Tribunners / Citizen Journalism
Tribunners
Pembangunan Jembatan Pulau Balang Bencana bagi Teluk Balikpapan!
Teluk Balikpapan sedang berada di bawah ancaman! Buldoser tiba pada bulan lalu di pantai timur Pulau Balang, mengeruk hutan mangrove pesisir.
Oleh: Stanislav Lhota, M.Sc., Ph.D.
Republik University of Life Sciences di Praha
IUCN SSC Primate Specialist Group
e-mail: stanlhota.indo @ gmail.com
Dataran rendah pesisir Kalimantan merupakan ekosistem yang paling beragam di dunia, tapi saat ini hanya tinggal beberapa bagian dari kekayaan masa lalu yang masih tersisa. Teluk Balikpapan di Kalimantan Timur adalah salah satu tempat yang paling berharga di masa lalu.
TAPI sekarang, Teluk Balikpapan sedang berada di bawah ancaman! Buldoser tiba pada bulan lalu di pantai timur Pulau Balang, mengeruk hutan mangrove pesisir untuk dijadikan jalan raya, yang mana hal ini akan membawa bencana ekologis kawasan Teluk Balikpapan.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa harus membangun jalan raya di daerah terpencil yang jaraknya jauh dari Teluk Balikpapan, berada di tengah hutan dan di antara satwa liar? Mengapa jalan raya tersebut tidak dirancang untuk lebih dekat ke Balikpapan dan Kota Penajam, di mana industri dan infrastruktur berkembang dengan pesat serta tersedianya transportasi yang dibutuhkan?
Mengapa harus menghancurkan ekosistem alam yang begitu unik ini, serta yang menjadi tempat bergantungnya ribuan nelayan untuk mencari nafkah, bukankah akan jauh lebih baik jika membangun jalan raya tersebut di tempat lain? Tidak ada argumentasi ekonomi yang bisa menjelaskan teka-teki suram ini.
Ada satu hal yang membuat Balikpapan berbeda dari kota-kota lain di Asia. Satu hal itu adalah keanekaragaman hayati! Tidak ada kota-kota besar lainnya di seluruh benua yang bisa bangga karena memiliki hutan hujan primer dalam wilayah pemerintahannya, terumbu karang dan padang lamun, hutan mangrove, yang merupakan rumah bagi lebih dari 100 spesies mamalia (termasuk 10 spesies primata), hampir 300 spesies burung dan lebih dari 1000 jenis pohon.
Salah satu populasi terbesar yang sangat langka yaitu bekantan masih dapat ditemukan di Teluk Balikpapan. Salah satu program rehabilitasi orangutan yang pertama kali berhasil itu berlangsung di Balikpapan. Dan semua ini dapat dijumpai dalam waktu 1-2 jam perjalanan dari bandara internasional terbesar di Kalimantan. Ekowisata Balikpapan sebenarnya berpotensi sangat besar. Tapi sekarang, semua akan rusak oleh perkembangan ekonomi yang tidak sehat!
Usulan untuk membangun jembatan melintasi Teluk Balikpapan, sebagai bagian dari jalan Trans-Kalimantan, berawal dari tahun 1990-an. Pada saat itu, teknologi saat itu tidak semaju seperti sekarang ini. Saat itu belum masuk akal jika berbicara tentang sebuah jembatan, yang akan menempuh jarak 3 km antara pinggiran kota Balikpapan dan Penajam kota. Oleh karena itu jembatan tersebut diproyeksikan untuk menghubungkan Teluk Balikpapan di Pulau Balang, tepat di atas teluk, dan juga untuk menghubungkan Balikpapan dan Penajam melalui jalan yang mengelilingi sepanjang sebagian besar pesisir Teluk Balikpapan.
Spekulasi tanah dimulai sebelum proyek jembatan telah diumumkan. Orang-orang dari suku Pasir mengklaim mereka telah menjual tanahnya kepada para spekulan sekitar Rp 1 juta hingga 2 juta per hektar. Tanah tersebut tidak berpenghuni, hampir seluruhnya merupakan hutan, sehingga orang-orang yang tinggal di desa-desa yang terpencil ini sangat ingin menjualnya kepada siapa saja.
