Perayaan Minggu Palma
Sambut 'Sang Raja Penyelamat', Umat Katolik Perarakan dari Tugu Dwi Kora
Perayaan Minggu Palma ini diperingati dengan arak-arakan yang dimulai dari Tugu Dwi Kora, alun-alun Nunukan menuju ke Gereja Katolik Paroki ST Gabriel
TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Ribuan umat Katolik di Pulau Nunukan, Kalimantan Utara, Minggu (29/3/2015) merayakan Minggu Palma yang menandai dimulainya Pekan Suci, sepekan sebelum Hari Raya Paskah. Minggu Palma ini mengenang saat Yesus masuk ke Yerusalem, dipenghujung masa hidup-Nya. Saat itu umat menyambut-Nya dengan daun palem.
Perayaan Minggu Palma ini diperingati dengan arak-arakan yang dimulai dari Tugu Dwi Kora, alun-alun Nunukan menuju ke Gereja Katolik Paroki ST Gabriel Nunukan.
Sejak pukul 07.00 pagi, setengah jam sebelum dimulainya misa, umat sudah berkumpul di depan Tugu Dwi Kora. Mereka datang dengan membawa daun palem. Daun palem itu kemudian dikumpulkan di dua meja besar di depan imam.
Umat berbaris sesuai dengan lingkungan masing-masing. Ada beberapa umat yang mengenakan pakaian adat untuk kemeriahan acara itu. Setelah dibuka dengan doa, Pastor Lukas Nurak memberkati daun palem yang telah dikumpulkan itu. (BACA juga: Merayakan Paskah dengan Damai Cinta dan Kasih Keluarga)
Perarakan kemudian dimulai dari pembawa dupa, salib dan lilin lalu imam, misdinar, lektor diikuti ribuan umat. Selama perarakan, umat melambai-lambaikan daun palem hingga tiba di gereja yang jaraknya sekitar 150 meter dari Tugu Dwi Kora.
Sejumlah anggota polisi dari Satuan Lalu Lintas Polres Nunukan dan personel Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Nunukan, tampak ikut mengatur lalu lintas. Selama berlangsungnya acara, polisi mengalihkan lalu lintas yang melewati depan Tugu Dwi Kora.
Pastor Lukas dalam homilinya mengatakan, perayaan Minggu Palma memiliki dua wajah. Di luar gereja, perayaan ini bernuansa gembira dan meriah.
“Ini mau menunjukkan sisi Yesus sebagai Raja Penyelamat yang hendak memberikan nyawa-Nya bagi segenap umat yang percaya kepada-Nya,” ujarnya.
Dia mengatakan, sosok Yesus sebagai Raja bersedia memberikan nyawa-Nya. Secara liturgis, Yesus digambarkan melalui imam yang disambut daun palem oleh umat yang hadir pada perayaan itu. (BACA juga: Ratusan Jemaat di Nunukan Ikuti Pemindahan Jenazah Bayi Saat Paskah)
“Yesus sebagai sosok Raja yang bersedia memberikan nyawa-Nya digambarkan melalui imam yang berada di depan umat, bukan di belakang. Ini yang membedakan prosesi Minggu Palma dengan lainnya. Proses lainnya, iman berjalan di belakang yang menggambarkan sebagai pemimpin,” ujarnya.
Sementara di dalam gereja, perayaan Minggu Palma menggambarkan suasana sedih. Ini menggambarkan Yesus masuk ke Yerusalem menjelang akhir hidup-Nya, dengan maksud menyerahkan nyawa-Nya bagi penebusan umat manusia.
Perayaan Minggu Palma ini membuka pekan suci yang secara liturgi digambarkan melalui imam yang mengetuk pintu gereja yang saat itu masih tertutup.
“Kita dihimbau tidak ada satu orangpun dalam gereja saat pintu masih tertutup. Kenapa kita tidak diperbolehkan ada dalam gereja ketika prosesi Minggu Palma? Ini sebagai simbol bahwa Yesus mengetuk pintu umat agar mengarahkan hati dan jiwanya kepada Yesus,” ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/nunukan_perarakan-minggu-palma.jpg)