Risalah
Mengapa Anak-anak Tidak Betah Bicara via Telepon pada Ayah?
Perempuan ini sudah menikah dan punya anak. Tapi yang diceritakannya adalah tentang orang tuanya sendiri.
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Di era modern ini, proses komunikasi menjadi lebih mudah. Tidak hanya lewat dunia maya, piranti telepon pun masih menjadi pilihan utama. Dan hampir setiap orang remaja dan dewasa di republik ini memiliki handphone.
Pertanyaannya, apakah kita tetap punya waktu menelepon orang tua untuk sekedar berbincang ringan di tengah kesibukan? Kalaupun ada waktu, apakah masih berdiskusi hangat dengan ayah? Kalaupun jawabannya tidak, mengapa itu terjadi?
Tribunkaltim.co mengutip tulisan Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, Direktur Auladi Parenting School, yang dimuat www.auladi.net. Trainer parenting internasional yang juga telah mengisi training di lebih dari 70 kota di Indonesia itu mengulas fenomena “keringnya” komunikasi ayah dan anak yang ternyata berakar dari pola asuh di masa kecil.
***
Cerita ini dikisahkan seorang perempuan, sebut saja ibu UQ, lewat facebook kepada saya. Perempuan ini sudah menikah dan punya anak. Tapi yang diceritakannya adalah tentang orang tuanya sendiri.
Cerita ini bagi saya sungguh membuat pikiran saya merenung panjang. Apakah saya akan menjadi orangtua yang secara tidak sengaja atau tidak mendapat perlakuan begini kelak? Dan ini cerita ini saya pikir patut diketahui oleh banyak para ayah lain di dunia. (BACA: Kontrol Pemakaian Gadget Anak, Orangtua pun Harus Benahi Diri Sendiri)
“Assalaamualaikum...Abah, saya ingin berbagi cerita, Ayah dan Ibu sekarang sudah sepuh, kami 4 orang anak-anaknya (3 laki-laki dan 1 perempuan yaitu saya) sudah berkeluarga semua dan tinggal terpisah dengan mereka. Pada suatu hari Ayah kami protes terhadap Ibu dan ini yang dikatakanya”
“Mengapa setiap anak-anak telepon, lalu telepon itu yang jawab Ayah, selalu yang pertama diucapkan anak-anak ‘Ibu mana pa? Ibu sehat pa?’ atau ‘Pa maaf mau berbicara dengan Ibu’, selalu yang dicari Ibunya. Sedangkan saya sebagai Ayahnya yang menjawab telepon ditanya kabarnya pun tidak.”
Begitulah cerita Ibu kepada kami berempat anak-anaknya. Tanpa kami sadari memang seperti itu adanya, Ibu adalah sangat berarti bagi kami dan kami anak-anaknya lebih dekat dan lebih nyaman dengan Ibu.
Dengan bijak Ibu memberi saran kepada kami agar lebih peduli dengan Ayah, di hari tuanya setelah 10 tahun lalu pensiun, Ayah tidak banyak kegiatan. Sehingga, Ayah sering merasa kesepian. (BACA: Ini Perbedaan Mendidik Anak Saleh dan Salah)
Kami anak-anak bukan tidak sayang dengan Ayah. Bagi kami Ayah dan Ibu sama-sama kami sayangi. Permasalahannya dari kecil kami dekat dengan Ibu karena 90% kami dirawat dan dididik oleh Ibu sebagai Ibu Rumah Tangga.
Ayah yang seorang aparat, waktunya banyak tercurah untuk pekerjaannya sebagai abdi negara. Sehingga, sering Ayah pulang larut malam bahkan hari libur sekalipun Ayah masih harus dinas. Bisa kita petik hikmahnya ya Abah, bahwa sesibuk apapun peran Ayah dalam mendidik anak-anaknya juga penting.
Sewaktu Ayah muda tidak menyadari bahwa Ayah jarang sekali bercengkerama atau berdiskusi bersama kami anak-anaknya waktunya dihabiskan di luar rumah dengan dalih pekerjaan. Hal ini membuat kami anak-anaknya tidak dekat.
Kini, Ayah di masa tuanya mengisi hari-hari di rumah merasa kesepian dan merasa anak-anaknya jauh darinya. Semoga para Ayah di luar sana dapat membaca cerita yang kami alami ini serta dapat mengambil pelajaran dari cerita ini.
Dan untuk Ayahku tercinta maafkan atas sikap kami Ayah, sungguh bukan maksud kami tidak peduli, kami berjanji untuk lebih memperhatikan Ayah. Bagi kami Ayah dan Ibu adalah segalanya. Kami harap di hari tuanya Ayah dan Ibu dapat berbahagia menyaksikan anak-anaknya berhasil dalam karier dan rumah tangganya dan semoga kami dapat menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kami. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ayah-dan-anaknya.jpg)