Blok Mahakam
Karyawan Total E&P Indonesie Berstatus Free Transfer
Alih kelola Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation ke Pertamina akhirnya mendatangkan titik terang mengenai persoalan SDM.
Penulis: tribunkaltim |
Laporan wartawan Tribun Kaltim Priyo Suwarno dan Cornel Dimas
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Alih kelola Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation ke Pertamina akhirnya mendatangkan titik terang mengenai persoalan sumber daya manusia (SDM).
Sebelumnya pembagian saham Blok Mahakam telah ditentukan dengan porsi 70 persen untuk Pertamina, termasuk di dalamnya hak partisipasi (participating interest) Pemda Kaltim, 30 persen diserahkan ke Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation.
Dengan adanya pembagian porsi itu, Pertamina memberi kesempatan bagi anak bangsa yang sebelumnya tercatat sebagai karyawan Total E&P Indonesie (TEPI) untuk tetap bergabung di Blok Mahakam pasca dikelola Pertamina.
Menanggapi hal itu, pengurus Serikat Pekerja Nasional Total Indonesie (SPNTI) Fauzan Mutaqin mengungkapkan akhir 2012 lalu karyawan Total Indonesie di Blok Mahakam telah berstatus free transfer.
Baca: Pekerja Total Doakan Blok Mahakam Kembali ke Pangkuan Indonesia
Hal itu disampaikan kepada wartawan, Selasa (23/6/2015) saat buka puasa bersama di salah satu rumah makan e- Walk BSB lantai 2.
"Sebenarnya akhir 2012 status kami sudah free transfer, artinya kami bisa menerima pinangan dari pihak manapun. Jika Total E&P Indonesie masih menginginkan kami, perlu ada mekanisme kontrak lagi," ujar anggota Tim 9 SPNTI.
Saat ini, tantangan Tim 9 SPNTI adalah menjaga karyawan Total E&P Indonesie agar tetap bertahan di Blok Mahakam.
Menurut Ketua SPNTI Budi Satria, hal itu tidak mudah, hanya 50 persen karyawan yang mau bertahan di Blok Mahakam.
Mengingat manusiawi jika saat ada karyawan yang tergiurkan dengan tawaran dari perusahaan lain yang nilainya lebih besar. Akibatnya banyak karyawan angkat kaki dari Blok Mahakam.
Ketua LSM Borneo Energi Mineral (BEM) CARE, Irvan Wirayuda mengatakan, Pertamina seharusnya tetap menggandeng anak bangsa di Blok mahakam, meskipun mereka dulunya karyawan Total E&P Indonesie.
"Harusnya mereka tetap dipertahankan, ini berdasarkan pengalaman mereka di Blok Mahakam. Tidak mudah mengoperasikan Blok Mahakam, karena industri ini sekali jatuh, selanjutnya akan sulit bangkit," ungkap Irvan.
Irvan juga mencermati adanya kelemahan di balik alih kelola Blok Mahakam. Tidak adanya masa peralihan, akan sangat riskan terhadap operasi produksi blok migas.
Selain itu, dampak alih kelola bagi manajemen culture akan membuat karyawan harus beradaptasi. Manajemen culture yang dianut merupakan unsur gabungan antara standar manajemen lama (Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation) dan keunggulan manajemen baru (Pertamina).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/anjungan-blok-mahakam_20150624_102328.jpg)