Breaking News
Kamis, 11 Juni 2026

Kisah Manusia Perahu

Saya Tidak Tahu Berapa Bulan Istri Hamil

Manusia perahu yang mayoritas wanita dan anak-anak itu pun tidur tak beraturan beralaskan terpal. Di mana ada ruang kosong, di situ mereka tidur.

Tayang:

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Lebih dari 500 manusia perahu hingga kini masih tinggal di tempat penampungan di Lapangan Bulalung, Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau. Sebelas orang di antaranya dalam kedaan hamil.

Selama sepekan ini, para keluarga nelayan tanpa identitas yang diduga berasal dari Sampurna, Malaysia, itu tinggal di tenda-tenda darurat yang disediakan Pemkab Berau dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. (Baca juga: Ratusan Manusia Perahu Diduga Perdagangkan Senjata Api di Berau).

Manusia perahu yang mayoritas wanita dan anak-anak itu pun tidur tak beraturan beralaskan terpal. Di mana ada ruang kosong, di situ mereka tidur meski udara di dalam tenda cukup pengap dan bau.

Alam, salah seorang manusia perahu, dibantu seorang penerjemah mengungkapkan, 11 orang dari seluruh kelompok mereka dalam keadaan hamil, termasuk istrinya. Alam memiliki 4 orang anak, dan satu lagi yang kini sedang ada di dalam kandungan istrinya.

Alam mengaku tidak khawatir dengan kondisi istrinya yang saat ini tengah hamil tua. "Saya tidak tahu sudah hamil berapa bulan tapi istri saya sehat saja, kami ini umur sendiri saja tidak ingat," kata Alam didampingi istri dan empat anaknya.

Sang istri tampak malu-malu dan enggan menjawab pertanyaan TRIBUNKALTIM.CO, setiap pertanyaan yang diajukan hanya dijawab dengan senyum simpul.

Alam menuturkan, hidup sebagai manusia perahu memang serba terbatas, tidak hanya mengalami keterbatasan mengakses pendidikan, tempat mereka tinggal pun terbatas dari haluan sampai buritan kapal.

"Saya tidak bisa menulis, tidak bisa bahasa lain selain bahasa suku Bajau. Anak dan istri saya juga tidak pernah sekolah, yang lain juga seperti itu," ujarnya.

Hidup di tengah laut juga membuat mereka tak dapat mengakses fasilitas kesehatan. Alam mengisahkan, keempat anaknya terlahir di atas kapal. "Dulu anak pertama dan anak kedua lahir dibantu dukun beranak, ada ibu-ibu tua di darat kami panggil untuk membantu anak lahir, tapi kelahirannya tetap di atas kapal," ungkapnya.

Sedangkan dua anak yang lain, kata Alam lahir sendiri di atas kapal dengan dibantu wanita lain yang juga tinggal di atas kapal.

Perempuan lain yang juga tengah hamil adalah Aida. Tidak jauh berbeda dengan istri Alam, saat melahirkan Aida juga hanya dibantu dukun beranak. "Tapi kalau sudah di tengah laut, saya hanya dibantu keluarga saja. Sampai sekarang anak saya sehat semua," kata Aida yang tengah mengandung anak kelimanya. (*)

Ikuti perkembangan Kisah Manusia Perahu di portal TRIBUNKALTIM.CO dan edisi cetaknya. Serta like facebook TRIBUN KALTIM dan follow @tribunkaltim

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved