Putri Franky Sondakh Histeris Sambut Jenazah Ayahnya
Istri almarhum Franky Sondakh, Nova Maramis (39), tampak sibuk menenangkan anak-anaknya saat kedatangan jasad di terminal Cargo Bandara Sam Ratulangi
MANADO, TRIBUNKALTIM.co.id - Istri almarhum Franky Sondakh, Nova Maramis (39), tampak sibuk menenangkan anak-anaknya saat kedatangan jasad di terminal Cargo Bandara Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara, Selasa (4/11/2014). Anak-anaknya menangis histeris, seakan tak rela ditinggal ayah yang mereka cintai.
Pagi itu, Nova berjalan masuk melewati batas keamanan khusus karyawan. Ia berusaha memeluk putrinya yang menangis histeris. Empat anaknya ikut membawa ayahnya dari Jakarta, yang sebelumnya meninggal di Balikpapan, Kalimantan Timur. Bianca (18), Anastasya (14), David (10), serta Isekel (4) tak mau jauh dari peti ayahanda mereka dalam ruangan itu.
Sang istri Nova meski tak tampak menitikkan air mata, dari raut wajahnya terlihat kesedihan mendalam. Sedangkan dari keempat anak almarhum Anastasya terlihat paling sedih. Satu diantara putri tercinta ini sejak dari Bandara Samratulangi hingga di rumah duka terus menangis histeris. Baca: Wanita Teman Kakak Angelina Sondakh Masih Diperiksa Polisi)
Nova berusaha menenangkan anak-anaknya yang histeris, tak kuasa menyaksikan ayahanda tercinta yang telah terbujur kaku.
Tak lama kemudian, Prof Lucky Sondakh, kakek mereka muncul tiba-tiba dan ikut masuk mendekat. Setelah berbincang bersama menantu dan cucunya, kemudian keluar dari ruangan itu. "Nanti saja setelah saya kembali," ujar Prof Lucky yang sibuk mencari ambulans.
Sekitar pukul 11.50, mereka meninggalkan bandara menuju kediaman Prof Lucky, rumah duka, di Kelurahan Batukota Kecamatan Malalayang. (Baca: Polisi Temukan Obat Kuat di Kamar Franky Sondakh)
Pantauan Tribun Manado, Tribun Network, kerabat dan tetangga menanti di rumah yang telah didandani.
Beberapa saat kemudian setelah peti jenazah diturunkan dari mobil, hujan pun turun. Suasana duka sangat jelas terasa, para keluarga dan kerabat yang menunggu menangis.
Prof Lucky pun siap diwawancara. "Iya, anak saya itu riwayatnya sakit jantung. Tapi saya bukan dokter, saya tidak tahu soal otopsi," bebernya kemudian menambahkan, Enji, sapaan Angelina Sondakh, kemarin seharian bersama di rumahnya Franky di Jakarta.
Saat ditanya terkait Youth Center ia tutup mulut. "Jangan kaitkan, itu bukan urusan saya," kata Profesor geram. Sebelum meninggal, Franky mengelola usaha keluarganya.
"Dia pernah bilang, Papa meski saya bukan profesor tapi saya bisa," kenang Profesor yang saat itu tampak tegar. Namun, ia juga mengakui merasa sedih.
"Tapi sebagai nakhoda keluarga besar, saya tidak boleh larut dalam kesedihan," tuturnya penuh percaya diri. Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat, jika ada kesalahan dan kelemahan Almarhum agar dimaafkan.
"Tolong dimaafkan, juga mohon dukungan doa untuk istrinya serta ayah dan ibunya supaya bisa melaksanakan impiannya," harap Lucky. Pada Kamis (6/11), rencananya, jenazah Franky akan dikebumikan di pekuburan Sentosa atau Arimatea Desa Maumbi, Kecamatan Kalawat, Minahasa Utara.
Pernyataan turut berduka cita kepada keluarga besar Prof Dr Lucky Winston Sondakh- Dotulong tak hanya diutarakan secara langsung di rumah duka.
Ratusan ucapan turut berbelasungkawa diutarakan rekan-rekan Prof Lucky dijejaring sosial facebook. Beberapa rekan keluarga, kerabat bahkan yang kini tinggal di luar negeri mengucapkan simpatinya melalui jejaring facebook.
Beberapa diantara yang mengucapkan turut berdukacita mengaku teman almarhum. Lainnya rekan Prof Lucky sebagai dosen dan berbagai organisasi sosial yang pernah Prof Lucky dan keluarga besarnya berkarya.
Tampak hadir juga di rumah duka anggota DPRD Sulut, Inggried Sondakh dan keluarga besar Sondakh lainnya. (tribun manado/alp)