Sangatta
Doa Politik di Ajang MTQ Kutim Dinilai Tidak Patut
MUI tidak boleh masuk ke ranah politis. Saya yakin penyusunan teks doa itu tidak melalui pleno. Saya berharap beliau bisa meminta maaf
SANGATTA, tribunkaltim.co.id- Tertuturnya doa bernuansa politis dalam sesi pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke 8 di Islamic Center Bukit Pelangi Sangatta menuai sorotan. Doa politik dinilai tidak etis disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kutim dalam ajang keagamaan yang diikuti delegasi dari seluruh kecamatan di Kutim.
Pengamat
sosial Kutim, Abu Fakih, Rabu (29/2/2012), menilai salah satu bagian
doa bernuansa politis yang disampaikan H Sobirin Bagus, selaku Ketua MUI
Kutim, merupakan hal yang naif dan tidak patut. Pasalnya MUI merupakan
lembaga perekat ummat yang mestinya steril dari kepentingan politik,
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pada salah satu
kalimat doa yang dibacakan Sobirin, Selasa (28/2) malam, dituturkan
bahwa pada bulan November 2013 mendatang akan digelar pemilihan Gubernur
dan Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Timur. Sobirin kemudian
memanjatkan doa agar Yang Maha Kuasa memberikan kesempatan kepada putera
terbaik Kabupaten Kutai Timur untuk memimpin Provinsi Kalimantan Timur.
Lantas
kalimat tersebut diikuti kata "Aamiin" yang lebih keras dari rata-rata,
bahkan sebagian peserta MTQ bertepuk tangan. Tak ayal setelah sesi doa
selesai, sebagian peserta berbisik-bisik mengapa bisa ada doa bernuansa
politis di tengah acara keagamaan yang khidmad.
"Banyak
penafsiran yang muncul dari kalimat doa itu. Diantaranya dukungan
politik terhadap kandidat asal Kutim yang akan berlaga dalam Pilgub
Kaltim. Hal itu sangat jelas. Bahkan kandidat dari Kutim didoakan bisa
memimpin Kaltim alias menang," kata Abu Fakih.
Beberapa hal yang
krusial adalah doa tersebut disampaikan oleh Ketua MUI. "Mungkin bila
yang menyampaikan ketua partai atau ketua ormas masih bisa dipahami.
Namun beliau menyampaikan doa atas nama ketua MUI. Plus disampaikan
dalam forum pembukaan MTQ. Saya menilai hal tersebut naif dan tidak
patut," katanya.
Ia menilai kegiatan MTQ harus steril dari kepentingan politis. "Kalau ditafsirkan lebih jauh, doa yang diamini masyarakat itu bisa merupakan bentuk mobilisasi masyarakat untuk mendukung kandidat dari Kutim dalam pilgub. Walaupun beliau tidak menyebutkan nama kandidatnya," katanya.
Doa juga dinilai bentuk pengkondisian pra kampanye alias sosialisasi bahwa bakal ada "putera terbaik" Kutim yang bakal berlaga dalam pilgub 2013. "Penafsirannya sudah jelas. Namun yang disayangkan disampaikan di waktu dan tempat yang tidak tepat, juga oleh orang yang tidak tepat," katanya.
Abu
menilai Sobirin perlu meminta maaf secara terbuka atas kalimat doa yang
dibacanya dari teks tertulis tersebut. "MUI tidak boleh masuk ke ranah
politis. Saya yakin penyusunan teks doa itu tidak melalui pleno. Saya
berharap beliau bisa meminta maaf. Kasus doa politik juga tidak boleh
terulang," katanya.
Kalaupun ada doa untuk hajat pilgub,
seharusnya lebih universal. Seperti mendoakan agar pilgub berjalan aman,
damai, lancar, dan bermartabat. Bukan justru berharap putera terbaik
Kutim menang. "Lagipula kalimat itu terkesan dipaksakan karena ajang
pilgub masih jauh di akhir tahun 2013," katanya.