Rabu, 10 Juni 2026

Sangatta

Balai TNK Harus Cermat Inventarisasi Kebutuhan

Yang harus disarankan adalah bagaimana pihak Balai TNK bisa proaktif menjadi pemain dalam implementasi kerjasama.

Tayang:
Editor: Fransina Luhukay
SANGATTA, tribunkaltim.co.id- Rencana kerjasama Indianapolis Zoo dengan Balai Taman Nasional Kutai (TNK) mendapat tanggapann dari Dr Yaya Rayadin, pakar orangutan Universitas Mulawarman. Yaya menilai Balai TNK harus cermat menginventarisasi kebutuhan sebelum kemitraan terjalin.


"Saya pikir kemitraan dengan siapapun harus dianggap sebagai peluang. Banyak peluang yang akan. terbuka. Mulai dari transfer sumber daya berupa keahlian, dana, juga brand image. Otomatis citra Balai TNK akan terangkat karena kemitraan ini akan terpublikasi secara internasional," katanya.


Untuk rambu-rambu dalam kerjasama, sebenarnya di Indonesia sudah ada departemen yang mengatur tentang ketentuan penelitian di Taman Nasional. Dan selama ini sudah berjalan dengan baik.


Yang harus disarankan adalah bagaimana pihak Balai TNK bisa proaktif menjadi pemain dalam implementasi kerjasama. Mereka harus menjadi subjek dan bukan menjadi objek. Sehingga setelah kemitraan berakhir, banyak yang bisa didapat.


"Jangan sampai ketika mereka pulang, kita memulai dari nol lagi. Pada sisi lain, idealnya memang kita yang mendrive. Tapi mereka relatif realistis juga dan bertanya apa sebenarnya kebutuhan kita. Karena itu kita harus pandai menginventarisasi kebutuhan. Kami di Universitas Mulawarman juga memiliki kemitraan dengan beberapa pihak asing," katanya.


Pada sisi lain, belakangan perhatian terhadap permasalahan orangutan juga meningkat secara signifikan. Termasuk di TNK, yang notabene salah satu kantong utama habitat orangutan di Borneo. Terutama pascaproses peradilan yang berujung hukuman pidana.


Belakangan pihak BLH, BKSDA, hingga kepala daerah gencar mendorong konservasi orangutan di lingkungan perusahaan. Bahkan banyak perusahaan yang datang dan proaktif mencari tentang konsep konservasi.


Berita tentang pentingnya orangutan juga semakin intens. Bahkan pasar secara internasional pun ikut memantau. Efeknya pihak perusahaan semakin berhati-hati. "Pengaruhnya pada kesadaran mungkin ada. Tapi yang menguat lebih pada tuntutan untuk ramah lingkungan," kata Yaya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved