Totalitas Kapten Elie Aiboy untuk Indonesia
Dengan segala reputasinya tersebut, Elie tak gila hormat. Ia tetap memosisikan diri sejajar dengan pemain lain.
Layak Jadi Panutan
Tidak bisa dipungkiri lagi, Semen Padang membesarkan kembali nama Elie, saat memutuskan hijrah dari Persipura Jayapura pada 1999. Sebagian besar publik sepak bola Sumatera Barat kehilangan sosok Elie saat hengkang ke Persija Jakarta, pada 2002.
Elie kemudian merasakan masa keemasan kala membela Selangor pada 2005. Pada musim pertamanya di Negeri Jiran, Elie bersama Bambang Pamungkas langsung mempersembahkan gelar treble winners, yakni Liga Perdana Malaysia, Piala Malaysia, dan Piala FA Malaysia plus mengantarkan Selangor berpromosi ke Liga Super Malaysia. Gelar pemain terbaik Piala FA Malaysia 2005 berhasil disabet Elie.
Ia kembali pulang ke Tanah Air dan membela Arema Malang pada 2007. Elie sempat memperkuat "Singo Edan" berlaga di Liga Champions Asia dan menyumbangkan satu gol, meski langkah Arema terhenti di babak penyisihan grup. Semusim kemudian, Elie kembali memperkuat Selangor. Menyusul dilarangnya penggunaan pemain asing oleh Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) pada musim 2008/09, Elie mau tak mau kembali ke Negeri Jiran dan kemudian membela PSMS Medan selama semusim.
Ia lalu pindah ke Persidafon Dafonsoro pada musim 2009/10, sebelum kembali ke Semen Padang pada musim 2010/11. Elie pun mengantarkan klub tersebut menjuarai Indonesia Premier League (IPL) pada musim berikutnya.
Perjalanan Elie yang malang melintang di berbagai klub membuatnya makin matang. Dia tidak pernah berulah selama mengikuti pelatnas. Bahkan, kala mencari nama Elie di mesin pencari Google, sama sekali tidak ada catatan hitam sejak mengenakan seragam timnas di ajang kualifikasi Piala Dunia Korsel-Jepang 2002.
Dengan segala reputasinya tersebut, Elie tak gila hormat. Ia tetap memosisikan diri sejajar dengan pemain lain.
Elie juga bukan sosok yang pelit mentransferkan pengalamannya kepada rekan-rekannya yang terbilang muda.