Feature
Sudah Ada Fasilitas Kesehatan Namun Masih Ada yang Berobat ke Dukun
Begitu dipastikan positif terkena campak, sang anak diberi obat dan disuntik. "Tidak sampai seminggu sembuh," ujarnya.
HASBUL (32), warga RT 03 Kanduangan Kecil memastikan, anaknya Hasri Misilan (6) sudah sembuh dari penyakit campak setelah mendapatkan perawatan selama sepekan."Dia kenanya sekitar dua minggu lalu," ujar Hasbul yang diamini Serlin (23) istrinya.
AWALNYA, Serlin tidak tahu bahwa anaknya sedang terkena campak. Dia mengira, sang anak hanya terserang kerumut dan demam biasa. "Nanti dokternya datang ke rumah baru kita tahu," ujarnya.
Begitu dipastikan positif terkena campak, sang anak diberi obat dan disuntik. "Tidak sampai seminggu sembuh," ujarnya.
Selama proses pengobatan, anaknya itu tidak diperbolehkan keluar rumah. "Dikasih obatan-obatan, tidak boleh main di luar. Di rumah saja main-main sendiri," katanya.
Hasri tidak pernah diimunisasi tertular campak dari teman-teman di lingkungannya. Serlin mengatakan, selama ini mereka hanya mengandalkan air hujan dan air sumur yang kebersihannya belum tentu terjamin. (Baca: KLB Campak, Murjani Buru Pasien hingga ke Kebun Sawit)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan mengatakan, sanitasi sangat berpengaruh untuk menularkan penyakit. Namun untuk kasus campak, yang lebih penting pada kebersihan tubuh masing-masing.
"Ini kan virus, artinya menyangkut kepada ketahanan tubuh, kebersihan tubuh. Beda dengan DBD misalnya sumber utama kebersihan lingkungan dari nyamuk. Tetapi kalau virus itu tergantung pada kebersihan orangnya dan gizi," ujarnya.
Dia mengatakan, campak akan dengan cepat menyebar jika pasien memiliki kemampuan daya tahan tubuh yang rendah.
"Makin seringnya kontak antara penderita dengan yang lainnya, makin cepat juga terkena," ujarnya.
Ervina, bidan yang bertugas di Puskesmas Pembantu Desa Sekaduyan Taka mengatakan, dalam sebulan mereka bisa menangani rata-rata 380 hingga 400 pasien.
Dia dan dua perawat lainnya harus menangani pasien sebanyak itu. Selain infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), mereka juga banyak menangani pasien demam, batuk dan pilek maupun gatal-gatal.
Penyakit ini tentunya terkait dengan kebersihan lingkungan maupun tubuh warga. Sebagian besar warga setempat berkebun kelapa sawit.
"Ini pengaruh lingkungan karena debu. Karena rata-rata kerja kelapa sawit. Pulang belum cuci tangan, anaknya langsung digendong," ujarnya. (Baca: Pagi Ini Kadinkes Kaltara Kunjungi Pasien Campak di Siemanggaris)
Karena itu, pihaknya tidak bosan-bosan menyampaikan kepada warga setempat agar sepulang dari kebun tidak langsung menggendong anaknya.
"Tetapi mandi dulu," ujarnya.
Puskesmas Pembantu Desa Sekaduyan Taka memberikan pelayanan kepada warga setiap saat. Kebetulan, tenaga yang bertugas tinggal di samping sarana kesehatan dimaksud.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/hasri-misilan-dan-ibunya.jpg)