangkali mendatangi langsung Pak Benny
(manajer PT IPL) di Wahau, tapi sampai sekarang tidak juga ada
hasilnya," kata Azhar keluarga almarhum kepada tribunkaltim.co.id, Jumat (18/11/2011).
Menurut
Azhar, mestinya PT IPL memberikan perlindungan kepada buruh
(pekerjanya), apalagi almarhum ini tewas saat tengah bekerja. Dan pihak
keluarga tidak berharap banyak kepada perusahaan, tapi minimal
memberikan tali asih atau santunan kepada keluarga yang ditinggalkannya.
"Kita tidak menuntut banyak dan memaksa perusahaan, tapi yang kami
harapkan kepedulian perusahaan saja. Karena terus terang kami sebagai
keluarganya adalah orang yang tidak berada (miskin)," tutur Azhar.
Dikonfirmasi
terpisah, Budi pimpinan PT IPL yang ditemui tribunkaltim.co.id di kantornya di
Perumahan Griya Tepian Lestari, Karpotek Samarinda, Jumat (18/11/2011) mengaku,dirinya tidak tahu persis mengenai kejadian itu, namun ia pernah mendengar musibah itu.
"Saya hanya kepala bagian spare part di sini Pak, kalau pimpinannya ada di lokasi (Wahau) semua," akui Budi.
Pengakuan
Budi ini bertolak belakang dengan keterangan salah satu karyawan
kontraktor di PT IPL. Menurut karyawan yang enggan disebut namanya itu,
Budi adalah pimpinan tertinggi selaku pemegang kuasa di PT
IPL. Sementara Benny hanyalah bawahan Budi.
"Budi itu atasannya
semua staf-staf yang ada di lokasi,, jadi Pak Budi itu sangat berkuasa
sekali, dimanapun PT IPL dia yang
berkuasa. Kalau Pak Benny dan lain-lain itu hanya bawahan dia saja,
coba Anda tanyakan lagi ke Budi, siapa pimpinan PT IPL" jelas karyawan
tersebut.
Ketika tribunkaltim.co.id menanyakan kembali siapa sebenarnya pimpinan
PT IPL tersebut ke Budi. Lagi-lagi dia enggan menjelaskan, ia hanya
berkilah bahwa dirinya hanya sebagai karyawan.
Jadi manajemen PT IPL
tidak mau bertanggungjawab atas kejadian tewasnya Junaidin? Budi
menjawab. "Saya tidak mau memberi keterangan kalau bapak bertanya
sebagai pers. Bapak inikan tamu kita, terserah kita dong mau kasih
keterangan atau tidak. Bapak ini siapa, mana kartu persnya," tanya Budi.
Apakah bapak sebagai pimpinan PT IPL? Budi kembali mengatakan,
"Bapak bertanya sebagai pers, saya tidak mau menajwab, silakan saja
ditulis," ucap Budi dengan enteng.