Fashion
Lewat Dewaraja-Runway Collection, Kejayaan Batik Iwan Tirta Kembali
Bagi para pecinta karya seni batik, nama Iwan Tirta sudah tak asing lagi,
TRIBUNKALTIM.CO - Bagi para pecinta karya seni batik, nama Iwan Tirta sudah tak asing lagi.
Ya, Iwan Tirta adalah seorang maestro batik Indonesia yang karya desainnya telah dikenal hampir di seluruh mancanegara dengan garis desain yang apik, modern serta glamor.
Bagi para pecinta batik dan penggemar karya rancangan Iwan Tirta, fashion show Iwan Tirta Private Collection nampaknya dapat menjawab kerinduan sepeninggalan sang maestro.
Dengan tajuk "Dewaraja-Runway Collection 2015", digelarlah sebuah pagelaran tunggal untuk pertama kalinya semenjak Iwan Tirta wafat.
Bertempat di Fairmont Hotel, Senayan (27/4/2015), fashion show "Dewaraja-Runway Collection 2015" menampilkan 60 koleksi rancangan terbaru di bawah komando sang direktur kreatif Irwan Tirta Private Collection, Era Soekamto.
Meneruskan karya sang legenda, bagi Era bukanlah hal mudah. Saat diwawancara, Era berujar, "Perasaan saya campur aduk, ada rasa terbebani tapi ada juga rasa bahagia."
Baca juga: Berminat Miliki Batik yang Ditulis Menggunakan Getah Kayu Ulin Langka?
Bagi Era, sang maestro Iwan Tirta adalah sosok yang mengagumkan.
"Beliau membuat motif yang tidak terpikirkan siapapun namun dapat diterima khalayak banyak. Ibaratnya, sebuah pemikiran out of the box tapi tetap dalam inside the box," jelas Era.
Era menjelaskan juga kalau sudah sedari dulu Iwan Tirta dapat memberi sebuah rancangan modern yang tetap bersandar pada pakem-pakem motif batik dimana memiliki nilai historikal dan filosofis.
Era juga menambahkan, terselenggaranya fashion show "Dewaraja-Runaway Collection 2015" ini, memiliki arti yang besar dibalik kesuksesannya,
"Kita sedang membesarkan bangsa kita lewat batik. Ini adalah salah satu bentuk perjuangan kita sebagai pecinta karya seni." (Silvita Agmasari/Alvin Dwipayana)
Berminat Miliki Batik yang Ditulis Menggunakan Getah Kayu Ulin Langka?
Pada acara Pameran Islami di halaman Kantor Camat Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, yang digelar Rabu (18/3/2015) lalu, beragam kerajinan khas Kutai ditampilkan.
Satu di antara stan yang menarik perhatian adalah stan asal Kecamatan Rantau Pulung.
Di stan ini, dipamerkan batik khas Kutai Timur yang diberi nama Wakaroros. Batik tulis hasil kreasi Marsiah dan anak-anak didiknya dari Desa Manunggal Jaya, Kecamatan Rantau Pulung dipasarkan dengan harga Rp 250.000 per lembar.
Wakil Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengamati batik tulis khas Kutim, yang salah satu elemen tintanya adalah getah kayu ulin. (TRIBUNKALTIM.CO/MARGARET SARITA)
"Batik khas Kutim asal Rantau Pulung. Sudah kami pasarkan kemana-mana. Termasuk ke Jakarta untuk ikut pameran. Batiknya, batik tulis. Proses pembuatannya sekitar 3 hari, makanya harganya sedikit mahal," kata Rina, Kasibag Kesra Kecamatan Rantau Pulung. (Baca juga: Menghargai Sejarah, RSUD Sangatta Ganti Nama)
Selain itu, pewarna yang digunakan juga berasal dari alam. Salah satunya getah kayu ulin yang mulai langka.
Kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) sering disebut bulian atau kayu besi. Pohon ulin merupakan tanaman khas Kalimantan yang biasa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti konstruksi rumah, jembatan, tiang listrik, dan perkapalan.
Wakil Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman sempat melihat-lihat batik khas Kutim yang dipasang. Bahkan ia telah menginstruksikan agar pegawai Pemkab Kutim mengenakan batik khas Kutim tiap hari Kamis.
"Jika tidak sekarang, kapan lagi masyarakat Kutim bisa kenal dan bangga dengan produk-produk lokal asli buatan industri kreatif warga sendiri. Batik tulis Kutim yang di produksi dari Kecamatan Rantau Pulung, Desa Kabo dan Kecamatan Bengalon, yang tidak kalah kualitasnya dengan batik Solo dan Jogyakarta," ungkap Ardiansyah.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/batik-iwan-tirta_20150428_184557.jpg)