Rabu, 15 April 2026

Sungai Mahakam Surut, Pedagang Terpaksa Iuran Sewa Kapal

Mareka harus menyewa perahu lain, lantaran kapal pengangkut barang dari Samarinda tidak bisa melintas Sungai Mahakam, akibat menurunnya debit air.

Penulis: Febriawan |
TRIBUN KALTIM/FEBRIAWAN
Kapal pengangkut barang dari Samarinda ke Mahulu memindahkan barangnya ke kapal berukuran lebih kecil, di seberang Kampung Tering Kubar, Minggu (26/7/2015). 

TRIBUNKALTIM.CO, SENDAWAR - Para pelaku usaha sembako, perabotan rumah tangga, bangunan dan usaha lainnya di Kabupaten Mahakam Ulu terpaksa harus menambah biaya operasional Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta untuk mendatangkan barang dagangannya.

Mareka harus menyewa perahu lain, lantaran kapal pengangkut barang dari Samarinda tidak bisa melintas Sungai Mahakam, akibat menurunnya debit air. Kemarau panjang yang melanda wilayah Kaltim menyebabkan air Sungai Mahakam surut, sehingga terjadi pendangkalan.

Kapal pengangkut barang berkapasitas 18 ton dari Samarinda hanya bisa mengantar barang sampai Long Bagun (Mahulu). Bahkan, saat ini hanya mampu sampai di Tering, Kubar.

Ketinggian air Sungai mahakam di daerah Mahulu hanya berkisar 3 - 3,5 meter, sehingga kapal tidak bisa melintas. Untuk mengantar barang ke tempat tujuan, para pengusaha harus menyewa kapal kelotok atau kapal kecil yang memiliki daya angkut 5 ton saja.

Baca: Sebagian Sungai Mahakam Kering, Pasokan Sembako pun Terhambat

Pantauan Tribunkaltim.co, Minggu (26/7/2015), dari Pelabuhan Tering, air Ssungai Mahakam mengalami penurunan hingga 5-10 meter.

Hal itu terlihat dari bercak air di pesisir sungai sebelumnya, yang jauh menurun dari sebelumnya. Terlihat lumpur sungai menjurus ke sungai hingga belasan meter, yang menandakan air sungai telah surut.

Kamaruddin, seorang pengusaha sembako asal Kampung Long Bagun, Long Bagun Mahulu, mengatakan, dirinya mengeluarkan biaya tambahan transportasi angkutan barang dagangan. Kapal pengangkut barang dari Samarinda yang biasa mengantar barang langsung ke tempat tak bisa lagi. Kapal tidak bisa melintas lantaran menyusutnya air Sungai Mahakam pasca kemarau di bulan Juli ini.

"Saya harus menyewa kapal kecil Rp 2 juta per sekali berangkat untuk mengantar barang ke Long Bagun," ujar ayah dua orang anak itu saat ditemui di warung kopi yang terletak tak jauh dari Pelabuhan Tering.

Pedagang asal Bone, Sulawesi Selatan itu menjelaskan, biasanya ia hanya membayar sawa kapal pengangkut barang dari Samarinda ke Mahulu selama 20 jam perjalanan atau dua hari satu malam Rp 3, 5 juta per ton.

"Itu barang campuran seperti beras, miyak goreng, snak, minuman dan lainnya," jelas Kamaruddin.

Namun karena air Sungai Mahakam mengalami kekeringan, kapal pengangkut barang tidak bisa melintas, sehingga harus menyewa kapal lain berukuran kecil kapasitas 5 ton.

"Memang ada potongan biaya angkut, yang tadinya sampai Mahulu Rp 3,5 juga, karena sampai Tering kami hanya membayar Rp 2,5 juta. Namun kami harus sewa kapal lain lagi Rp 2 juta per sekali keberangkatan, mau barang penuh atau tidak, karena kapal itu memberlakukan sistem carter," ungkapnya.

Untuk mengantisipasi membengkaknya biasa sewa kapal, ia bersama dua sampai tiga orang pengusaha lain iuran sewa kapal.

"Seperti barang saya hanya 1 ton, pengusaha lain 1 ton, lainnya 1 ton lagi. Karena kapal sewa itu berkapasitas 5 ton, kalau hanya barang saya sendiri saja masih banyak sisa, jadi kami patungan, sehingga meringankan beban," katanya.

Ia khawatir apabila kondisi tersebut terus terjadi, berimbas kenaikan harga barang di Mahulu. Hal tersebut dibenarkan Lare, Kapten KM Anugrah, kapal pengangkut barang dari Samarinda ke Mahulu.

"Banyak karang di tengah sungai, makanya kami tidak berani mudik ke Mahulu, cukup sampai Tering saja," katanya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved