Sangatta
Balai TNK Harus Cermat Inventarisasi Kebutuhan
Yang harus disarankan adalah bagaimana pihak Balai TNK bisa proaktif menjadi pemain dalam implementasi kerjasama.
"Saya
pikir kemitraan dengan siapapun harus dianggap sebagai peluang. Banyak
peluang yang akan. terbuka. Mulai dari transfer sumber daya berupa
keahlian, dana, juga brand image. Otomatis citra Balai TNK akan
terangkat karena kemitraan ini akan terpublikasi secara internasional,"
katanya.
Untuk rambu-rambu dalam kerjasama, sebenarnya di
Indonesia sudah ada departemen yang mengatur tentang ketentuan
penelitian di Taman Nasional. Dan selama ini sudah berjalan dengan baik.
Yang
harus disarankan adalah bagaimana pihak Balai TNK bisa proaktif menjadi
pemain dalam implementasi kerjasama. Mereka harus menjadi subjek dan
bukan menjadi objek. Sehingga setelah kemitraan berakhir, banyak yang
bisa didapat.
"Jangan sampai ketika mereka pulang, kita memulai
dari nol lagi. Pada sisi lain, idealnya memang kita yang mendrive. Tapi
mereka relatif realistis juga dan bertanya apa sebenarnya kebutuhan
kita. Karena itu kita harus pandai menginventarisasi kebutuhan. Kami di
Universitas Mulawarman juga memiliki kemitraan dengan beberapa pihak
asing," katanya.
Pada sisi lain, belakangan perhatian terhadap
permasalahan orangutan juga meningkat secara signifikan. Termasuk di
TNK, yang notabene salah satu kantong utama habitat orangutan di Borneo.
Terutama pascaproses peradilan yang berujung hukuman pidana.
Belakangan
pihak BLH, BKSDA, hingga kepala daerah gencar mendorong konservasi
orangutan di lingkungan perusahaan. Bahkan banyak perusahaan yang datang
dan proaktif mencari tentang konsep konservasi.
Berita tentang
pentingnya orangutan juga semakin intens. Bahkan pasar secara
internasional pun ikut memantau. Efeknya pihak perusahaan semakin
berhati-hati. "Pengaruhnya pada kesadaran mungkin ada. Tapi yang menguat
lebih pada tuntutan untuk ramah lingkungan," kata Yaya.