Kapal Pelni Docking, Penumpang Kapal Swasta di Nunukan Membludak
Dua kapal milik swasta yang melayani penumpang dari Pelabuhan Tunon Taka Nunukan menuju ke Parepare, Sulsel tak mampu mengatasi lonjakan penumpang.
Tayang:
Editor:
Fransina Luhukay
NUNUKAN, tribunkaltim.co.id- Ledakan jumlah penumpang tak bisa terbendung selama lebih sepekan ini. Dua kapal milik swasta yang melayani penumpang dari Pelabuhan Tunon Taka Nunukan menuju ke Parepare, Sulawesi Selatan tak mampu mengatasi lonjakan penumpang. Akibatnya tak sedikit penumpang yang tak terangkut kapal.
Manager Operasional PT Pelindo VI Marihot Sagala mengatakan, sudah dua pekan ini kapal milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) didok sehingga tidak beroperasi. Padahal KM Bukit Siguntang sebagai satu-satunya kapal milik PT Pelni yang beroperasi di Nunukan, bisa melayani hingga 5.000 penumpang.
Akibat tidak beroperasinya KM Bukit Siguntang, para penumpang harus berebut untuk bisa menumpang dua kapal swasta KM Thalia dan KM Cattleya. "Karena seharusnya penumpang itu terbagi ke Bukit Siguntang, jadi dia cuma masuk KM Thalia dan KM Cattleya. Jadi seharusnya dia ada tiga kali masuk, tetapi berkurang karena Bukit Siguntang tidak masuk. Dia cuma dua kali dalam seminggu," ujarnya.
KM Bukit Siguntang melayani pelayaran dari Pelabuhan Tunon Taka Nunukan setiap Senin pada pekan pertama dan Selasa pada pekan kedua. Kapal tersebut melayani rute ke Pulau Sulawesi hingga ke Nusa Tenggara Timur. "Karena sedang docking, penumpang beralih ke kapal swasta," ujarnya.
Akibat membludaknya jumlah penumpang, dua kapal swasta ini seringkali diberangkatkan lebih cepat dari jam seharusnya. Sehingga tak sedikit penumpang yang gagal terangkut. "Jadi kalau di Nunukan itu kan sudah unik. Itu sudah tradisi. Dalam arti itu mungkin saking tidak ada lagi tempat," ujarnya,"Itu masalah penumpang itu ada di Syahbandar. Berapa dispensasi yang diberikan? Berapa jumlah penumpang yang sebenarnya? Ada di Syahbandar. Kalau kita masalah penyediaan fasilitas saja. Yang jelas penumpang membludak, karena biasa tiga kali, sekarang cuma dua kali."
Tak hanya menyebabkan banyak penumpang tak terangkut, tidak beroperasinya KM Bukit Siguntang tentu sedikit mengganggu kenyamanan penumpang yang hendak menuju ke Nusa Tenggara Timur. Biasanya mereka cukup naik KM Bukit Siguntang dari Pelabuhan Tunon Taka Nunukan sampai ke Nusa Tenggara Timur, dengan kapal milik swasta mereka harus turun di Parepare dan mencari kapal lain.
"Yang seharusnya dia ke timur Indonesia terutama NTT naik KM Bukit Siguntang, sekarang dia beralih ke kapal tujuan Surabaya langsung ke NTT. Jadi dia seharusnya dari Nunukan langsung, dia harus berganti kapal," ujarnya.
Mayoritas para penumpang yang berangkat dari Pelabuhan Tunon Taka Nunukan merupakan warga negara Indonesia, umumnya tenaga kerja Indonesia asal Negara Bagian Sabah, Malaysia.
Marihot mengatakan, setelah dok tahunan, kemungkinan pada pekan depan KM Bukit Siguntang bisa kembali melayani penumpan. "Paling lama sebulanan lah itu. Sudah ada perencanaan mau dock. Jadi kalau masuk bulan puasa dia sudah beroperasi lagi," ujarnya.
KOMENTAR