Kamis, 23 April 2026

Kisah Desa Kelubir yang Bermakna Keluarga Besar

Untuk menuju ke kawasan pemukiman penduduk, kami harus menempuh perjalanan yang masih bertanah merah, berkelok-kelok, dan berlubang

Penulis: Budi Susilo |
TRIBUN KALTIM/BUDI SUSILO
Jalan tanah merah menuju ke permukiman penduduk di Desa Kelubir, Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Sudah lama menunggu berjam-jam, akhirnya Liet Ingai Wakil Bupati Bulungan, tiba di pelabuhan VIP Tanjung Selor Kabupaten Bulungan, pada pukul 09.20 Wita, pada Kamis (9/4/2015) lalu.

Rombongan ini hendak menuju ke daratan Desa Kelubir, Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Rombongan menggunakan transportasi air, melintasi perairan Sungai Kayan.

Selama perjalanan, air Sungai Kayan begitu tenang, tidak bergelombang. Cuaca kala itu cerah, matahari bersinar terang. Laju perahu kami cepat, terbukti tidak lama menginjak di jam 09.43, melintasi Jembatan Tanjung Palas-Salimbatu yang proses pembangunannya masih mangkrak.

Memandangi luas hutan-hutan bakau. Indah hijau asrinya. Bisa dibayangkan, pasti banyak sekali ‘harta benda’ perikanan di kawasan bakau itu. Kalimantan Utara, seharusnya bisa juara dalam minabahari.

Singkat cerita, di jam 10.02 tibalah rombongan di Desa Kelubir dengan selamat. Saat tiba, kondisinya masih belum memadai, sebab pinggiran desa ini, dermaganya masih minim, jika air sungai pasang, dermaganya akan tergenang air.

Untuk menuju ke kawasan pemukiman penduduk, kami harus menempuh perjalanan yang masih bertanah merah, berkelok-kelok, berlubang, dan lintasan yang naik turun. Menggunakan kendaraan roda empat, jarak tempuhnya hanya butuh sekitar delapan menit.

Saat tiba di pemukiman penduduk Desa Kelubir, saya berbincang-bincang dengan Fajar Sutoto yang kini telah berumur 58 tahun. Pria ini merupakan generasi pertama yang menempati desa ini, sebab sebelum menjadi desa, kawasan ini adalah lahan transmigrasi. (BACA juga: Miris, Selama 34 Tahun Warga Desa Kelubir Hanya Bisa Andalkan Air Hujan)

Dia bercerita, kalau Desa Kelubir itu awalnya bernama Satuan Pemukiman Tiga, sebuah daerah transmigrasi dari daerah Data Dian dan Pulau Jawa, yang terdiri dari orang-orang Dayak Kayan, Surabaya, Solo, Pemalang dan Jember.

Persisnya di 9 April 1984, orang-orang Dayak Kayan datang sebanyak 80 kepala keluarga yang kala itu rombongannya dipimpin Luhat Pai dan Ingai, ayah dari Liet Ingai.

Sedangkan, Fajar Sutoto masuk dalam gelombang orang-orang Surabaya. Masuk pada 30 April 1984 dengan total 50 kepala keluarga.

Selain Fajar, rombongan juga diketuai Sunardi.

Untuk gelombang orang-orang Solo masuk pada 25 Mei 1984 berjumlah 50 kepala keluarga yang diketuai Hardi Suratno dan Hadi Karman. Berikutnya, pada 15 Juli 1984 masuk dari orang-orang Pemalang sebanyak 50 kepala keluarga yang dikoordinator Atmoyo dan Dasmo.

Di 16 Juni 1984, datang lagi orang-orang dari Jember sebanyak 50 kepala keluarga dipimpin Suroto dan Asrari Hadi Susanto. Dan di 5 Januari 1985 ada ketambahan lagi dari orang-orang Surabaya sebanyak 35 kepala keluarga yang diketuai Shokeh.

Zaman semakin berkembang, berbanding lurus dengan jumlah penduduk yang bertambah. Banyak warga penduduk kala itu kawin beranak-pinak, membuat daerah transmigran ini ramai orang-orang.

Menginjak tahun 1985, penduduk di tempat ini telah mencapai 315 kepala keluarga. Berangkat dari inilah kemudian tercetus untuk membentuk desa defenitif, dari sebuah satuan pemukiman menjadi wilayah desa persiapan.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved