Kisah Pakar Maritim Dicurigai sebagai Intel CIA lalu Ditahan 38 Hari
Rumah Aprilani yang berlokasi di kawasan Kebun Raya Bogor digeledah. Aprilani bahkan dikonsinyasi atau ditahan sebagai titipan selama 38 hari
TRIBUNKALTIM.CO - Pakar maritim Indonesia Aprilani Soegiarto memiliki kisah pilu di masa silam. Laki-laki berusia 80 tahun itu, sempat dicurigai sebagai agen intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA).
Aprilani Soegiarto yang lahir pada 15 April 1935 di Solo, Jawa Tengah, sempat dituduh "membocorkan rahasia negara" dan "menjadi agen CIA.
Aprilani pada tahun 1967 berpangkat Letnan Tituler di Angkatan Laut dicurigai bekerja sama dengan asing. Pangkat tituler adalah gelar atau pangkat (umumnya pada militer) yang diberikan kepada seseorang di luar kalangan militer berkaitan dengan tugas yang diembannya.
Rumah Aprilani yang saat itu berlokasi di kawasan Kebun Raya Bogor sempat digeledah. Aprilani bahkan dikonsinyasi atau ditahan sebagai titipan selama 38 hari di Markas Besar Angkatan Laut (MBAL) di Gunung Sahari, Jakarta.
Tapi pemeriksaan selanjutnya menunjukkan Aprilani tak terbukti membocorkan rahasia negara, dan bukan agen CIA.
Lucunya, pria yang berjulukan "flying director" sebab punya jam kerja tinggi itu malah kemudian menjadi pengajar di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Bagian Laut (SESKO-AL) dan Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas).
Baca Juga: Bos CIA Kewalahan Hadapi Ancaman Teror Lewat Media Sosial
Ketika ditemui usai peluncuran buku "Kenangan Jejak Langkah Aprilani Soegiarto" di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (30/4/2015), Aprilani menuturkan, masalah tuduhan agen CIA sebenarnya dipicu oleh konflik di internal LIPI saat itu. Akhirnya, konflik berimbas pada dia yang sebenarnya juga masih staf baru di lingkungan LIPI.
Tubuh Aprilani tampak rapuh. Maklum usianya sudah delapan puluh. Namun demikian pemikirannya masih tajam, mampu memberi gagasan dan kritikan akan pembangunan kelautan Indonesia.
Seperti orang Jawa lain yang lahir awal abad 20, Aprilani terlahir dengan satu nama saja, yaitu Soegiarto. Nama "Aprilani" punya sejarah tersendiri, bermula ketika pria yang pernah punya mimpi jadi dokter itu bersekolah di SMP Bopkri Yogyakarta pada tahun 1950.
Baca juga: Kejar Pimpinan ISIS, CIA Kerahkan 100 Agen dan Pasukan Khusus
Ada dua nama "Soegiarto" di kelas sehingga sang guru aljabar yang bernama Kusumawardhani memberi tambahan nama "Aprilani", sesuai bulan lahir, untuk membedakan. Sejak saat itu, nama Aprilani seperti melekat pada diri Soegiarto.
Menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 1959, Aprilani telah menunjukkan kiprah dalam bidangnya sekaligus karya yang berdampak luas dalam lingkup dalam negeri maupun internasional.
Lulus S-3 di University of Hawaii pada tahun 1972, Aprilani dipercaya sebagai Direktur Lembaga Oseanografi Nasional (LON), cikal bakal Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Dalam kariernya, Aprilani Soegiarto yang menyandang gelar Prof Dr, sempat menjabat sebagai Wakil Kepala LIPI.
"Saat itu oseanografi masih sangat kecil. Kita belum punya PhD. Anggaran yang kita terima hanya Rp 50 juta. Mau meneliti apa coba," katanya Aprilani.
Namun ternyata dengan anggaran kecil, Aprilani tetap bisa berkarya. Dalam bidang pembinaan sumber daya manusia misalnya, dia berhasil mengorbitkan 16 doktor filsafat (PhD) selama masa kepemimpinan di lembaganya.
Sementara itu, dia sendiri menghasilkan karya penelitian yang diakui dunia dan bahkan diaplikasikan secara luas.
"Saya memperkenalkan teknik pengukuran produktivitas kelautan, yaitu dengan mengukur produktivitas plankton dengan klorofil dan perunut radioaktif karbon C-14. Dengan itu kita bisa tahu, cukup tidak produktivitas itu untuk menopang perikanan yang besar," urainya.
Teknik itu dipakai oleh sejumlah peneliti dunia untuk mengukur produktivitas. Setidaknya, itu tercermin dari pengakuan Anugerah Nontji yang kini juga merupakan periset di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.
Anugerah terkejut ketika mengetahui dari peneliti University of Hawaii bahwa teknik pengukuran produktivitas plankton sebenarnya diperkenalkan oleh Aprilani.
Tahun 1970-an, Anugerah baru masuk LIPI ikut International Indian Ocean Expedition (IIOE) dengan kapal riset Amerika USCGDD Pioneer. Dia masuk tim Plankton Productivity. Kala itu, dia menanyakan kepada ketua tim tentang referensi untuk teknik pengukuran.
"Saya mendapatkan jawaban yang mengagetkan, Dia menyodorkan paper yang ternyata adalah paper Aprilani Soegiarto dari Indonesia, dari lembaga saya, yang saya sendiri belum kenal. Malu juga saya ketika ditanya, 'So do you know Aprilani Soegiarto,'" kata Anugerah.
Di tingkat internasional, Aprilani juga memelopori beridirnya sejumlah organisasi dan meraih penghargaan.
Tahun 1976, dia mempelopori berdirinya Program Group on Western Pacific di Tokyo dan menjadi ketua pertamanya. Awal tahun 1980-an, dia menjadi anggota Executive Council Intergovernmental Oceanographic Commision (IOC) di UNESCO.
Tahun 2003, dia menerima Appreciation Awards dari World Fish Center, lembaga di mana Aprilani juga pernah menjabat sebagai wakil ketua. Di Asia Tenggara sendiri, oleh para peneliti, Aprilani dijuluki Bapak Ilmu Kelautan Asia Tenggara.
Puluhan tahun berkarya, Aprilani punya banyak pengalaman unik. Misalnya saat menyelesaikan studi S-3 University of Hawaii di mana dia harus mengirimkan sampel plankton ke dosennya.
Di masa senjanya, Apriliani masih punya banyak angan-angan tentang Indonesia dan maritimnya.
Ia mengakui bahwa program presiden Jokowi dan menteri kelautan dan perikanan Susi Pudjiastuti sudah cukup baik. Upaya tol laut, pengendalian perikanan ilegal, adalah beberapa yang dibilang sebagai prestasi.
Namun, dia merasa bahwa masih banyak hal harus diupayakan, seperti pengolahan hasil laut agar tak hanya dijual mentah. Aprilano mencontohkan pengolahan rumput laut yang saat ini masih kurang.
"Tahun 60-an, saya mulai perkenalkan budidaya rumput laut. Sekarang saya bersyukur sudah banyak tapi sayangnya diekspor mentah, tidak diolah," ungkapnya.
Menurutnya, rumput laut seharusnya bisa diolah dalam bentuk barang jadi yang berkualitas sehingga punya nilai tambah. "Misalnya menjadi tepung," kata pria yang ikut mendirikan Himpunan Untuk Kelestarian Lingkungan Hidup (HUKLI) yang selanjutnya bersama 9 organisasi lainnya dilebutr menjadi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).
Hal lain yang masih perlu diupayakan menurutnya adalah pemberdayaan para peneliti dan pekerja teknis riset kelautan. Fasilitas riset bisa diperkuat dan dananya bisa diperbesar namun bila tak disertai sumber daya yang ahli dan terampil, percuma.
"Bahkan seorang pengambil sampel dan tukang las untuk tujuan riset pun harus ada pelatihan agar punya skill yang baik," katanya.
Ia berharap kelautan Indonesia bisa maju. Dan untuk itu, perlu target-target yang tepat dan realistis. Peningkatan riset dan pemberdayaan peneliti, menurutnya, merupakan salah satu pilar utama agar Indonesia menjadi poros maritim dunia. (Kompas.com/Yunanto Wiji Utomo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/aprilani-soegiarto_20150501_002316.jpg)