Selasa, 7 April 2026

Samarinda

PT Indo Prima Lestari Tidak Bertanggungjawab Atas Tewasnya Buruh

Bapak inikan tamu kita, terserah kita dong mau kasih keterangan atau tidak. Bapak ini siapa, mana kartu persnya

SAMARINDA, tribunkaltim.co.id -  Seorang buruh penebang kayu yang bekerja di PT Indo Prima Lestari, perusahaan yang menangani pekerjaan land clearing pada areal Perkebunan Kelapa Sawit  PT Gunta Samba di Wahau Kabupaten Kutim tewas di tempat setelah tertimpa pohon yang ditebangnya.


Kejadian ini sudah berlangsung  pada Agustus 2011 lalu, namun hingga kini pihak  PT IPL tidak mau bertanggungjawab dan perlindungan atas tewasnya buruh bernama Junaidin (36), perantau asal Bima Nusa Tenggara Barat  itu.


Padahal buruh tersebut diketahui tewas saat tengah bekerja menebang kayu dan seharusnya mendapatkan perlindungan dari perusahaan tersebut, minimal memberikan tali asih atau santunan kepada pihak keluarga almarhum.


Pascatewasnya Junaidin, pihak keluarga almarhum yang tinggal di Samarinda, sebenarnya sudah menempuh berbagai cara agar pihak PT IPL bisa memberikan tali asih atau santunan kepada keluarga, namun dengan berbagai dalih  perusahaan tersebut  hingga kini seakan tidak peduli dan tidak mau tahu.


"Selama ini kami sudah berkali-kali berusaha mengharapkan kepedulian pihak manajemen PT IPL, bahkan kami sudah berulangkali mendatangi langsung Pak Benny (manajer PT IPL) di Wahau, tapi sampai sekarang tidak juga ada hasilnya," kata Azhar keluarga almarhum kepada tribunkaltim.co.id, Jumat (18/11/2011).


Menurut Azhar, mestinya PT IPL memberikan perlindungan kepada buruh (pekerjanya), apalagi almarhum ini tewas saat tengah bekerja. Dan pihak keluarga tidak berharap banyak kepada perusahaan, tapi minimal memberikan tali asih atau santunan kepada keluarga yang ditinggalkannya.


"Kita tidak menuntut banyak dan memaksa perusahaan, tapi yang kami harapkan kepedulian perusahaan saja. Karena terus terang kami sebagai keluarganya adalah orang yang tidak berada (miskin),"  tutur Azhar.


Dikonfirmasi terpisah, Budi pimpinan PT IPL yang ditemui tribunkaltim.co.id di kantornya di Perumahan Griya Tepian Lestari, Karpotek Samarinda, Jumat (18/11/2011) mengaku,dirinya tidak tahu persis mengenai kejadian itu, namun ia pernah mendengar musibah itu.


"Saya hanya kepala bagian spare part di sini Pak, kalau pimpinannya ada di lokasi (Wahau) semua," akui Budi.


Pengakuan Budi ini bertolak belakang dengan keterangan salah satu karyawan kontraktor di PT IPL. Menurut karyawan yang enggan disebut namanya itu, Budi adalah pimpinan tertinggi selaku pemegang kuasa di PT IPL. Sementara Benny hanyalah bawahan Budi.


"Budi itu atasannya semua staf-staf yang ada di lokasi,, jadi Pak Budi itu sangat berkuasa sekali, dimanapun PT IPL dia yang berkuasa. Kalau Pak Benny dan lain-lain itu hanya bawahan dia saja, coba Anda tanyakan lagi ke Budi, siapa pimpinan PT IPL" jelas karyawan tersebut.


Ketika tribunkaltim.co.id menanyakan kembali siapa sebenarnya pimpinan PT IPL tersebut ke Budi. Lagi-lagi dia enggan menjelaskan, ia hanya berkilah bahwa dirinya hanya sebagai karyawan.


Jadi manajemen PT IPL tidak mau bertanggungjawab atas kejadian tewasnya Junaidin?  Budi menjawab. "Saya tidak mau memberi keterangan kalau bapak bertanya sebagai pers. Bapak inikan tamu kita, terserah kita dong mau kasih keterangan atau tidak. Bapak ini siapa, mana kartu persnya," tanya Budi.


Apakah bapak sebagai pimpinan PT IPL? Budi kembali mengatakan, "Bapak bertanya sebagai pers, saya tidak mau menajwab, silakan saja ditulis," ucap Budi dengan enteng.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved