Kamis, 9 April 2026

Kembangkan Ikan Kerapu, Kaltara Sasar Pasar Malaysia dan Taiwan

“Ini pilot project pengembangan kerapu di Kaltara, karena sebelumnya belum ada.

INTERNET
Ilustrasi Ikan Kerapu 

Laporan wartawan Tribun kaltim, M Arfan

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR – Tahun 2015 ini, sebanyak tiga kelompok nelayan di Sebatik bakal diberi bantuan jaring apung, pakan, dan tenaga tekhnis, untuk budidaya ikan kerapu.

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menyatakan hal itu merupakan pilot project pengembangan budidaya ikan yang bernama latin epinephelus pachycentru itu.

Kepala DKP Kaltara Amir Bakry menjelaskan, pengembangan budidaya ikan kerapu dilakukan agar Kaltara tidak monoton hanya sebagai penghasil udang dan rumput laut saja.

“Ini pilot project pengembangan kerapu di Kaltara, karena sebelumnya belum ada. Maka kami akan beri juga bantuan bibit kepada kelompok nelayan. Selama ini kalau udang dan rumput laut Kaltara sudah dikenal luas,” kata Amir kepada TRIBUNKALTIM.CO, Jumat (4/9/2015).

Pengembangan ikan kerapu klaimnya bukan tanpa dasar. Kajian tekhnis Universitas Borneo Tarakan (UBT) menunjukkan perairan Sebatik cocok bagi pengembangan ikan jenis itu lantaran memiliki kecocokan ekosistem asli ikan kerapu yang hidup di dasar laut yang berkarang.

“Di lokasi pilot project itu posisinya selain masuk teluk, juga kedalamannya cukup. Kemudian jaraknya dari pantai hanya 30 meter. Sehingga nelayan tidak perlu repot terlalu jauh ke laut,” ujarnya.

Amir merincikan, dari 10 anggota per kelompok nelayan akan kebagian satu kotak (5 x 4 meter) dalam keramba dengan jumlah bibit mencapai 500 ekor.

“Sekarang kelengkapan untuk jaring apung, pakan, dan bibitnya sedang kami lelang. Nilainya Rp 2,2 miliar. Setelah selesai, akan dikonstruksi anti gelombang, dan tahan sampai 25 tahun,” jelasnya.

Perlu diketahui, sekali masa panen ikan kerapu membutuhkan waktu budidaya selama 9 sampai 12 bulan. Kendati demikian, ikan kerapau kata Amir akan sangat menguntungkan nelayan karena memiliki nilai ekonomis yang fantastis.

“Harganya mencapai Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu per kilogramnya. Jadi sangat prospek. Target kami, ikan-ikan itu nantinya bisa dipasarkan ke Malaysia dan Taiwan,” tuturnya. (*)

***

UPDATE berita eksklusif, terbaru, unik dan menarik dari Kalimantan. Cukup likes fan page  fb TribunKaltim.co  atau follow twitter  @tribunkaltim

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved