Kamis, 11 Juni 2026

Sepuluh Tahun, Dua Perubahan

Gus Dur—tak menjanjikan perubahan, tetapi tergelincir perubahan-perubahan besar yang ia gerakkan. Sebaliknya, SBY menjanjikan perubahan, tetapi

Tayang:
zoom-inlihat foto Sepuluh Tahun, Dua Perubahan
| KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menjawab pertanyaan wartawan dalam acara silaturahmi bersama wartawan, di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (13/2/2012). Dalam silahturahmi selama satu setengah jam tersebut, presiden menjawab belasan pertanyaan terkait permasalahan yang terjadi di Indonesia belakangan ini, seperti kasus GKI Yasmin di Bogor, rencana pembelian pesawat kepresidenan, penuntasan kasus Bank Century hingga penanganan korupsi.

Adapun perubahan besar di era SBY terjadi pada lima tahun pertama kabinetnya: perdamaian Aceh (2005) dan konversi minyak tanah ke LPG (2009). Tak ada yang menyangkal kedua perubahan itu berdampak sangat besar dan tak lepas dari peran pendamping presiden, Jusuf Kalla, yang gigih memanajemeni dan memimpin perubahan secara konsisten.


Setelah itu sebenarnya ada banyak ide perubahan yang digulirkan, tetapi tak sedikit yang kandas di tengah jalan. Pengurangan subsidi BBM, misalnya, hampir selalu kandas di tengah jalan. Berbagai frustrasi dirasakan publik seputar impor pangan yang berlebihan, hilangnya produk- produk pangan berulang-ulang, ancaman korupsi, konflik horizontal, dan pembiaran terhadap ancaman kebebasan beragama. Namun, SBY juga dapat pujian dan pengakuan internasional.


Mengalah dan kompromi

Sebenarnya Presiden SBY masih bisa menambah daftar perubahan penting di sisa satu tahun kabinetnya, yaitu mempercepat proses reformasi birokrasi, menggencarkan pemberantasan korupsi, memperbaiki industri pertanian, dan penerapan kurikulum pendidikan yang lebih berkualitas. Keempat bidang itu menyangkut kepentingan bangsa yang luas dan terkait dengan bidang-bidang lainnya.


Tak dapat dipungkiri perubahan selalu menimbulkan kegaduhan dan kritik. Manusia ingin berubah, tetapi tidak mau diubah. Ada yang bisa ”melihat”, ada yang ”tak mau” melihatnya. Ada yang mengkritik untuk memperbaiki, tapi banyak yang langsung menolak dan menyatakan tak bernalar, pasti gagal, dan seterusnya.


Kritik tak saja menimbulkan disharmoni, konflik, dan emosi, tapi juga ide-ide baru. Ada yang menyatakan ”ini sulit tapi bisa”, ada yang menyatakan presiden lelet, tetapi begitu direspons cepat dikatakan ”tergesa-gesa”. Saat berada dalam pusaran perubahan, manusia lebih merasa heroik jadi penentang ketimbang kawan. Berkata ”no” kepada penguasa jauh lebih terhormat daripada berkata ”yes”. Apalagi bila pemerintah kehilangan kredibilitas karena perbuatan negatif kelompok internalnya.


Menjadi pertanyaan, mengapa lima tahun pertama kabinet SBY berhasil melakukan perubahan- perubahan besar? Bahkan, 56 juta rumah tangga bisa diubah kebiasaan memasaknya hanya dalam tiga tahun? Jawabnya adalah karena ada kepemimpinan Jusuf Kalla yang meneguhkan, membuat pemerintahan jadi kuat.


Dalam buku Memimpin di Era Perubahan, H Pandjaitan mengutip SBY yang banyak mengalah, berkompromi, dan lebih memilih konsensus: ”Saya tidak ingin makin menjadi-jadi konflik dan benturan politik itu yang akhirnya membawa negara kita persis seperti 10, 11, 12, 13 tahun yang lalu...” Catatan saya, ketika kelompok penentang perubahan membaca kalimat ini, mereka pun berkata, ”Kita tekan terus sampai ia berkompromi dan perubahan gagal dijalankan.”


Bila itu terjadi, kita hanya menjadi bangsa yang complancent dan tidak maju. Sebab, perubahan memang belum tentu menjadikan sesuatu lebih baik. Akan tetapi, tanpa perubahan, tak akan ada pembaruan, tak akan ada kemajuan.


Rhenald kasali Pendiri Rumah Perubahan; Guru Besar FEUI

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved