BI Balikpapan: Jelang Pemilu, Peredaran Uang Palsu Meningkat
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan berhasil mengumpulkan 73 lembar uang palsu (upal), terhitung mulai Januari hingga 17 Maret 2014.
BALIKPAPAN, tribunkaltim.co.id - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan berhasil mengumpulkan 73 lembar uang palsu (upal), terhitung mulai Januari hingga 17 Maret 2014. Agoes Darminto, Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan menuturkan, sejak awal tahun terlihat peningkatan peredaran uang palsu, yang berhasil dikumpulkan Bank Indonesia melalui setoran di perbankan maupun laporan dari masyarakat.
Berdasarkan data Kpw Bank Indonesia pada Januari ditemukan 19 lembar uang palsu masing- masing pecahan 100 ribu 18 lembar dan 1 lembar pecahan 20 ribu. Pada Februari ditemukan 20 lembar dan Maret terdata 34 lembar uang palsu.
"Pada bulan ini saja belum sampai akhir bulan, karena data tersebut hingga 17 Maret tetapi data uang palsu sudah mencapai 34 lembar," kata Agoes, Senin (17/3).
Kendati demikian, Agoes belum bisa memastikan apakah peningkatan uang palsu ini disebabkan karena tak lama lagi akan memasuki momentum Pemilu, yang seringkali dijadikan momentum bagi oknum tertentu untuk mengedarkan uang palsu. "Tetapi hal itu bisa saja terjadi, karena tahun ini merupakan tahun politik sehingga ada oknum tertentu memanfaatkan momentum ini," paparnya.
Bila dibandingkan dengan perhelatan Pemilu 2009 lalu, kata Agoes tidak lantas berdampak pada peningkatan peredaran uang palsu di wilayah Kpw BI Balikpapan. Pada tahun 2009 lalu, uang palsu yang ditemukan mencapai 49 lembar dan April 2009 hanya berkisar 3 lembar uang palsu.
"Oleh karenanya, kami akan terus memantau momentum ini dan tentunya peran serta masyarakat untuk lebih waspada terhadap peredaran uang palsu," ujarnya.
Secara berkala, Bank Indonesia menggelar sosialisasi ciri-ciri uang palsu terutama ke instansi- instansi pemerintahan maupun swasta, tak terkecuali ke kalangan mahasiswa dan siswa sekolah. "Kami juga terus melakukan sosialisasi less cash society, yakni mendorong masyarakat untuk meminimalkan penggunaan uang tunai karena masih ada berbagai pilihan mulai dari kliring dan RTGS yang lebih aman," paparnya.
Cara termudah untuk mendeteksi uang palsu, kata Agoes adalah dengan metode 3D atau Dilihat Diraba dan Diterawang. Dengan cara 'Dilihat', warna uang asli selalu terang dan jelas. Di bagian depan uang, tepatnya sudut kanan bawah, terdapat kotak kecil (bisa segi empat, segi lima, atau segi delapan) disebut Optical Variable Ink (OVI) atau tinta yang berubah warna.
Masyarakat disarankan meraba bagian angka, huruf, dan gambar pada lembaran uang. Bila kasar, uang itu asli. Terakhir, menerawang uang. Bila diterawang, uang asli memiliki tanda air berupa gambar pahlawan di bagian depan sebelah kanan.