Pelecehan Seksual
Faktor Gadget, Ekonomi, Kurang Komunikasi Sebabkan Pelecehan Seksual
Dari kasus pelecehan seksual, ada beberapa mungkin kita temui keluarga terdekat melaporkan ke pihak berwajib. Namun, ada juga yang tidak melakukannya
Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Ade Miranti
TRIBUNKALTIM.CO - ORANGTUA selalu ingin anak-anaknya dalam keadaan yang aman, terhindar dari kekerasan terutama menghindari pergaulan yang salah. Dari kasus pelecehan seksual, ada beberapa mungkin kita temui keluarga terdekat melaporkan ke pihak berwajib. Namun, ada juga yang tidak melakukannya. Dengan alasan karena malu atau diancam oleh si pelaku. Dari kacamata psikolog, Dwita Salverry mengatakan kasus pelecehan seksual umumnya dilakukan oleh orang terdekat.
"Korban pelecehan seksual itu berulang. Kebanyakan pelecehan seksual terjadi pada orang terdekat atau hubungan sosial. Seperti tetangga atau orang dia kenal," katanya. (BACA: Hebat, Polwan India Hukum Pelaku Pelecehan Seksual di Depan)
Dwita menjelaskan, pelecehan seksual yang terjadi pada usia di bawah 17 tahun, semisal anak yang duduk di bangku sekolah dasar bisa disebabkan anak tidak memahami arti hubungan seksual. Atau kurangnya komunikasi pada satu keluarga serta minimnya pengetahuan tentang masalah seksual dan akibatnya.
"Pada usia SD tidak ngerti bahwa itu pelecehan atau hubungan seksual. Biasanya, antara bapak, ibu dan anak kurang komunikasi. Faktor ekonomi juga mempengaruhi. Apalagi zaman sekarang, anak-anak bisa mengakses melalui gadget. Satu contoh anak SD yang terkena pelecehan oleh ayahnya sendiri, anak ini hanya tahu rasa aman yang dijanjikan oleh si ayah. Si ibu juga jarang mengawasi dan sibuk dengan urusannya sendiri. Wajar kalau anak itu diiming-imingi dari omongan si ayah, hingga terjadinya hubungan seksual," katanya memaparkan.
Selain itu, hukum bagi pelaku pemerkosaan atau pelecehan seksual begitu ringan, katanya. Hal itu juga menjadi faktor penting, karena tidak mendapatkan efek jera bagi si pelaku. Di sisi lain, para keluarga korban enggan melaporkan karena memikirkan nama keluarga besar yang disandang.
"Hukum di Indonesia ini sangat lemah sih.. Hanya dua tahun penjara saja. Terus keluarga nutup-nutupin karena malu, inilah yang dimanfaatkan pelaku karena menyangkut keluarga," ujar Dwita menyesalkan. (BACA: Yesika Selamat Dari Perkosaan Berkat Korset)
Anak usia 0 -8 tahun, lanjutnya, merupakan pembentukan emosi. Lalu, usia di atas 8 tahun, sang anak mulai berpikir logika. Usia 0 -8 tahun, para orang tua terutama bagi ibu-ibu wajib menumbuhkan hal-hal yang positif dan memberikan kenyamanan pada anak.
"Pada saat anak itu melewati usia dini 0 (nol) sampai 8 (delapan) tahun, anak membentuk emosi. Sesudah usia 8 (delapan) berkembang logikanya. Usia golden age ini, ibu-ibu terus mengajak anaknya berkomunikasi. Sehingga terbentuk kedekatan anak dan ibu dengan hal-hal positif. Jadi, misal anaknya ada masalah, dia merasa nyaman dan terbuka kepada ibunya," ujarnya. (*)