Akibat krisis ekonomi, Proyek jembatan Pulau Balang itu akhirnya dihentikan. Tapi kemudian muncul lagi sekitar tahun 2005, melalui Gubernur Kaltim Awang Faroek sebagai pendorong utama. Proyek ini disajikan kembali sebagai sarana untuk membawa pembangunan ke Balikpapan dan Penajam. Harga tanah pun segera dinaikkan.
Tapi banyak hal telah berubah sejak 1990-an. Hutan, terumbu karang dan pantai yang ditumbuhi Bakau dari Teluk Balikpapan menjadi salah satu hutan belantara terakhir yang tersisa di sepanjang pantai Kalimantan Timur. Setiap pembangunan yang ada disana sangatlah merugikan dan merupakan kejahatan terhadap alam. Dan di sisi lain, teknologi yang telah maju serta keinginan membangun jembatan di lokasi yang lebih nyaman, yang dikenal sebagai Tanjung Batu-Gunung Seteleng, saat ini bisa dikatakan cukup layak. Ini akan membawa perkembangan yang sangat dibutuhkan ke kota Penajam yang akan perlahan-lahan tumbuh. Ini akan menghubungkan secara langsung antara pinggiran kota industri Balikpapan dan Penajam, sehingga menghindari jalan memutar, seperti saat ini yang akan menempuh jarak 120 km karena banyaknya tanah antara Pulau Balang dan Penajam telah dijual dan dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.
Karena itu, alasan ekologi dan ekonomi menjadi alasan pendukung dalam merancang ulang proyek yang berawal pada tahun 1990-an itu dan juga usulan untuk membangun jembatan dari Tanjung Batu ke Guning Seteleng, bukan di seberang Pulau Balang. Tapi yang tidak dapat dipahami, mengapa pemerintah provinsi memutuskan untuk terus mengajukan pembangunan Jembatan Pulau Balang.
Jalan raya ini diperkirakan akan dibangun di sepanjang pantai alam yang masih tersisa dari Teluk Balikpapan, melalui Pulau Balang, yang dimana hal ini akan menyebabkan bencana ekologis yang besar. Ini akan mengganggu semua koridor hijau yang sangat luas, yang masih menghubungkan pantai bakau dan Hutan Lindung Sungai Wain - hanya sebagian besar dari hutan hujan primer, yang selamat dari bencana kebakaran hutan pada tahun 1998.
Tapi yang lebih buruk lagi, yaitu kegiatan perambahan hutan secara ilegal yang tidak terkendali, perburuan, penebangan, spekulasi lahan dan pembakaran hutan. Tidak hanya geng-geng kriminal kecil mengancam hutan dengan cara ini. Perusahaan-perusahaan besar memainkan peran lebih besar, sebagaimana telah digambarkan oleh perusahaan raksasa multinasional Wilmar, yang secara ilegal membersihkan dan menguruk tanah hutan mangrove sekitar 18 hektar untuk rencana membangun sebuah kilang minyak sawit yang besar, dengan harapan bahwa akses terhadap daerah akan terbuka oleh jalan raya di masa mendatang.
Pemerintah hampir tidak mampu mencegah kegiatan ilegal seperti ini, baik yang dilakukan oleh geng kecil atau perusahaan besar. Sangat mungkin bahwa Hutan Lindung Sungai Wain, sumber air untuk industri minyak Balikpapan, tidak akan bertahan pada periode berikutnya akibat kekeringan lahan, yang akan diakibatkan oleh jalan raya di sepanjang perbatasan barat.
Untuk memahami bagaimana serius dampak dari jalan pada umumnya, Anda dapat berkendara di sepanjang jalan raya provinsi dari Balikpapan melalui Samarinda menuju Sanggata. Anda akan melewati beberapa kawasan lindung - Hutan Lindung Manggar, batas timur Hutan Lindung Sungai Wain, Bukit Soeharto Kawasan Konservasi dan Taman Nasional Kutai. Sepanjang jalan, bahkan di kawasan lindung, hutan alam telah hilang. Hal ini terjadi oleh karena perambahan yang di luar kendali membuka akses jalan di Kalimantan.