Salam Tribun

Benteng Terakhir Kehidupan

KEMARAU tahun ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga setidaknya dua bulan mendatang.

Penulis: Amalia Husnul A | Editor: Amalia Husnul A
tribunkaltim.co/martinus wikan hendarman
Inilah kawasan karst di wilayah Berau yang masuk deretan Karst Sangkulirang-Mangkalihat. 

Kemarau tahun ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga setidaknya dua bulan mendatang. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Bandara Temindung, Samarinda, Sutriso memprediksi bulan Oktober nanti kabut asap akan mencapai puncaknya. Sedangkan awal musim hujan akan terjadi pada bulan November.

Kabut asap kini jadi ancaman. Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dan Utara (Kaltara) memang belum ditetapkan sebagai enam provinsi di Tanah Air yang berstatus Darurat Asap. Namun jumlah titik api (hotspot) di Kalimantan, naik menjadi 235 titik di pekan ini. Imbas asap dari provinsi tetangga dan juga potensi hotspot di Kaltim dan Kaltara sudah mulai mengganggu. Pelayaran ke hulu sungai Mahakam terganggu karena jarak pandang yang pendek. Belum lagi catatan penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang juga meningkat.

Asap semakin menyulitkan terbentuknya hujan, karena titik air yang seharusnya bisa membawa hujan diserap asap.
Selain asap, bahaya kekeringan juga mengintai. Meski meminta masyarakat untuk tenang, karena persediaan air di Waduk Manggar, Balikpapan yang jadi satu-satunya sumber air untuk PDAM Tirta Manggar masih cukup untuk empat bulan ke depan. Namun kiranya perlu juga masyarakat mengetahui langkah antisipasi apa yang telah dilakukan pemerintah pada saat musim kemarau panjang seperti ini.

BACA JUGA: Perlu Kehati-hatian Memanfaatkan Gamping di Ekosistem Karst

Sementara itu, sejak 16 Agustus lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar terus menyuplai air bersih ke Kecamatan Sebulu untuk mengatasi krisis air yang terjadi di sana akibat kemarau panjang.
Semuanya terjadi karena faktor alam. Bisa jadi memang demikian. Tapi, sudahkah selama ini kita bijak mengelola Bumi Etam yang kaya ini. Apakah seluruh kebijakan dan pengelolaan mempertimbangkan faktor alam bukan ekonomi semata? Apakah kita sudah siap ketika nanti kemarau panjang benar-benar terjadi, air sungai kering, pangan menipis? Sudahkah kita menjaga hutan yang menyimpan air?

Kalimantan Timur mempunyai karst Sangkulirang-Mangkalihat yang potensi utamanya sebagai pemasok ketersediaan air tanah/air bersih. Berdasarkan situs Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah XIII Samarinda, karst Sangkulirang-Mangkalihat juga menyimpan potensi sumber daya alam bernilai ekonomis, berupa sarang burung walet, potensi wisata alam, hasil hutan kayu maupun non-kayu, serta batuan mineral. Keanekaragaman hayatinya pun melimpah, diantaranya menjadi salah satu habitat penting orang utan dan beberapa fauna endemik lain, selain menjadi kawasan berpotensi penyerapan karbon yang cukup tinggi.

Ketersediaan karst ini juga menjadi incaran investor. Sudah ada beberapa investor yang antre bahkan ada yang sudah mendapatkan izin. Seharusnya, kawasan yang masih elok dan indah ini sebaiknya benar-benar dijaga. Bukan hanya sekadar jadi aturan di atas kertas.

BACA JUGA: 1,1 Juta Hektare Karst Kaltim Bakal Jadi Bahan Baku Semen

Toh, Pemprov Kaltim telah menerbitkan Peraturan Gubernur Kaltim Nomor 67/2012 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau. Telah diusulkan pula penetapan hutan desa seluas 11.000 hektare yang berada dalam lokasi bentang alam karst Desa Merabu Kecamatan Kelay Kabupaten Berau, di mana usulan tersebut telah diterima Kementerian Kehutanan dengan menetapkan Hutan Desa melalui SK Hutan Desa Nomor 28/Menhut-II/2014 tanggal 04 Maret 2014.

Semoga kita bisa menjaga karst Sangkulirang-Mangkalihat ini. Mengutip pernyataan Pindi Setiawan, Peneliti Karst dari Institut Teknologi Bandung (ITB), "Pengelolaan kawasan karst perlu kehati-hatian, karena karst suatu ekostistem, penghasil air. Kawasan karst menangkap karbon dua kali lipat dari hutan, baik karbon di tanah maupun di udara. Perusakan karst, akan terjadi pelepasan CO dan CO2."

Pindi juga mengatakan karst di Kaltim sangat unik di dunia. Dan bila kawasan ini hancur, akan terjadi perubahan iklim di Kaltim. Akan terjadi musim kering panjang, hingga mempengaruhi kehidupan. Karst adalah benteng terakhir kehidupan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved