Kisah Pilu Gadis Cilik Angeline
Rumah Ortu Agus Beratap Seng, Lantai Bambu, Dinding Batang Jagung
Rumah orangtua Agus berdiri di atas lahan kebun. Rumah panggung beratap seng, lantai dari batang bambu, dinding dari anyaman bambu dan batang jagung.
TRIBUNKALTIM.CO - Agustinus Tai alias Agus (23 tahun), tersangka pembunuh gadis cilik Bali, Angeline rupanya tidak tamat sekolah dasar. Ia anak kelima dari sepuluh bersaudara, buah cinta pasangan Markus Djawa Mila Ata, dan Kandokang Madi.
Markus Djawa, ayahnya, telah meninggal tahun 2010. Sebelum mengadu nasib ke Bali, ia tinggal bersama orangtuanya di Desa Rambangaru, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
Berdasarkan pengamatan Pos Kupang, Tribun Network di Nusa Tenggara Timur, rumah orangtua Agus berdiri di atas lahan kebun. Rumah panggung beratap seng dengan lantai dari batang bambu. Dinding depan dari bilah bambu yang dianyam.

Baca Juga: Inilah Ayah Asuh Angeline Bule Amerika Bos Tambang Minyak
Dinding belakang dari batang jagung solor. Masyarakat setempat menyebutnya wudi. Wudi sebesar ibu jari orang dewasa itu diikat satu per satu pada kayu rangka dinding.
Sementara dinding kamar tidur dari aneka bahan, di antaranya anyaman daun kelapa, wudi dan kertas zak semen. Dengan dinding yang bercelah-celah, membuat penghuni rumah dapat dilihat dari luar.
Dapur dibuat gandeng rumah. Atapnya alang dengan dinding daun kelapa. Seperti rumah, dapur juga berbentuk panggung. Lantainya dari batang bambu.
Foto Angeline dan keluarga ibu asuhnya, Margreit Megawa serta almarhum Douglas B Scarborough (kiri atas), ayah asuhnya.
Baca juga: Kakak Margareith di Bekasi Sempat Curhat Hilangnya Angeline ke Tetangga
Setelah kepergian Agus ke Bali, rumah itu ditempati Kandokang Madi beserta adik-adik Agus, terkecuali Yanti, adik bungsu Agus, tinggal bersama seorang kakaknya. Kakak-kakak Agus sudah menikah dan tinggal terpisah.
Rumah Kandokang Madi, bukan satu-satunya di areal kebun itu. Ada juga rumah Hiwa Hamandoru, kakak sulung Agus, tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Kedua rumah itu terpisah jarak sekitar lima meter. Polisi menetapkan Agus sebagai tersangka dalam kasus kematian Angeline.
Baca juga: Polisi: Angeline Dibunuh oleh Mantan Pembantu Ibu Angkatnya
Kedua rumah yang letaknya dekat pantai, jauh dari rumah penduduk lainnya. Untuk sampai ke rumah orangtua Agus, harus melewati jalan setapak dan dua kali menaiki pagar kayu.
Baca juga: Sebelum Jadi Tersangka, Margarieth Terus Diintai Polisi
Ibu Agus, Kandokang Madi bertani. Beberapa tumpukan jagung beserta jagung solor hasil kebunnya yang baru dipanen, terlihat di halaman rumah dan dapur. Ada jagung diikat tersusun pada batang pohon kelapa.
Selain bertani, Kandokang Madi juga berusaha membakar karang laut untuk menjadi kapur sirih, lalu menjualnya. Setiap hari Sabtu, dia menjual sayur mayur di Pasar Kapundung.
Dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata, Kandokang Madi menuturkan kepergian Agus ke Bali sepengetahuan dirinya. Kakak dan adiknya juga tahu. Menurut Hiwa, sejak ada di Bali, mereka sering komunikasi. Hal ini dibenarkan juga oleh Hiwa Hamandoru, kakak sulung Agus.
Baca juga: Fakta Terbaru, Agus Tai Dijanjikan Rp 2 Miliar Bunuh Angeline
Hiwa mengungkapkan, dia terakhir kali berkomunikasi menggunakan hand phone (HP) dengan Agus pada bulan Maret 2015. Saat itu, Agus memberi kabar dia sudah dapat kerja baru sebagai penjaga hewan (ayam dan anjing). Agus juga menginformasikan dia tinggal di rumah majikannya.
Kandokang Madi menuturkan, selama dua tahun bekerja di Bali, Agus dua kali mengirim uang untuk keluarga.
"Sudah dua kali kirim uang. Yang terakhir Rp 200 ribu," ujarnya setengah berbisik.
Ikhwal keberangkatan Agus ke Bali diceritrakan Mengi Pati yang saat itu bersama Kepala Desa Rambangaru, Umbu Terapatang mendampingi keluarga Agus.
Baca Juga: Angeline Ternyata Tak Warisi Harta Peninggalan Bule Ayah Angkatnya
Mantan camat Haharu ini menuturkan, Agus pergi ke Bali pertengahan tahun 2013. "Saya kenal orangtuanya. Saya kenal baik Agus. Dia sering ke rumah saya. Suatu ketika saya tanya, apakah mau kerja di Bali? Dia mau sehingga saya urus dia berangkat. Agus pergi bersama istri saya yang mau melihat anak saya di Bali," kata Mengi Pati.
Setibanya di Bali, Agus tinggal bersama anak Mengi Pati. Beberapa saat kemudian dia mendapat pekerjaan. Agus bekerja di perusahan ikan, bagian processing. Pekerjaan itu sesuai dengan bakat Agus karena selama di Rambangaru dia bekerja sebagai nelayan.
Dalam perjalanan, Agus memutuskan tinggal di kos. Entah bagaimana, dia juga berhenti bekerja dari perusahaan ikan. Dengan dibantu temannya, Agus mendapat pekerjaan di rumah Margriet Megawe.
"Ini informasi yang saya dapat dari anak saya di Bali. Sekarang kami kaget bukan main dia diberitakan terlibat kasus pembunuhan," ujar Mengi Pati. (Pos Kupang/Alfons Nedabang)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/agus-tai-hamdamai-keluarga_20150615_135613.jpg)