Parenting
Mengajari Anak Mandiri Sesuai Usia
Psikolog Cik Kusumawardhani mengatakan anak bisa melakukan hal-hal mudah dengan sendiri. Tetapi, tetap dibutuhkan pendamping atau bimbingan orangtua
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - TAHUKAH Anda, kemandirian pada anak sudah muncul sejak ia masih bayi. Hal ini diawali munculnya keinginan untuk melakukan sesuatu atau mengendalikan sesuatu sesuai keinginannya dalam aktivitas sehari-hari.
Bayi mulai menolak disuapi makanan dan ingin memegang alat makan sendiri, ingin bangun untuk duduk sendiri, ingin berjalan sendiri, memilih baju sendiri adalah beberapa contoh ciri kemandirian.
Anak sejak usia 18 bulan -3 tahun mulai menunjukkan keinginan mandiri. Pada usia ini, orangtua sebaiknya bersikap melindungi dan menolong supaya anak merasa aman. (BACA: Kontrol Pemakaian Gadget Anak, Orangtua pun Harus Benahi Diri Sendiri)
Psikolog Cik Kusumawardhani mengatakan anak bisa melakukan hal-hal mudah dengan sendiri. Tetapi, tetap dibutuhkan pendamping atau bimbingan baik itu dari orang tua atau asisten rumah tangga.
"Mandiri maksudnya mampu mengerjakan tugasnya sendiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Apalagi usianya di bawah enam tahun. Usia di bawah enam tahun membutuhkan orang dewasa sebagai pembimbing," katanya.
Ada beberapa kegiatan mudah bagi anak usia di bawah 6 tahun, lanjut Cik, diajarkan untuk mengerjakannya sendiri dan dibimbing oleh orangtua atau asisten rumah tangga. (BACA: Ini Perbedaan Mendidik Anak Saleh dan Salah)
"Sedini mungkin hal-hal bagi orang dewasa dapat melatih anak lebih mandiri. Seperti makan tanpa disuapin, mampu memilih baju yang akan dipakai, ini baru segmen memilih.. Tetap dibantu orang dewasa untuk menggunakannya. Bisa juga duduk tanpa dipangku," ucapnya.
Tetapi, apa jadinya ketika anak di atas usia 6 tahun akhirnya ketergantungan dengan asisten rumah tangga? Cik menjelaskan penyebab ketergantungan tersebut.
"Kalau menyuruh asisten rumah tangga, erat kaitannya dengan manners atau sikap orangtua memberikan contoh ke anak. Kalau orang tuanya memberikan contoh sebentar-sebentar manggil asisten, ya otomatis si anak bakal meniru," ujarnya.
Lain hal, ketika anak mencoba melakukan sesuatunya dengan sendiri. Tetapi, orang tua merasa khawatir sehingga dilarang melakukan hal apapun dengan sendirinya. Dari pengamatannya, diakui kebanyakan orang tuabakal melakukan hal larangan akibat kekhawatiran."Kebanyakan yang saya amati memang orang tua seperti itu, melarang anak mengeksplorasi sendiri. Dan biasanya orang tua melarang karena tidak mau repot menunggu anak yang masih membutuhkan banyak waktu dalam mengerjakan hal tersebut," katanya.
Daripada memakaikan baju atau sepatu, orangtua yang suportif perlu lebih bersabar menunggu anak mencoba sendiri sampai mereka membutuhkan bantuan. Anak akan belajar mandiri dan menghindarkan anak dari kegagalan yang konstan. Ingat, anak perlu untuk merasa dirinya mampu atau berhasil sedikit demi sedikit.
"Memang butuh kesabaran dari orang tua juga. Hal-hal bagi orang dewasa mudah dilakukan, belum tentu gampang anak bisa kerjakan. Mengingat motorik anak beda dengan orang dewasa," kata Cik. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/cik-kusumawardhani00.jpg)