Kamis, 9 April 2026

Sebagian Sungai Mahakam Kering, Pasokan Sembako pun Terhambat

Musim kemarau mulai melanda wilayah Kalimantan Timur. Di sejumlah kawasan, tampak adanya titik kekeringan dan titik api (hotspot).

Penulis: tribunkaltim |
Reuters
El Nino bisa berdampak buruk pada panen di berbagai belahan dunia. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Musim kemarau mulai melanda wilayah Kalimantan Timur. Di sejumlah kawasan, tampak adanya titik kekeringan dan titik api (hotspot).

Kemarau juga membuat sebagian Sungai Mahakam dan mengakibatkan pasokan sembako terhambat.

"Masyarakat di Mahakam Ulu seperti Kampung Ujoh dan Long Pahangai kesulitan mendapatkan sembako. Ini karena Sungai Mahakam kering, akibatnya pasokan logistik terganggu," ujar Wahyu Widhi Heranata, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kaltim, Sabtu (25/7/2015).

Menurut Wahyu, tanggap bencana di Kabupaten Mahakam Ulu sementara ini akan ditangani sekretariat bidang Kesejahteraan Rakyat Daerah. Pasalnya, Kabupaten Mahakam Ulu sendiri belum memiliki BPBD. Meski demikian, Wahyu tetap menyarankan masyarakat agar terus waspada dan cepat berkoordinasi dengan pemerintah setempat.

"Saya rasa, Mahulu bisa cepat tanggap, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena Pj Bupati sekarang, Pak Frederick Bid itu dulunya Kepala BPBD Kaltim sebelum saya. Jadi beliau pasti lebih tahu dan bisa menyelesaikan dampak kekeringan," ungkapnya.

Baca: Gawat! Pasar Pangan Dunia Terancam Akibat Efek El Nino

Selain di Mahakam Ulu, kata Wahyu, beberapa daerah lain yang rawan bencana kekeringan adalah Paser, Penajam Paser Utara (PPU), dan Kutai Barat. Daerah tersebut umumnya sudah memiliki BPBD, sehingga pihaknya akan terus memantau perkembangan berdasarkan informasi dari BPBD Kabupaten/Kota.

Sementara itu, terkait ancaman kebakaran hutan, sejauh ini BPBD Provinsi belum menerima laporan yang mengkhawatirkan. Wahyu tak menampik Kaltim rawan kebakaran hutan meski tak separah Kalbar dan Sumatera.

Umumnya kebakaran hutan terjadi ketika fenomena El Nino melanda. El Nino sendiri merupakan peningkatan suhu muka laut yang menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang. Akibatnya, masyarakat kerap menyiasati El Nino dengan membakar lahan guna mendapatkan hasil tanaman yang cocok ditanam.

Baca: El Nino, Kebakaran Hutan dan Lahan Ancam Kaltim

Wahyu mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan, sebab akan berdampak luas bagi kondisi lingkungan. Ia juga siap bertindak tegas bagi pelaku pembakar lahan, baik itu perseorangan maupun perusahaan.

"Ini kan sudah masuk El Nino, jadi masyarakat mudah membakar lahan. Kalau ada bukti masyarakat membakar lahan dan sifatnya ekstrem, maka kami akan tindak secara hukum berkoordinasi dengan dinas kehutanan provinsi dan kementerian lingkungan hidup. Seperti tahun 2004 lalu, setiap tanggal 20 kami cari tahu sampai ke perusahaaan yang terlibat," jelasnya.

Guna mengantisipasi dan mengurangi dampak kebakaran hutan, BPBD Kaltim selalu memantau titik hotspot yang ada di wilayahnya melalui satelit Terra, Aqua, dan Noaa-18.

Wahyu menyarankan kepada BPBD Kabupaten/Kota agar menghidupkan kembali gerakan masyarakat peduli api dan desa siaga bencana. Menurutnya, bencana harus berbasis pada masyarakat, sehingga perlu melibatkan masyarakat sebagai penggerak utama mencegah kebakaran hutan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved