Hari Kesehatan Nasional
Peringati HKN, Seluruh Puskesmas di Samarinda Tutup Layanan Lebih Awal
Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional, seluruh pegawai di seluruh Puskesmas di Samarinda akan tutup lebih awal, hanya sampai pukul 10.00
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Seluruh pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di kota Samarinda, Kamis (4/12) akan tutup lebih cepat. Jam pelayanan yang biasanya dibuka sampai pukul 11.00, khusus hari ini hanya sampai pukul 10.00 karena seluruh pegawai puskesmas diwajibkan mengikuti acara peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2014.
Puncak acara HKN 2014 akan digelar di GOR Segiri Samarinda. Dinas Kesehatan Kota Samarinda telah membuat edaran yang meminta seluruh staf puskesmas mengikuti acara tersebut.
"Acara HKN besok merupakan agenda puncak dari peringatan HKN 2014 di Samarinda. Melibatkan seluruh staf puskesmas se-Samarinda. Oleh karena itu seluruh puskesmas tidak akan melakukan pelayanan maksimal. Kami mohon maaf kepada warga atas terganggunya pelayanan," papar Kepala Dinas Kesehatan drg. Nina Endang Rahayu.
Dia juga mengatakan, puskemas tetap akan buka, namun dengan personil yang sedang piket. Emergency juga masih akan dilayani. "Kalau Hari KORPRI kemarin, sekolah-sekolah diliburkan, tapi kalau kami tidak, meski nanti kurang maksimal," pungkasnya.
Selain Pencanangan 1.000 Hari Pertama Kehidupan, acara HKN Kota Samarinda itu juga ada kegiatan lain, seperti penyerahan sertifikat ISO 9001 : 2008 ke Puskesmas Karang Asem, penandatanganan perjanjian kerjasama peningkatan kesehatan ibu dan anak, antara Dinkes Samarinda dengan lima akademi kebidanan di Samarinda.
Enggan Beber Gizi Buruk
Dalam rangka memperinhati HKN 2014 yang dipusatkan di GOR Segiri Samarinda, Kamis (4/12), Pemkot Samarinda akan mencanangkan program 1.000 hari pertama kehidupan. Pencanangan ini dilakukan karena kesadaran masyarakat terkait penanganan tepat terhadap bayi yang baru lahir masih rendah.
Namun, Kasi Promkes Dinas Kesehatan Kota Samarinda, drg Deasy Evriyani, enggan menyebutkan jumlah kasus bayi kurang gizi atau gizi buruk di wilayahnya. "Bayi kurang gizi atau gizi buruk masih ada. Tidak sampai sepuluh anak. Data konkretnya kami belum bisa menyebutkan karena belum akhir tahun," kata Deasy meski didesak memberitahukan data hingga akhir Oktober saja, di Samarinda, Rabu (3/12).
Meski demikian, dirinya mengatakan jumlah bayi kurang gizi atau gizi buruk masih dapat ditekan. "Kesehatan ibu dan anak dengan zero kematian ibu dan anak terus kami upayakan dalam memberikan pelayanan," tuturnya.
Adanya pencanangan program nasional itu dikarenakan masih ada kelompok-kelompok masyarakat yang menolak sejumlah tindakan yang harus diambil dalam program itu, mulai sejak sembilan ibu hamil sampai dua tahun pertama pertumbuhan anak.
"Tindakan-tindakan yang ditolak sekelompok masyarakat itu seperti pemberian asi ekskusif, inisiasi menyusui dini, dan melakukan penimbangan rutin di Puskesmas. Hal itu dikarenakan kesibukan orangtua bayi," jelas Deasy.
Namun mengenai dugaan kurang maksimalnya penyuluhan ke masyarakat, Deasy menampiknya. "Penyuluhan ke masyarakat, seperti melalui kader PKK, sudah cukup. Masyarakat saja yang kurang sadar pentingnya hal itu," imbuhnya.
Program 1.000 hari pertama kehidupan itu dimulai sejak sembilan bulan ibu hamil atau 270 hari dalam kandungan, serta pada dua tahun pertama pertumbuhan anak atau 370 hari.(*)