Parenting

Orangtua Harus Mampu Bedakan Anak Aktif atau Hiperaktif

Anak-anak memerlukan beragam aktivitas untuk mendorong gerakan motoriknya, misalnya dengan bermain dan berolahraga.

Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNKALTIM.CO - Anak-anak memerlukan beragam aktivitas untuk mendorong gerakan motoriknya, misalnya dengan bermain dan berolahraga.

Tentu saja diperlukan nutrisi penting karena pada usia itu, anak berada pada periode yang penuh dengan aktivitas guna mendukung tumbuh kembang yang baik.

Para orangtua tentu senang ketika buah hati mereka aktif dan lincah dalam beraktivitas, seperti berlari, melompat, dan ragam kegiatan gerak lainnya. Namun bagaimana bila aktivitas tersebut menjadi tidak terkendali dan anak susah untuk dihentikan? Apakah anak seperti ini termasuk anak hiperaktif?

"Anda boleh mengatakan anak Anda aktif. Akan tetapi, jangan langsung mengatakan bahwa dia ini hiperaktif," jelas dokter spesialis anak DR Dr Ahmad Suryawan SpA(K) yang dijumpai pada acara talkshow Happy Tummy Council "Saluran Cerna Sehat, Bekal Anak Cerdas" di Hotel Mandari Oriental, beberapa waktu lalu. (Baca: Nabi Anjurkan untuk Tersenyum dan Mencium Anak-anak)

Orangtua mendampingi anak saat berkegiatan (NOVA).

Dokter yang akrab disapa dr Wawan ini memaparkan, anak yang aktif bisa menjadi hiperaktif atau malah menjadi normal. Oleh karena itu, orangtua harus mampu membedakan kemampuan dan keaktifan anak tersebut. Bisa jadi, anak Anda berkemampuan dan aktif, namun orangtua belum memfasilitasi kemampuan dan keaktifan anak selebar-lebar kemampuannya.

Senada dengan pernyataan dr Wawan, psikolog Rini Hildayani MPsi mengungkapkan, anak yang aktif berbeda dengan anak yang hiperaktif. Anak yang aktif, menurut Rini, bisa bertujuan dan tidak bertujuan. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk dapat mengarahkan anak dalam menyalurkan keaktifannya tersebut.

"Orangtua bisa mengarahkan keaktifan anak ini agar bertujuan. Misalnya dengan melakukan aktivitas bersama. Oleh karena itu, salah satu pola pengasuhan anak adalah dengan meluangkan waktu yang banyak untuk anak, sehingga orangtua bisa melakukan kegiatan bersama anak untuk mendukung fisik dan psikologinya," terang Rini. (Baca: Jangan Lupa Beri Pujian pada Anak)

Dr Wawan pun menambahkan, penting bagi orangtua untuk meningkatkan kemampuan, kepedulian, dan pengetahuan tentang anak sedini mungkin, bahkan sejak awal masa kehamilan.

"Pengetahuan itu penting. Saat hamil, periksakan serutin mungkin, dan jangan lupa untuk mengonsumsi gizi yang baik. Hal tersebut berguna untuk pengasuhan yang baik ke depannya," ujar dr Wawan. (Sakina Rakhma Diah Setiawan)

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved