Kamis, 23 April 2026

Melihat Buaya Pemangsa di Museum Kayu Tuah Himba Tenggarong

Buaya yang masing-masing berumur 60 tahun untuk betina dan 70 tahun untuk jantan diletakkan bersebelahan tepat di depan pintu masuk museum.

Editor: Fransina Luhukay
zoom-inlihat foto Melihat Buaya Pemangsa di Museum Kayu Tuah Himba Tenggarong
tribun kaltim/margaret sarita
Buaya pemangsa salah satu koleksi penarik pengunjung di museum kayu tuah himba.

TENGGARONG, tribunkaltim.co.id- Kota Raja atau Tenggarong memiliki beberapa tempat wisata pilihan. Selain Museum Mulawarman yang sudah terkenal sejak lama yakni  museum
Kayu Tuah Himba. Tempatnya di kawasan Waduk Panji Sukarame atau sekitar 3 Km dari pusat kota Tenggarong.

Dengan membayar karcis masuk sebesar Rp 1.500 per orang, pengunjung bisa menambah wawasan yang berkaitan dengan kehutanan. Tentang keanekaragaman jenis kayu, daun dan penyakit kayu yang ada di bumi etam.

Tak hanya itu, beberapa kerajinan khas Kaltim yang terbuat dari kayu ikut dipamerkan dalam etalase museum. Tersedia pula beragam koleksi daun-daun kering (herbarium), aneka biji-bijian, koleksi potongan kayu balok, alat pengolah kayu, hingga beragam peralatan dapur tradisional yang terbuatdari hasil hutan di Kalimantan.

Menariknya, di museum ini pengunjung juga bisa melihat sepasang buaya muara (Crocodelus porosus),si pemangsa manusia yang diawetkan dalam kotak kaca. Kedua buaya yang masing-masing berumur 60 tahun untuk betina dan 70 tahun untuk jantan diletakkan bersebelahan tepat di depan pintu masuk museum.

Kedua ekor buaya muara  ini pernah menggegerkan masyarakat Kaltim pada tahun 1996 karena telah memangsa dua manusia di dua tempat terpisah yakni Sangatta (Kabupaten Kutai Timur) dan Muara Badak (Kabupaten Kutai Kartanegara).

“Buaya pertama ditangkap pada 8 Maret 1996 di sungai Kenyamukan, Kecamatan Sangatta (waktu itu masih masuk wilayah Kabupaten Kutai sebelum pemekaran) setelah memangsa seorang wanita bernama Ny Hairani (35). Buaya jantan berusia sekitar 70 tahun dengan jenis kelamin jantan ini memiliki panjang sekitar 6,6 meter, berat 350 kg dan lingkar perut 1,8 meter,” ungkap petugas museum.

Sementara buaya kedua dengan jenis kelamin betina yang memangsa pria bernama Baddu (40) di Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak (Kabupaten Kukar) berhasil ditangkap pada tanggal 10 April 1996. Buaya ini memiliki panjang 5,5 meter, berat 200 kg deng lingkar perut sekitar 1 meter.

Potongan tubuh manusia yang dimakan oleh kedua buaya itu, keluar dari perut si buaya saat dibunuh warga. Keduanya akhirnya diawetkan dan dipajang di Museum Kayu Tua Himba. Untuk melengkapi informasi mengenai kedua buaya yang telah diawetkan ini, pengelola Museum juga memajang guntingan koran yang berisi berita mengenai buaya yang memangsa manusia ini, termasuk berita tertangkapnya buaya ini oleh pawang buaya yang sangat berpengalaman di Kabupaten Kutai.(*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved