Travelling dan Kuliner
Jantur Mapan, Air Terjun yang Jernih dan Sejuk di Bawah Jalan
Kutai Barat (Kubar), begitulah masyarakat menyebut daerah pemekaran Kabupaten Kutai tahun 1999 ini.
Penulis: Cornel Dimas Satrio Kusbiananto |
TRIBUNKALTIM.CO, SENDAWAR - Kutai Barat (Kubar), begitulah masyarakat menyebut daerah pemekaran Kabupaten Kutai tahun 1999 ini. Kabupaten yang beribukota di Sendawar ini jaraknya sekitar 470 km dari Balikpapan, dan 350 km dari Samarinda, ibukota Kalimantan Timur.
Kubar seakan tersembunyi di belantara Kalimantan. Semboyan Tanaa Purai Ngeriman seakan menjadi representasi atas alam yang subur nan limpah rezeki. Hal itu dibuktikan dengan keindahan alamnya yang memesona, menyimpan potensi wisata di balik arifnya adat dan budaya.
Destinasi wisata alam yang kerap terdengar ketika menyebutkan Kubar yakni, air terjun. Topografi curam dengan perbukitan dan aliran anak Sungai Mahakam, membuat Kubar dihiasi air terjun alami pada beberapa wilayahnya.
Satu di antaranya Jantur Mapan. Warga setempat menamai jantur sebagai terminologi air terjun di Kubar.
Jantur Mapan terletak di Kampung Linggang Mapan, Kecamatan Linggang Bigung. Jaraknya kurang lebih 10 km dari Sendawar. Tidak susah menjangkau Jantur Mapan, sebab letaknya di pinggir jalan poros Kecamatan Barong Tongkok-Linggang Bigung.
Baca: Pengunjung Objek Wisata Air Terjun Kedang Ipil Meningkat 200 Persen
Tribunkaltim.co berkesempatan memandang eloknya Jantur Mapan pada Idul Fitri lalu, Jumat (17/7/2015). Di pinggir jalan dekat Gapura Jantur Mapan, ramai terparkir motor dan mobil. Pengunjung pun tumpah ruah di bawah air terjun dan gazebo Jantur Mapan.
Menuruni belasan anak tangga yang terbuat dari kayu ulin, pengunjung langsung dihadapkan semburan air dari bukit.
Dikelilingi tebing berbatu dan pepohonan, Jantur Mapan membangkitkan sensasi sejuk hawa alam. Diperkirakan ketinggian air terjun mencapai 10 meter. Air tersebut langsung jatuh ke sungai, menurun lewati bebatuan kali.
"Di sini sejuk, airnya jernih dan dingin. Kita juga bisa berdiri pas di bawah air terjunnya. Kalau untuk rekreasi sangat cocok," celetuk Rizali, pengunjung asal Desa Tering Lama.
Rizali yang membawa keluarganya, menikmati eloknya Jantur Mapan bertepatan suasana lebaran. Air yang jernih membuat Rizali dan keluarganya menyempatkan diri mandi di jantur mapan. Saking indahnya, rekreasi di Jantur Mapan sudah seperti rutinitas liburan bagi keluarga Rizali.
Berada tepat di bawah air terjun, pengunjung harus melewati batu-batu kali. Tentu harus berhati-hati mengingat batunya licin karena lumut. Pengunjung tidak perlu khawatir untuk mandi, karena fasilitas toilet dan kamar ganti pakaian sudah tersedia di kawasan tersebut.
Salah satu petugas Dinas Pariwisata Kutai Barat Emilia mengatakan, Jantur Mapan menjadi salah satu aset wisata alam yang membanggakan Kubar. Akses terjangkau dan perpaduan alam antara air dan tebing, menjadi keistimewaan yang ditawarkan Jantur Mapan.
Lagipula, pengunjung tak perlu merogoh kocek dalam, karena tarif masuk hanya Rp 1.000/orang.
"Jantur Mapan ini telah di kelola Dinas Pariwisata Kubar sejak tahun 2002. Sejak saat itu dibuka untuk umum dengan tarif Rp 1.000. Di sini selalu ramai pengunjung dari berbagai daerah. Ada yang dari dalam Kubar, luar Kubar, bahkan ada yang dari luar negeri," ungkapnya saat ditemui di pintu masuk air terjun.
Namun belakangan ini, kata Emilia volume pengunjung mulai berkurang lantaran faktor ekonomi. Sebelumnya, Kubar sendiri pernah dibanjiri warga pendatang yang umumnya bekerja di perusahaan tambang batu bara.
Namun seiring lesunya industri batu bara, satu per satu perusahaan tak lagi beroperasi di Kubar. Ini berdampak terhadap sektor pariwisata Jantur Mapan yang tiap tahun pengunjungnya berkurang.
"Akibatnya sekarang ini pemasukan tiap bulan Jantur Mapan berkisar 50-100 ribu dari pengunjung. Padahal beberapa tahun sebelumnya pemasukan bisa lebih dari 150 ribu," ujar Emilia yang menambahkan bahwa hasil pemasukan itu akan disetor ke kas daerah. (*)