Ramadhanku
Masjid Agung Istiqomah Dihiasi Kaligrafi Al Fatihah
Kemunculan Masjid Agung Istiqomah berangkat dari kebutuhan warga muslim Tanjung Selor akan rumah ibadah yang strategis, aman, dan nyaman.
Penulis: Budi Susilo |
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Kemunculan Masjid Agung Istiqomah berangkat dari kebutuhan warga muslim Tanjung Selor akan rumah ibadah yang strategis, aman, dan nyaman. Penggarapan masjid itu dilakukan secara gotong-royong oleh semua golongan masyarakat.
Posisi masjid yang berada di pusat kota, di bilangan Jalan Kolonel Soetadji, Tanjung Selor, menjadi lokasi masjid ini sangat strategis. Menurut Ketua Takmir Masjid Agung Istiqomah, Darmansyah Umar, sebelum dibangun masjid, lahannya masih berupa kebun semak belukar.
Jika ingin menunaikan shalat, warga seputaran daerah tersebut terpaksa pergi ke daerah Kampung Arab yang jaraknya sekitar tiga kilometer atau ke langgar di pinggir Sungai Kayan yang berjarak sekitar 100 meter.
Darmansyah mengatakan, penggarapan masjid saat itu berlangsung sekitar 1993, yang digawangi langsung Pemkab Bulungan, sisanya bantuan dari warga jamaah setempat.
Baca: Masjid Al Ula,Tempat Shalat Para Pejuang
“Tadinya mau dibangun bertingkat tapi dana terbatas masjid tidak berlantai,” ungkap pria berumur 60 tahun ini.
Ada satu di antara yang menjadi pelaku sejarah pembanguan masjid ini, yakni Darmadji Adnan (66). Ketika ditemui di rumahnya, pria kelahiran Blitar ini mengungkapkan, dahulu waktu membangun semua warga bergotong-royong.
“Ada tentara, polisi, pegawai negeri ikut jadi tukang,” tuturnya.
Kebetulan juga, pembangunan rumah ibadah itu berada di kawasan perkampungan orang-orang dari hulu yang telah menjadi mualaf dalam binaan Yayasan Al Hidayah. “Ikut membantu juga,” ujar Darmadji.
Masjid diberi nama Istiqomah, bukan tanpa alasan. Mengambil kalimat Istiqomah karena memiliki makna yang mengandung doa agar warga muslim di Bulungan tetap konsisten pada ajaran nabi Muhammad yang bersumber dari Allah SWT.
Baca: Masjid Daarussalaam, Dulunya Mushala Kini Miliki Kompleks Pendidikan
Kini, masjid itu sudah rampung, menjadi masjid terbesar dan kebanggaan Kabupaten Bulungan. Tidak hanya gelaran shalat namun kegiatan-kegiatan bernuansa Islam sering dibuat di masjid ini.
Tribunkaltim.co mengamati, ciri khas yang terpancar dari masjid ini ialah hiasan kaligrafi yang tulisannya berwarna kuning emas. Bentuk kaligrafinya besar, berfungsi sebagai penutup sebagian kecil tembok masjid. Letak kaligrafinya berada di samping kanan dan kiri mimbar imam.
Pada bagian kanan, kaligrafi itu memuat goresan ayat surat Al Fatihah. Mengutip buku Tafsir Al Misbah, karya Quraish Shihab dijelaskan bahwa Al Fatihah ialah pembuka yang sangat agung bagi segala macam kebijakan.
Pada masa Rasul SAW masih hidup, Al Fatihah dikenal sebagai Ummul Kitab (Induk Kitab) atau Ummul Quran (Induk Quran) dan As As-sab’al Matsani atau tujuh ayatnya diulang-ulang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/masjid-agung-istiqomah_20150710_121439.jpg)