Krisis Meluas, Presiden SBY Ingatkan Menteri Waspada
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mewanti-wanti para menterinya agar semakin mewaspadai perkembangan krisis di Eropa yang memburuk.
Menurut SBY, situasi di Uni Eropa memang kian mencemaskan. Berbeda dengan krisis tahun 2008, episentrum krisis hanya terjadi di satu negara yaitu Amerika Serikat.
Saat ini pusat krisis ada di berbagai belahan negara Eropa. Bukan cuma Yunani tapi juga merembet ke Portugal, Spanyol. "Juga ke negara dengan ekonomi kuat seperti Jerman dan Prancis," kata SBY ketika membuka sidang kabinet, Jumat (1/12).
Efek krisis itu bahkan sudah mulai terasa di Indonesia. Dari sisi ekspor misalnya, selama bulan September dan Oktober lalu, mulai ada penurunan nilai ekspor Indonesia.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, ekspor merosot karena pertumbuhan ekonomi dan permintaan dunia juga menurun akibat krisis global.
Agus Martowardojo, Menteri Keuangan menimpali, pemerintah sudah menyiapkan antisipasi bila efek krisis semaki parah. Ia bilang, dari sisi bujet, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 sudah memperhitungkan berbagai antisipasi bila krisis datang.
Agus menjelaskan, UU APBN 2012 sudah memberikan fleksibilitas bagi pemerintah memakai anggaran untuk berjaga-jaga menghadapi krisis. Jadi bila keadaan darurat, seperti proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi di bawah asumsi dan deviasi asumsi makro, ataupun kenaikan biaya utang, pemerintah bisa melakukan pergeseran anggaran atau menggunakan saldo anggaran lebih (SAL) untuk menutup pembiayaan APBN. Tentu saja itu atas sepertujuan DPR
Bukan tidak mungkin pula pemerintah akan mempercepat revisi APBN 2012, kalau memang kondisi ekonomi dunia semakin memburuk. "Jika dampak krisis meluas, kami akan melakukan perubahan APBN. Dan itu akan dilakukan lebih awal dari biasanya," kata Agus.
Janji stimulus
Presiden SBY menambahkan, saat krisis keuangan tiga tahun silam, pemerintah bekerja cepat berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan kalangan pengusaha mengantisipasi krisis.
Hasilnya, dampak gejolak
perekonomian global waktu itu bisa diatasi. "Kami ingin melakukan itu
lagi bila krisis terjadi," imbuhnya.
Hatta Rajasa, Menteri
Koordinator Perekonomian mengatakan pemerintah akan terus meningkatkan
kinerja ekonomi domestik guna menyelamatkan perekonomian nasional. Nah,
untuk memperkuat pasar domestik, diperlukan peningkatan efisiensi dan
menghilangkan hambatan yang terjadi dalam perdagangan di dalam negeri.
Jika memang diperlukan, Hatta menjanjikan adanya stimulus agar konektifitas antar daerah bisa meningkat. Menurut besan Presiden SBY itu, kunci dari konektifitas antar daerah adalah menekan biaya logistik, sehingga aliran perdagangan dalam negeri bisa lebih efisien.