Kisah Manusia Perahu
Tak Ada yang Lebih Indah selain Kembali ke Laut
Melaut merupakan hal yang paling diidamkan oleh 500-an manusia perahu yang saat ini ditampung di Tanjung Batu, Berau.
Penulis: Rafan Dwinanto |
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG BATU - Melaut merupakan hal yang paling diidamkan oleh 500-an manusia perahu yang saat ini ditampung di Tanjung Batu, Berau. Bagi mereka, tak ada yang lebih indah selain kembali ke perahu yang menjadi rumah idaman mereka.
Baco, petugas di Dermaga Tanjung Batu melangkah tergesa memasuki area penampungan manusia perahu di Lapangan Bulalung, Tanjung Batu, Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau, Jumat (28/11/2014).
Baco yang lancar berbahasa Bajau lantas menghampiri beberapa pria dewasa yang duduk santai di tenda bagian tengah. Diajak berbicara oleh Baco, beberapa pria langsung berdiri. Tampaknya terjadi perbincangan cukup serius di antara mereka. Melihat hal itu, puluhan manusia perahu yang berada di tenda lainnya langsung mengerumuni Baco.
Dibantu petugas keamanan, Baco akhirnya membawa delapan pria manusia perahu ke atas mobil pikap. "Beberapa perahu mereka nyaris karam. Makanya saya bawa yang pemilik perahu supaya menguras air yang hampir memenuhi perahunya di dermaga," ujar Baco.
Setibanya di dermaga, tak ada tangga atau fasilitas lainnya menuju perahu. Tak ingin berlama-lama, dua manusia perahu langsung melompat dari pagar dermaga dan meniti tali perahu yang terikat di dermaga.
Satu perahu berukuran sekitar 2 meter yang tertambat di belakang perahu utama yang berukuran 10 meter langsung dilepas. Satu dari dua pria tadi langsung mengayuh sampan dan menjemput enam rekan mereka lainnya yang masih di dermaga.
Terdapat sekitar 8 kapal utama berukuran sekitar 10 meter. Di dalam kapal tersebut terdapat perlengkapan rumah tangga seperti tungku untuk memasak. Kasur lengkap dengan bantal serta peralatan lain untuk menangkap ikan seperti kail, tombak, hingga pukat.
Tujuh pria langsung menimba air menggunakan ember maupun memompa saluran pembuangan air. Sementara, satu pria terlihat sibuk menjemur ribuan ikan pari kering siap jual.
"Harga ikan pari perekor kalau di Berau Rp 5.000. Tapi kalau di Malaysia bisa sampai 3 ringgit. Yang mereka tangkap ini ikan pari anakan. Ini baru pari. Belum termasuk Kima (kerang besar) yang harganya bisa sampai Rp 100 ribu perkilogram keringnya, dan di Malaysia bisa dihargai Rp 300 ribu," ujar Hasan, salah seorang nelayan di Tanjung Batu.
Hasan dan mungkin nelayan di Berau lainnya nampak kesal dengan ulah manusia perahu yang mengambil hasil laut di Kabupaten Berau.
"Bohong kalau mereka miskin. Lihat saja di penampungan mereka belanja pakai uang pecahan Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu," sebutnya.
Keyakinan Hasan kian menguat kala melihat dapur pacu milik manusia perahu. "Lihat saja mesin kapal mereka Yanmar 33. Di Tarakan, harga mesin ini Rp 108 juta. Mana ada nelayan di Berau yang sanggup beli mesin ini," ujar Hasan diamini petugas keamanan dari Polsek Tanjung Batu.
Hasan dan aparat kepolisian di Berau sangat yakin manusia perahu melakukan aksi pencurian hasil laut di perairan Berau. Diduga, ratusan manusia perahu ini dimanfaatkan oleh pengepul untuk menguras hasil laut Berau.
"Mereka mencari ikan dengan kapal kecil. Hasilnya kemudian dikumpulkan di perahu yang lebih besar. Nah perahu yang lebih besar ini yang menjual ke cukong. Entah cukongnya orang kita (Indonesia) atau orang Malaysia," sebut Hasan.
Diperkirakan, aksi manusia perahu di peraiaran Berau ini sudah berlangsung sekitar 5 tahun. "Soalnya 2010 lalu kita pernah menangkap manusia perahu juga. Setelah itu dilepas. Ehh sekarang orang itu tertangkap lagi," ujar petugas keamanan dari Polsek Tanjung Batu.
Bila dilihat di penampungan, kondisi manusia perahu sangat memprihatinkan dan mengundang iba siapapun yang menyaksikan. Mereka tetap terlihat riang dengan segala keterbatasan di penampungan.