Jumat, 10 April 2026

Sangatta

Doa Politik di Ajang MTQ Kutim Dinilai Tidak Patut

MUI tidak boleh masuk ke ranah politis. Saya yakin penyusunan teks doa itu tidak melalui pleno. Saya berharap beliau bisa meminta maaf


SANGATTA, tribunkaltim.co.id- Tertuturnya doa bernuansa politis dalam sesi pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke 8 di Islamic Center Bukit Pelangi Sangatta menuai sorotan. Doa politik dinilai tidak etis disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kutim dalam ajang keagamaan yang diikuti delegasi dari seluruh kecamatan di Kutim.


Pengamat sosial Kutim, Abu Fakih, Rabu (29/2/2012), menilai salah satu bagian doa bernuansa politis yang disampaikan H Sobirin Bagus, selaku Ketua MUI Kutim, merupakan hal yang naif dan tidak patut. Pasalnya MUI merupakan lembaga perekat ummat yang mestinya steril dari kepentingan politik, baik secara langsung maupun tidak langsung.


Pada salah satu kalimat doa yang dibacakan Sobirin, Selasa (28/2) malam, dituturkan bahwa pada bulan November 2013 mendatang akan digelar pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Timur. Sobirin kemudian memanjatkan doa agar Yang Maha Kuasa memberikan kesempatan kepada putera terbaik Kabupaten Kutai Timur untuk memimpin Provinsi Kalimantan Timur.


Lantas kalimat tersebut diikuti kata "Aamiin" yang lebih keras dari rata-rata, bahkan sebagian peserta MTQ bertepuk tangan. Tak ayal setelah sesi doa selesai, sebagian peserta berbisik-bisik mengapa bisa ada doa bernuansa politis di tengah acara keagamaan yang khidmad.


"Banyak penafsiran yang muncul dari kalimat doa itu. Diantaranya dukungan politik terhadap kandidat asal Kutim yang akan berlaga dalam Pilgub Kaltim. Hal itu sangat jelas. Bahkan kandidat dari Kutim didoakan bisa memimpin Kaltim alias menang," kata Abu Fakih.


Beberapa hal yang krusial adalah doa tersebut disampaikan oleh Ketua MUI. "Mungkin bila yang menyampaikan ketua partai atau ketua ormas masih bisa dipahami. Namun beliau menyampaikan doa atas nama ketua MUI. Plus disampaikan dalam forum pembukaan MTQ. Saya menilai hal tersebut naif dan tidak patut," katanya.

Ia menilai kegiatan MTQ harus steril dari kepentingan politis. "Kalau ditafsirkan lebih jauh, doa yang diamini masyarakat itu bisa merupakan bentuk mobilisasi masyarakat untuk mendukung kandidat dari Kutim dalam pilgub. Walaupun beliau tidak menyebutkan nama kandidatnya," katanya.

Doa juga dinilai bentuk pengkondisian pra kampanye alias sosialisasi bahwa bakal ada "putera terbaik" Kutim yang bakal berlaga dalam pilgub 2013. "Penafsirannya sudah jelas. Namun yang disayangkan disampaikan di waktu dan tempat yang tidak tepat, juga oleh orang yang tidak tepat," katanya.


Abu menilai Sobirin perlu meminta maaf secara terbuka atas kalimat doa yang dibacanya dari teks tertulis tersebut. "MUI tidak boleh masuk ke ranah politis. Saya yakin penyusunan teks doa itu tidak melalui pleno. Saya berharap beliau bisa meminta maaf. Kasus doa politik juga tidak boleh terulang," katanya.


Kalaupun ada doa untuk hajat pilgub, seharusnya lebih universal. Seperti mendoakan agar pilgub berjalan aman, damai, lancar, dan bermartabat. Bukan justru berharap putera terbaik Kutim menang. "Lagipula kalimat itu terkesan dipaksakan karena ajang pilgub masih jauh di akhir tahun 2013," katanya.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved