Salam Tribun

Renungan Ebiet G Ade

Bukan alam yang tidak bersahabat, melainkan manusia, yakni para pembalak hutan dan pembakar kayulah yang durhaka kepada alam semesta.

TRIBUN KALTIM/GEAFRY NECOLSEN
Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau terus berupaya memadamkan lahan gambut yang terbakar di berbagai kecamatan di Kabupaten Berau. 

HARI Buruh Internasional 2015 jatuh pada akhir pekan, tepatnya Jumat. May Day merupakan hari besar kalangan pekerja. Dan pemerintah menghargai Hari Buruh dengan menetapkannya libur nasional.

Bertepatan dengan libur panjang akhir pekan, Jumat hingga Minggu, 1 Mei, empat bulan lalu, ratusan warga, umumnya pemuda-pemudi, memanfaatkannya bertamasya ke objek wisata alam, yang sedang menjadi isu hangat, trending copic, saat itu, yakni Batu Dinding, Km 45 Kutai Kartanegara, Kaltim.

Ratusan pengunjung menembus dinginnya malam. Mereka berdatangan dari berbagai kotan dan daerah. Penduduk Kalimantan maupun pendatang, yang kebetulan berkunjung ke pulau yang kaya akan kandungan alam ini.

Pengunjung berkendara, sepeda motor maupun mobil, berdatangan melintasi jalan tanah liat, lempung. Menembus embun dingin-sejuk, bak pasukan konvoi, melintasi areal tanpa lampu listrik, berpenduduk sepi, melewati perkebunan, menuju hutan ke arah puncak bukit Batu Dinding.

BACA JUGA: Inilah Wisata Batu Dinding yang Fenomenal Intip Sunrise

(TRIBUNKALTIM.CO/M WIKAN H)Puncak bukit objek wisata alam Batu Dinding di Desa Bukit Merdeka, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kuta Kartanegara, Kalimantan Timur. Objek wisata ini sangat asri dan sejuk, cocok dijadikan tempat menikmati mata hari terbit maupun terbenam. Lokasinya kurang lebih 55 kilometer dari Kota Balikpapan.

Pukul 02.00, pengunjung sudah berjejer di pundak bukit, batu karst yang sempit, tipis dan terjal seperti punggung kuda kurus tanpa pelana. Semakin pagi, puncak kiat padat, ramai dan berdesakan. Pergerakan orang seorang pun susah, saking sempitnya. Wajib hati-hati memang jika tidak ingin jatuh menggelinding ke tebing.    

Mereka semangat sekali. Lepas pukul 04.00, badan dan pandangan semakin fokus ke ufuk timur, menanti mentari muncul dari peraduan.

Waktu terus bergulir. Berkas sinar matahari pun semakin terang. Pukul 05.00, pukul 06.00, dan seterusnya, sayang bukan membawa kebahagiaan, melainkan kecewa yang membuncah. Ibarat gadis desa pemalu yang menutup wajah pakai sarung, matahari menyinar perlahan, tersaput kabut awan. Walaupun tak kecewa berat, setidaknya kurang memuaskan.

BACA JUGA: Pilot Menteri Dalam Negeri Terjang Kabut Asap


(TRIBUNKALTIM.CO/JUNISAH) - Meskipun jarak pandang di Bandara Juwata Tarakan sempat turun 4 kilometer, pesawat jet milik Susi Air yang membawa Gubenur Kaltim Awang Faroek tetap dapat landing di Bandara Juwata Tarakan, Kamis (10/9/2015).

Pesona pemandangan alam nan elok-hijau di Batu Dinding dan daerah lainnya di Kalimantan, hari-hari belakangan ini sulit didapat. Malah, tidak sekadar mengganggu kenyaman, sudah membahayakan.

Ketika hendak bepergian pun, kini harus hati-hati. Profesi sopir, motoris speedboat, nakhoda dan pilot sungguh riskan. Kemarin, Gubernur Kaltim dan Mendagri Tjahjo Kumolo terpaksa uji nyali di angkasa.

BACAJUGA: Kabut Asap Menyebar, Anak-anak pun Menderita ISPA

(TRIBUN KALTIM/JUNISAH) - Dinkes Kota Tarakan beberapa waktu lalu membagikan masker kepada warga Kota Tarakan saat kabut asap melanda Kota Tarakan.

Semua itu karena kepulan kabut asap. Kabut asap menerjang, dan menjadi musuh bersama. Presiden Joko Widodo setelah blusukan ke areal perusahaan di Sumatera, lalu memerintahkan penegak hukum untuk menindak para pemicu asap, yakni pelaku pembakaran hutan.

Ya. Kebakaran kerap dijaikan pelaku kejahatan kelas berat sebagai senjata pamungkas. Alat untuk pelengkap kesadisan, sekaligus mengelabui lawan, atau menyamarkan alibi.        

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved